“Mereka menyebutku binatang kecil. Tapi aku tahu: yang kecil bukan berarti tak punya dunia.”
Namaku Amela. Di padang sabana yang sepi ini, aku tak dihitung. Aku bukan burung yang berkicau merdu, bukan harimau yang mendebar di dada. Aku hanya seekor dusky wallaby betina—ibunda dari banyak sunyi.
Tapi malam itu, aku mengandung kehidupan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam rahimku, diam-diam tumbuh sesuatu. Tak sebesar buah mangga, bahkan lebih kecil dari jari tangan manusia. Tapi ia bergerak. Meraba-raba dinding perutku, seolah bertanya, “Bunda, bolehkah aku lahir ke dunia?”
Aku diam saja. Bukan karena tak cinta, tapi karena tahu: dunia ini telah berubah. Semak makin sempit, suara manusia lebih sering daripada desir angin, dan bau asap lebih tajam dari aroma tanah basah.
Namun, seperti semua ibu, aku percaya pada harapan. Maka aku melahirkan dia.
Kelahiran dalam Kegelapan
Ia datang saat senja terakhir bulan Agustus. Tanpa suara, tanpa tangis. Hanya gerakan lembut dari tubuh mungil seukuran biji kacang. Matanya masih tertutup, kulitnya belum berambut. Tapi hatinya—aku percaya—sudah mengenal arah.
Dengan susah payah ia merangkak, menapak pelan di rambut perutku. Tanpa petunjuk, tanpa tangan penolong. Ia menyusuri tubuhku seperti pelaut menembus kabut. Dan akhirnya, ia temukan kantungku. Tempat ia tinggal selama hampir tujuh bulan.
Aku memberinya nama: Dusky. Karena ia datang saat langit memudar, dan karena ia akan belajar hidup dalam bayang-bayang—tanpa kehilangan cahaya.
Anak Malam, Pewaris Senyap
Dusky tumbuh seperti malam yang pelan. Ia tak banyak bertanya, tapi matanya selalu gelisah. Tiap kali aku membawanya menjejak padang rumput, ia mengamati bintang-bintang. Katanya, “Bunda, apakah mereka juga pernah takut kehilangan langit?”
Aku tersenyum. Anak ini memang bukan hanya tubuh mungil, tapi jiwa penuh tanya.
Dia cepat belajar. Dari mana angin datang, bagaimana membaca jejak elang, kapan harus diam, dan kapan melompat. Tubuhnya kecil, tapi kakinya kuat. Ia menari di rerumputan dengan keberanian yang tak kumiliki dulu.
Ketika malam terlalu sunyi, ia menepuk tanah dengan kakinya—tanda untukku, bahwa ia masih di sana. Seperti anak manusia mengetuk pintu kamar ibunya hanya untuk bilang, “Aku tak tidur, hanya tak ingin sendiri.”
Petaka di Ujung Semak
Tapi hari-hari damai tak selamanya panjang.
Hutan mulai ditebang. Dulu suara kami bersahut di lembah, kini gema mesin membelah tanah. Aku kehilangan teman—ada yang diburu, ada yang menghilang begitu saja.
Aku mencoba membawa Dusky lebih jauh ke dalam, ke semak yang belum tercemar. Tapi aku tahu, kami bukan pelari tanpa batas. Kami adalah penghuni—dan penghuni akan kehilangan rumahnya ketika pagar dan jalan mulai dipancang.
Keputusan Seorang Ibu
Dusky tumbuh, keluar dari kantung. Ia mandiri, sudah bisa menjelajah sendiri. Tapi setiap ia pulang, ia selalu mengendus perutku. Seperti mencari jejak dirinya yang dulu.
Lalu datanglah musim kawin. Ia pergi mencari pasangan. Tubuhnya lebih tegap dari sebelumnya, dan matanya menyala—campuran keberanian dan keraguan.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku pergi sendiri ke arah lain, ke zona konservasi yang dijanjikan aman. Di sana, aku bisa melahirkan lagi, mungkin untuk terakhir kalinya.
Penutup: Senandung yang Tak Usai
Aku bukan siapa-siapa dalam buku manusia. Tak ada riwayat tentangku di museum, tak ada nama bagiku di tugu peringatan. Tapi aku punya cerita—tentang seorang ibu yang menyambut hidup dari kegelapan, menyimpan anaknya dalam kantung, dan akhirnya melepaskannya kepada dunia yang tak sepenuhnya bersahabat.
Aku adalah wallaby. Aku Amela. Dan Dusky, anakku, adalah jejak kecil yang akan terus memantul di padang-padang Papua, selama bintang masih menyala, dan malam masih setia.
Karena bagi kami, hutan bukan hanya rumah—tapi bahasa cinta yang tak selalu bisa diterjemahkan.
















