Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

- Editor

Minggu, 10 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketika Geodesi dan Geologi Menjadi Penentu Masa Depan Indonesia

Di sebuah lereng bekas tambang di Kalimantan Timur, seorang mahasiswa berdiri sambil menatap layar GPS presisi tinggi. Di tangannya tergambar titik-titik koordinat yang menentukan batas lahan dan kontur tanah. Tidak jauh dari tempat itu, mahasiswa lain memukul batuan dengan palu geologi, mencoba membaca sejarah bumi yang tersimpan jutaan tahun di balik lapisan sedimen.

Keduanya sama-sama mempelajari bumi. Namun cara mereka memahami bumi ternyata berbeda.

Yang satu berbicara tentang posisi, koordinat, dan bentuk permukaan. Yang lain berbicara tentang batuan, patahan, dan cerita panjang pembentukan alam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di dunia keteknikan, dua bidang ilmu itu dikenal sebagai geodesi dan geologi. Nama keduanya sering terdengar mirip bagi masyarakat umum. Padahal keduanya memiliki semesta berpikir yang berbeda, meski pada akhirnya sering bertemu dalam proyek-proyek besar pembangunan Indonesia.

Geodesi adalah ilmu yang membuat manusia mampu mengetahui letak sesuatu secara presisi. Dari jalan tol, bendungan, rel kereta, pelabuhan, hingga pembangunan Ibu Kota Nusantara, semua membutuhkan pengukuran yang akurat. Tanpa itu, pembangunan bisa meleset bahkan sebelum pondasi pertama dibuat.

Di balik peta digital yang hari ini muncul di layar ponsel, ada kerja panjang ilmu geodesi. Bidang ini berkembang dari kebutuhan manusia untuk memahami bentuk bumi dan menentukan posisi di atasnya. Karena itu dunia geodesi sangat dekat dengan satelit, GPS, drone, lidar, fotogrametri, hingga sistem informasi geografis.

Para insinyur geodesi bekerja seperti mata bagi pembangunan. Mereka memastikan di mana sesuatu berada dan bagaimana permukaan bumi berubah dari waktu ke waktu.

Sementara itu geologi bergerak lebih dalam. Ilmu ini tidak hanya melihat permukaan bumi, tetapi mencoba memahami isi dan dinamika di bawahnya. Geologi mempelajari batuan, mineral, gunung api, patahan, gempa bumi, fosil, hingga sejarah panjang pembentukan bumi yang berlangsung jutaan tahun.

Kalau geodesi bertanya di mana bumi berubah, maka geologi bertanya mengapa bumi berubah.

Dalam proyek pembangunan, ahli geologi menentukan apakah tanah cukup stabil untuk menopang gedung, apakah ada sesar aktif di bawah kawasan tertentu, atau apakah daerah itu rawan longsor dan likuefaksi. Mereka juga membantu menemukan sumber daya alam seperti batu bara, minyak bumi, gas, hingga panas bumi.

Karena itu kedua ilmu ini sering berjalan berdampingan.

Saat bendungan dibangun misalnya, ahli geodesi memetakan wilayah dan memantau perubahan permukaan tanah secara presisi. Sementara ahli geologi memeriksa kekuatan batuan dan kondisi bawah tanah agar bendungan tidak berdiri di atas wilayah berbahaya.

Hubungan keduanya menjadi semakin penting di Indonesia yang hidup di atas cincin api dunia. Negara ini terus membangun di tengah ancaman gempa, longsor, banjir, dan perubahan iklim. Maka membaca bumi tidak lagi cukup hanya dari atas atau dari bawah. Keduanya harus dipahami sekaligus.

Tidak heran jika banyak perguruan tinggi besar di Indonesia menjadikan geodesi dan geologi sebagai bagian penting dalam rumpun ilmu kebumian.

Institut Teknologi Bandung menjadi salah satu pusat pendidikan ilmu kebumian tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Di kampus ini, geodesi, geologi, meteorologi, dan oseanografi berada dalam satu rumpun besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana bumi bekerja sebagai sistem yang saling terhubung.

Sementara Universitas Gadjah Mada dikenal kuat dalam pendekatan lapangan dan kebencanaan. Kampus ini memiliki tradisi panjang dalam pengembangan teknik geodesi dan geologi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat serta pembangunan wilayah.

Di Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan geomatika modern yang sangat dekat dengan teknologi digital, pemetaan satelit, dan sistem geospasial masa depan.

Namun perkembangan ilmu kebumian Indonesia hari ini tidak hanya berpusat di Jawa.

Di Kalimantan Timur, Universitas Mulawarman justru sedang berada di tengah perubahan besar yang mungkin akan menentukan arah baru pendidikan kebumian nasional.

Kampus ini berdiri di wilayah yang selama puluhan tahun hidup dari pertambangan batu bara, migas, dan eksploitasi sumber daya alam. Kini wilayah itu juga menjadi tetangga langsung Ibu Kota Nusantara.

Situasi ini membuat ilmu geologi dan geospasial di Kalimantan Timur terasa sangat nyata. Mahasiswa tidak hanya mempelajari batuan dari laboratorium atau membaca kontur tanah dari layar komputer. Mereka langsung melihat bagaimana tambang mengubah bentang alam, bagaimana sungai mengalami sedimentasi, bagaimana hutan dibuka, dan bagaimana kota baru dibangun di tengah lanskap tropis yang rapuh.

Kalimantan Timur seolah menjadi laboratorium raksasa tempat ilmu teknik bertemu dengan persoalan lingkungan dan masa depan peradaban.

Di sana, pertanyaan tentang bumi tidak lagi berhenti pada urusan teknologi. Ia berubah menjadi pertanyaan sosial dan moral.

Bagaimana pembangunan dilakukan tanpa menghancurkan hutan
Bagaimana reklamasi tambang benar-benar dipulihkan
Bagaimana masyarakat adat tetap memiliki ruang hidup
Dan bagaimana IKN dibangun tanpa mengulang krisis ekologis kota-kota lama

Di titik itulah geodesi dan geologi menjadi lebih dari sekadar ilmu teknik. Keduanya berubah menjadi cara manusia memahami hubungan antara pembangunan dan bumi yang menopangnya.

Mungkin karena itu para mahasiswa kebumian sering memiliki hubungan emosional yang berbeda dengan alam. Mereka terbiasa melihat bumi bukan hanya sebagai tanah yang dipijak, melainkan arsip kehidupan yang terus bergerak dan berubah.

Seorang ahli geodesi membaca bumi melalui koordinat yang nyaris tak terlihat mata manusia. Seorang ahli geologi membaca bumi melalui retakan batu yang terbentuk jutaan tahun lalu.

Namun keduanya sebenarnya sedang mempelajari hal yang sama. Mereka sama-sama mencoba memahami rumah besar bernama bumi sebelum manusia mengubahnya terlalu jauh.

Informasi terkait

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB