Home / Berita / Pohon Hasil Rekayasa Genetika Belum Bisa Dilepaskan di Alam Liar

Pohon Hasil Rekayasa Genetika Belum Bisa Dilepaskan di Alam Liar

Pemanfaatan tanaman transgenik pada tanaman pangan telah berlangsung di Amerika Serikat sejak tiga dekade terakhir. Produk tanaman dari rekayasa genetika itu menyuplai kebutuhan pangan manusia dari waktu ke waktu.

Pemanfaatan tanaman transgenik pada bidang pertanian ini masih terus dipikirkan kemungkinannya untuk penerapannya di hutan atau alam liar. Di Indonesia, sejak lebih dari 10 tahun lampau, uji coba skala laboratorium rekayasa genetika telah dilakukan tapi belum sampai uji di lapangan.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Petani menanam pohon jambu dan alpukat di lahan kritis kawasan hulu Sungai Citarum di Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, seluas lima hektar, Kamis (3/12/2018). Penanaman secara tumpang sari dengan tanaman semusim tersebut akan diterapkan pada 27 hektar lahan kritis dalam dua tahun ke depan.

Pemindahan teknologi secara ilmu pengetahuan tak memiliki banyak kendala. Namun masalah dampak lingkungan serta kekhawatiran lain serta peraturan jadi tantangan. Pertimbangan itu menjadi jalan berbatu bagi tanaman rekayasa genetika untuk dilepaskan ke alam liar.

Pada laman Nature.com, disebutkan ancaman perubahan iklim, serangan hama dan penyakit, mengancam keberadaan sejumlah spesies tanaman. Selain itu, kemajuan zaman yang berkorelasi pada perpindahan alat transportasi, manusia, dan barang menyebabkan penyebaran jenis tanaman maupun hewan invasif di ekosistem alam liar. Hal itu menjadi pertimbangan bagi peneliti untuk mulai memikirkan pemanfaatan tanaman transgenik pada hutan.

Menurut laporan US National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 8 Januari 2019, tantangan kini ada pada regulasi dan riset untuk memodifikasi pohon secara genetis. Namun potensi rekayasa genetika untuk meningkatkan kesehatan hutan menjanjikan untuk menjamin riset lebih lanjut.

“Sayangnya minat komersialisasi menghambat karya ilmiah pada pohon transgenik,” kata ahli genetika tanaman, Steven Strauss dari Oregon State University di Corvallis. Ia biasa bekerja sama dengan perusahaan untuk memantau pohon transgenik yang ia kembangkan di lapangan.
.
Sekarang, hanya sedikit perusahaan yang mengizinkannya menanam pohonnya di tanah mereka. Perusahaan khawatir penanaman itu membuat mereka kehilangan sertifikasi oleh organisasi termasuk Sustainable Forestry Initiative atau Prakarsa Kehutanan Berkelanjutan. Banyak konsumen utama, seperti toko bahan bangunan, tak akan membeli kayu tanpa sertifikasi itu, dimaksudkan untuk menunjukkan kayu itu dipanen secara bertanggung jawab. Namun beberapa organisasi tak akan mensertifikasi pertanian dengan pohon transgenik.

Laporan itu muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang kesehatan hutan menghadapi perubahan iklim dan hama invasif. Wabah penyakit dan infestasi jadi bagian normal kehidupan hutan. Akan tetapi perubahan iklim dan meningkatnya perdagangan internasional dan perjalanan memungkinkan hama dan penyakit non-asli menyusup ke hutan asli.

Departemen Pertanian AS (USDA) memperkirakan sekitar 7 persen hutan atau lahan dengan jumlah pohon yang signifikan di Amerika Serikat dapat kehilangan seperempat dari vegetasi mereka antara 2013 dan 2027 karena serangga dan penyakit.

Pemulia tanaman secara tradisional mengatasi masalah seperti itu dengan membiakkan stok baru dari pohon alami yang tahan penyakit. Tetapi beberapa peneliti sedang mengembangkan pohon transgenik yang membawa gen untuk membuatnya lebih toleran terhadap hama.

Penelitian di awal-awal dilakukan ahli genetika tanaman William Powell dari Universitas Negeri New York di Syracuse dan rekan-rekannya. Tim Powell saat itu mencoba mengembalikan tanaman kastanye Amerika (Castanea dentata), pohon megah dan kebanggaan yang pernah mendominasi hutan di Amerika Serikat bagian timur.

Pohon itu menjadi mangsa jamur kastanye invasif (Cryphonectria parasitica) invasif sekitar pergantian abad ke-20, dan kini hampir punah. Jamur mengeluarkan asam yang membunuh sel-sel tanaman.

Selama 40 tahun terakhir, tim Powell mentransfer gen dari gandum yang memungkinkan pohon kastanye mendetoksifikasi asam. Powell telah berkonsultasi dengan USDA, Badan Perlindungan Lingkungan AS dan Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS tentang kemungkinan melepaskan pohon-pohon tersebut ke lingkungan. “Bagi mereka ini hal baru dan itu membuatnya sedikit lebih menantang,” kata Powell.

Biaya dan manfaat
Laporan akademi menyoroti beberapa tantangan yang unik penerapan tanaman rekayasa genetika bagi hutan. Tidak seperti tanaman, yang biasanya dipanen setelah beberapa bulan, pohon rekayasa akan bertahan di lingkungan beberapa dekade serta memungkinkan berpindah antarnegara. Penulis laporan menyatakan beberapa pohon yang dimodifikasi bisa lolos dari peraturan sama sekali, seperti dilakukan beberapa tanaman rekayasa, karena kesenjangan dalam aturan untuk tanaman transgenik.

Tahun 2014, regulator di Brasil hampir menyetujui pohon kayu putih atau eukaliptus yang dirancang untuk tumbuh lebih cepat daripada tanaman aslinya. Menurut ahli genetika tanaman Dario Grattapaglia dari Embrapa, perusahaan riset milik negara di Brasíl, pohon yang dimodifikasi tumbuh 20 persen lebih cepat pada tes awal ini tak bertahan di lokasi lain di seluruh negeri. Itu ditambah prediksi kesulitan menjual kayu dari pohon-pohon seperti itu.

Grattapaglia juga skeptis tentang penggunaan pohon yang dimodifikasi secara genetis untuk memerangi penyakit arboreal. Perlawanan terhadap penyakit sering dikendalikan kontribusi ratusan atau bahkan ribuan gen. Itu terlalu banyak ditangani dengan memakai rekayasa genetika. Akan tetapi, Strauss berpendapat, para peneliti bisa menemukan beberapa gen dengan pengaruh besar dan luar biasa pada resistensi penyakit.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 10 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: