Pohon yang Menolak Berbunga

- Editor

Sabtu, 12 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pohon itu berdiri seperti penyintas dalam dunia yang tak lagi mengenalnya.

Namanya tidak disebut di papan, hanya kodenya: DPX-07. Tapi bagi Rani, itu lebih dari sekadar nomor katalog. Ia adalah pohon yang terakhir dari jenisnya. Ditanam dari biji yang ditemukan dalam botol kaca berumur ratusan tahun, terselip di balik gua kapur saat ekspedisi hutan Kalimantan dua dekade silam.

Selama lima belas tahun, pohon itu tumbuh tinggi dan kokoh. Daunnya lebar dan gelap, batangnya keras dan berurat, kulitnya beraroma tajam seperti minyak kapur. Tapi selama itu juga, ia tidak pernah berbunga. Tidak sekali pun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pusat penelitian tempat Rani bekerja mulai kehilangan kesabaran. Mereka ingin hasil. Mereka ingin benih. Mereka ingin bukti bahwa konservasi tak sia-sia.

“Ini bukan hutan, Rani,” kata Pak Andri, supervisor-nya, dengan suara yang dingin namun tegas. “Ini laboratorium terbuka. Kalau tak bisa berbunga, kita tak bisa lanjutkan dana.”

Rani menggigit bibir. Ia tahu tekanan itu. Ia tahu makna “bunga” di sini bukan hanya soal reproduksi, tapi validasi. Validasi bahwa manusia telah berhasil menyelamatkan sesuatu.

Ia mulai mencoba berbagai cara: penyuntikan hormon, pemangkasan cabang, pengubahan siklus cahaya malam. Ia mencatat semua respon dengan teliti, mendirikan pagar perlindungan dari hama, bahkan memainkan suara burung-burung liar melalui pengeras suara untuk mensimulasikan habitat alami.

Pada suatu musim, muncullah kuncup kecil—lima buah.

Namun keesokan harinya, mereka layu. Dan setiap kali itu terjadi, Rani mencatat satu pola aneh: burung-burung kecil—seriti dan cabai jawa—selalu datang saat kuncup muncul, lalu menghilang saat kuncup gagal.

Begitu juga dengan serangga. Lebah hutan, kecil dan hitam, terbang di sekitarnya, lalu pergi. Seolah mereka tahu.

“Pohon ini menyimpan sesuatu,” bisik Rani pada dirinya sendiri. “Ia sedang membaca sekitarnya.”

Rekan-rekannya menertawakan. Tapi ia bersikeras. Ia mulai meneliti kadar senyawa alelopati, getah, suhu mikro di sekitar akar. Dan ia menemukan sesuatu yang mengganggu: sistem mikoriza aktif di bawah tanah. Ada sinyal—bahasa yang berjalan lewat jamur. Dan sinyal itu lemah, terputus-putus, seolah jaringan itu mencari… sesuatu yang hilang.

“Mungkin ia menunggu ekosistemnya kembali utuh,” gumam Rani.

Hari-hari berikutnya, ia mulai berbicara langsung kepada pohon.

“Maafkan kami yang memaksamu tumbuh di tanah yang sunyi. Kami hanya ingin kau bertahan. Tapi… mungkin caranya salah.”

Namun waktu habis. Dan pusat meminta bukti segera. Ia dipaksa menyuntikkan hormon terakhir—dosis tertinggi.

Musim itu, DPX-07 akhirnya berbunga.

Bunga-bunganya besar dan kuning pucat. Wangi. Rani menangis.

Namun pagi hari keempat, semua bunga gugur. Tak satu pun membuahkan bakal biji. Tanpa penyerbukan. Tanpa kehidupan.

Burung tidak datang. Serangga menghilang. Dan pohon itu berdiri kaku. Seperti dikosongkan.

“Kita memaksanya… tanpa memahami kehendaknya,” kata Rani pelan kepada dirinya sendiri.

Beberapa bulan kemudian, Rani mengajukan pengunduran diri. Ia membawa lima biji tersisa ke luar kawasan. Diam-diam, ia menanamnya di lembah kecil di pinggiran taman nasional yang masih liar, di mana suara burung masih terdengar dan kelembapan tanah belum disterilkan.

Ia tidak mengunjunginya selama bertahun-tahun. Ia membiarkan mereka tumbuh sendiri, tanpa sensor, tanpa pengukuran.

Enam tahun kemudian, ia kembali. Dengan tubuh lebih tua, langkah lebih lambat, tapi hati lebih ringan.

Tiga pohon tumbuh. Satu cukup tinggi. Dan saat ia mendekat, ia melihat burung kecil hinggap di rantingnya. Ada lebah yang sibuk di kelopak. Dan di pucuknya, tergantung satu bunga kecil.

Tanpa hormon. Tanpa tekanan.

Ia menyentuh batangnya pelan dan berbisik, “Kau memilih waktumu sendiri. Aku mengerti sekarang.”

Dan Rani tahu: itu adalah bentuk setia dari kesabaran ekologis. Sebuah keputusan alam untuk menunggu, bukan karena lemah, tapi karena tahu kapan harus hidup sepenuhnya.

Tepian Kali Cikumpa, pertengahan Juli yang basah di tahun 2025

Cerpen: Avicennia

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan
Cerpen: Hutan yang Menolak Mati
Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap
Cerpen: Pulau Kromosom
Teater Spora: Jamur yang Mengingat
Benih dari Masa Depan
Cerpen: Mata Rimba
Cerpen: Taman di Dalam Taman
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 13:23 WIB

Cerpen: Tarian Terakhir Merpati Hutan

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 12:10 WIB

Cerpen: Hutan yang Menolak Mati

Kamis, 16 Oktober 2025 - 10:46 WIB

Cerpen: Lagu dari Koloni Senyap

Selasa, 29 Juli 2025 - 17:00 WIB

Cerpen: Pulau Kromosom

Minggu, 27 Juli 2025 - 21:44 WIB

Teater Spora: Jamur yang Mengingat

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB