PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

- Editor

Rabu, 7 Februari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PT Industri Kereta Api (INKA) terus mengukir prestasi dalam tujuh tahun terakhir dengan fokus pada produksi kereta api berteknologi Smart Green.

Momentum transformasi ini, yang dimulai pada tahun 2016, terus berkembang hingga 2023. Produk terbaru PT INKA, seperti Kereta Rel Listrik (KRL) light rail transit di Sumatra Selatan, Trans Jawa Selatan, dan Jabodetabek, telah mengadopsi material aluminium carbodi.

Selama beberapa tahun terakhir, INKA juga memperkenalkan produk-produk kereta api canggih dengan teknologi terkini, termasuk kereta Metro dan LRT, yang sumber energinya berasal dari listrik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penggunaan kereta api listrik ini memastikan efisiensi energi yang lebih tinggi dibandingkan kereta konvensional yang menggunakan penggerak diesel, yang memiliki tingkat efisiensi energi umumnya hanya sekitar 30-35%, sedangkan kereta listrik mencapai 80-90%.

Meskipun pencapaian ini telah dianggap cukup cemerlang, PT INKA terus menggali inovasi terbaru di dunia transportasi kereta api.

Salah satu langkah terbarunya adalah pengembangan kereta api bertenaga hidrogen.

Penggunaan teknologi elektrifikasi dari INKA kombinasi hidrogen dan oksigen dalam operasional kereta ini tidak hanya menghasilkan emisi berupa air, tetapi juga memanfaatkan hidrogen yang dapat diproduksi dari bahan baku non fosil seperti air, biomassa, minyak kelapa sawit, limbah pertanian, dan limbah industri.

Kereta api hidrogen sendiri telah muncul sejak era 1970-an, dan saat ini baru beroperasi di dua negara, yaitu Jerman dengan Coradia Ain, dan CRRc Green Hybrid yang diluncurkan pada Juni 2023. Kereta ini memiliki kecepatan maksimal 160 km/jam, menjadikannya kereta hidrogen tercepat di dunia saat ini.

Dalam seriusnya PT INKA dalam mengadopsi teknologi hidrogen, perusahaan telah melakukan kunjungan ke Jerman sejak tahun 2019 untuk mempelajari cara kerja dan sistem yang ada pada kereta hidrogen.

Pada saat yang sama, pemerintah Indonesia juga menunjukkan minat dalam pembelian kereta api hidrogen dari Jerman, yang diwujudkan dalam penyerahan Memorandum of Understanding (MOU) di Berlin.

Selain Indonesia, beberapa negara lain seperti Austria, Inggris, Belanda, Denmark, Norwegia, Italia, dan Kanada juga tertarik untuk mengadopsi kereta hidrogen guna menggeser kereta bermesin konvensional.

Meski kereta api hidrogen masih dalam tahap pengembangan, PT INKA tidak berdiam diri. Pada 6 Oktober 2022, perusahaan bermitra dengan Institut Teknologi 10 November dan Pertamina untuk mengembangkan kereta dengan teknologi Cell atau hidrogen pengaman full.

Pengembangan teknologi ini melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk fisika, material dan metalurgi, kimia, dan lain-lain.

Sejumlah peneliti, termasuk dosen dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), terlibat dalam riset ini, yang hasilnya menciptakan kereta hibrid sebagai hasil penelitian.

Kereta api ini saat ini berfungsi sebagai kereta pelatihan atau kereta trainer Hybrid untuk Politeknik Negeri Madiun, dipelopori oleh Balai Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta beberapa perguruan tinggi, termasuk Institut Teknologi Bandung.

Keunikan dari kereta api ini adalah penggunaan empat jenis sistem penggerak yang berbeda, yaitu mesin diesel, listrik dari baterai, dan hidrogen.

Dengan spesifikasi beban kosong 40 ton, tinggi 3.800 mm, lebar 2.440 mm, dan panjang rangkaian 25,57 m, kereta ini menjadi sebuah inovasi yang menarik.

Meskipun kecepatan desain maksimalnya hanya sekitar 35 km/jam, dan 25 km/jam untuk kecepatan operasional, hal ini sejalan dengan fokus INKA pada sistem penggerak.

Keberhasilan perusahaan ini dalam penggerak diesel dan listrik sejak tahun 1987 membuktikan kemampuan INKA dalam menciptakan solusi transportasi inovatif.

Saat ini, tantangan terbesar adalah pengembangan sistem baterai dan hidrogen. INKA telah mengembangkan sistem baterai sejak tahun 2020, yang akan diaplikasikan pada TR dengan rencana pengoperasian di Bali.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga terkait di dalam negeri, serta kerja sama dengan perusahaan asing seperti Spekonic dari Singapura, menunjukkan komitmen PT INKA untuk terus mengembangkan teknologi sel bahan bakar hidrogen.

Spekonic, perusahaan teknologi berbasis di Singapura, berfokus pada pengembangan dan produksi teknologi sel bahan bakar hidrogen.

Peran Spekonic dalam proyek ini mencakup pengembangan sistem sel bahan bakar hidrogen 12 KW, melibatkan panel gas hidrogen, pengatur tekanan, dan converter penambah multitahap 600 volt.

Keberhasilan PT INKA dalam menguasai teknologi kereta api hidrogen membuka peluang untuk pengembangan lebih lanjut, meningkatkan efisiensi, dan meningkatkan kecepatan operasional.

Dengan aspek ekonomis yang mendukung, kereta hidrogen diharapkan dapat menjadi alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan dalam sektor transportasi di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, INKA terus menjadi pionir dalam inovasi transportasi, mendorong kemajuan sektor perkeretaapian di Indonesia.

Suri Kartika

Sumber: timenews.co.id, Kamis, 28 Desember 2023

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB