Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

- Editor

Rabu, 24 April 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mampu mengantongi paten, tentunya menjadi prestasi yang membanggakan. Inilah yang dilakukan Alihsan Rahmawati. alumnus sarjana terapan prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi (SV) Undip.

Alihsan memperoleh tiga paten granted atas temuannya berupa kulit jeruk nipis penghancur kanker dan tumor. Inovasi yang dilakukan Alihsan bersama dengan dosen pembimbing penelitiannya yang sekaligus merupakan Ketua Prodi TRKI, Mohamad Endy Julianto, ST, MT ini mengundang ketertarikan banyak industri.

Paten granted adalah capaian tertinggi dari bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Dikutip dari Universitas Negeri Medan, capaian ini didapat dari penghargaan angka kredit tertinggi yang diberikan dari pedoman operasional penilaian angka kredit (PO-PAK).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Capaiannya tersebut tidak terlepas berkat kesabaran serta dukungan dan arahan dari dosen pembimbingnya,” ujarnya, dikutip dari Undip pada Senin, (22/4/2024).

Alihsan Rahmawati, alumnus sarjana terapan Undip dengan 3 paten. Foto: Alihsan Rahmawati via Undip

Tiga paten Alihsan di antaranya berjudul “Metode Pembuatan Hesperidin dari Kulit Jeruk Nipis melalui Ekstraksi Termokimia Gelombang Mikro” (Paten no IDS000007235)”, “Proses Ekstraksi Linamarin dari Daun Singkong Menggunakan Ekstraktor Inaktivasi Enzimatis” (Paten no IDS000006687), dan “Pemisahan Theaflavin dari Teh dengan menggunakan Membran Ultrafiltrasi” (Paten No IDS000005812).

Terinspirasi Kekayaan Alam Indonesia
Alihsan bercerita, penelitiannya yang berjudul “Ekstraksi Senyawa Aktif Hesperidin dari Kulit Jeruk Nipis (Citrus Auratifolia S) Sebagai Imunomodulator Menggunakan Metode Microwave Assisted Extraction” diarahkan oleh Pak Endy untuk didaftarkan ke paten sederhana. Tema tersebut dinilai sangat prospektif untuk komersialisasi ke industri, setelah melihat data-data hasil penelitian yang didapat dari laboratorium.

Ketertarikan Alihsan melakukan penelitian didapat dari kesadaran kekayaan Indonesia akan sumber daya alam hayati. Maka dari itu dibutuhkan pengembangan potensi bahan alam yang bisa digunakan pada berbagai industri. Salah satunya dimanfaatkan dalam mengembangkan obat-obatan baru lantaran bahan alam tersebut mengandung senyawa aktif berkhasiat seperti jeruk nipis.

“Selama ini jeruk nipis hanya dikonsumsi buahnya sebagai bahan tambahan masakan dan minuman saja. Belum terdapat pemanfaatan kulit jeruk nipis padahal kulit jeruk nipis mengandung senyawa aktif berupa hesperidin yang bermanfaat sebagai imunomodulator,” ungkapnya.

Hesperidin berpotensi sebagai imunomodulator atau peningkatan imunitas pada tubuh manusia karena mampu menangkap radikal bebas hasil metabolisme agen kemoterapi doxorubicin serta mencegah penurunan sistem imun yang bisa menyebabkan berbagai macam infeksi.

Senyawa tersebut juga mampu mengikat sel inang pada virus, sehingga dapat menjadi senyawa alami untuk mencegah beta-corona virus (SARS-CoV-2) yang menyebabkan COVID-19. Hesperidin juga berperan sebagai agen kemopreventif karsinogenesis yang menghambat proliferasi sel kanker dan tumorigenesis.

Ekstraksi hesperidin menggunakan gelombang mikro dinilai lebih efisien lantaran adanya radiasi gelombang mikro pada molekul umpan dan pelarut, sehingga akan menyerap energi elektromagnetik yang disebut sebagai dielectric heating.

“Sedangkan molekul yang dipanaskan bersifat electric dipole menyebabkan molekul akan mengalami pergerakan dan terjadi fenomena konduksi ionik yang mampu meningkatkan transfer massa dan panas dengan penggunaan pelarut non polar,” jelas Alihsan.

“Akibatnya hasil ekstraksi senyawa hesperidin dapat mencapai kondisi operasi terbaik dengan hasil yang maksimal, imbuhnya.

Riset Dilanjutkan Adik Tingkat
Penelitian Alihsan saat ini masih dilanjutkan adik tingkatnya di SV Undip. Bahkan sudah ada rintisan kerja sama dengan industri farmasi untuk membuat obat herbal nano hesperidin menjadi obat berbentuk kapsul.

“Semoga ke depannya produk ini bisa komersialisasi, sehingga hasil riset bermanfaat untuk masyarakat khususnya orang-orang yang berjuang untuk sembuh dari penyakit,” ujarnya.

Novia Aisyah

Sumber: detikEdu, Senin, 22 Apr 2024

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 136 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB