Dusky: Senandung Ibu dari Sabana Papua

- Editor

Rabu, 9 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Mereka menyebutku binatang kecil. Tapi aku tahu: yang kecil bukan berarti tak punya dunia.”

Namaku Amela. Di padang sabana yang sepi ini, aku tak dihitung. Aku bukan burung yang berkicau merdu, bukan harimau yang mendebar di dada. Aku hanya seekor dusky wallaby betina—ibunda dari banyak sunyi.

Tapi malam itu, aku mengandung kehidupan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam rahimku, diam-diam tumbuh sesuatu. Tak sebesar buah mangga, bahkan lebih kecil dari jari tangan manusia. Tapi ia bergerak. Meraba-raba dinding perutku, seolah bertanya, “Bunda, bolehkah aku lahir ke dunia?”

Aku diam saja. Bukan karena tak cinta, tapi karena tahu: dunia ini telah berubah. Semak makin sempit, suara manusia lebih sering daripada desir angin, dan bau asap lebih tajam dari aroma tanah basah.

Namun, seperti semua ibu, aku percaya pada harapan. Maka aku melahirkan dia.

Kelahiran dalam Kegelapan

Ia datang saat senja terakhir bulan Agustus. Tanpa suara, tanpa tangis. Hanya gerakan lembut dari tubuh mungil seukuran biji kacang. Matanya masih tertutup, kulitnya belum berambut. Tapi hatinya—aku percaya—sudah mengenal arah.

Dengan susah payah ia merangkak, menapak pelan di rambut perutku. Tanpa petunjuk, tanpa tangan penolong. Ia menyusuri tubuhku seperti pelaut menembus kabut. Dan akhirnya, ia temukan kantungku. Tempat ia tinggal selama hampir tujuh bulan.

Aku memberinya nama: Dusky. Karena ia datang saat langit memudar, dan karena ia akan belajar hidup dalam bayang-bayang—tanpa kehilangan cahaya.

Anak Malam, Pewaris Senyap

Dusky tumbuh seperti malam yang pelan. Ia tak banyak bertanya, tapi matanya selalu gelisah. Tiap kali aku membawanya menjejak padang rumput, ia mengamati bintang-bintang. Katanya, “Bunda, apakah mereka juga pernah takut kehilangan langit?”

Aku tersenyum. Anak ini memang bukan hanya tubuh mungil, tapi jiwa penuh tanya.

Dia cepat belajar. Dari mana angin datang, bagaimana membaca jejak elang, kapan harus diam, dan kapan melompat. Tubuhnya kecil, tapi kakinya kuat. Ia menari di rerumputan dengan keberanian yang tak kumiliki dulu.

Ketika malam terlalu sunyi, ia menepuk tanah dengan kakinya—tanda untukku, bahwa ia masih di sana. Seperti anak manusia mengetuk pintu kamar ibunya hanya untuk bilang, “Aku tak tidur, hanya tak ingin sendiri.”

Petaka di Ujung Semak

Tapi hari-hari damai tak selamanya panjang.

Hutan mulai ditebang. Dulu suara kami bersahut di lembah, kini gema mesin membelah tanah. Aku kehilangan teman—ada yang diburu, ada yang menghilang begitu saja.

Aku mencoba membawa Dusky lebih jauh ke dalam, ke semak yang belum tercemar. Tapi aku tahu, kami bukan pelari tanpa batas. Kami adalah penghuni—dan penghuni akan kehilangan rumahnya ketika pagar dan jalan mulai dipancang.

Keputusan Seorang Ibu

Dusky tumbuh, keluar dari kantung. Ia mandiri, sudah bisa menjelajah sendiri. Tapi setiap ia pulang, ia selalu mengendus perutku. Seperti mencari jejak dirinya yang dulu.

Lalu datanglah musim kawin. Ia pergi mencari pasangan. Tubuhnya lebih tegap dari sebelumnya, dan matanya menyala—campuran keberanian dan keraguan.

Aku menatapnya lama.

Lalu aku pergi sendiri ke arah lain, ke zona konservasi yang dijanjikan aman. Di sana, aku bisa melahirkan lagi, mungkin untuk terakhir kalinya.

Penutup: Senandung yang Tak Usai

Aku bukan siapa-siapa dalam buku manusia. Tak ada riwayat tentangku di museum, tak ada nama bagiku di tugu peringatan. Tapi aku punya cerita—tentang seorang ibu yang menyambut hidup dari kegelapan, menyimpan anaknya dalam kantung, dan akhirnya melepaskannya kepada dunia yang tak sepenuhnya bersahabat.

Aku adalah wallaby. Aku Amela. Dan Dusky, anakku, adalah jejak kecil yang akan terus memantul di padang-padang Papua, selama bintang masih menyala, dan malam masih setia.

Karena bagi kami, hutan bukan hanya rumah—tapi bahasa cinta yang tak selalu bisa diterjemahkan.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Berita ini 44 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB