Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

- Editor

Rabu, 27 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Universitas Indonesia (UI) kembali menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan sains modern dan nilai keagamaan. Dalam Kajian Dzuhur yang digelar di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI, pakar matematika komputasi memaparkan potensi besar pemanfaatan Data Science dan Artificial Intelligence (AI) yang diintegrasikan dengan Al-Qur’an demi kemaslahatan umat Islam di masa depan.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa data science—yang lahir dari perkawinan antara ilmu matematika dan ilmu komputer—memiliki peran krusial dalam mengolah data mentah menjadi informasi bermanfaat. Ketika algoritma seperti machine learning dan deep learning diterapkan, komputer dapat dilatih untuk belajar secara mandiri hingga mampu mengambil keputusan layaknya manusia. Sistem otomatis inilah yang melahirkan teknologi AI.

Namun, narasumber mengingatkan bahwa AI sejatinya bagai pisau bermata dua yang bisa membawa manfaat atau justru membahayakan, tergantung di tangan siapa teknologi tersebut berada. Di sinilah urgensi peran umat Islam untuk memberikan panduan etika yang bersumber dari Al-Qur’an agar pemanfaatan AI tetap berada pada jalur kemaslahatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, kajian ini menyoroti berbagai potensi besar pengembangan AI yang berbasis pada literatur Islam. Salah satu gagasan menarik yang dilemparkan adalah pengembangan “MUI GPT” atau “Halal GPT“. Inovasi ini ditujukan untuk membantu umat menyaring informasi keagamaan, melacak fatwa sahih, hingga mendeteksi kandungan produk halal secara instan menggunakan teknologi Natural Language Processing (NLP) dan Large Language Models (LLM). Tidak hanya itu, AI juga diproyeksikan dapat membantu masyarakat dalam belajar tahsin lewat pengenalan suara (voice recognition).

Kendati memiliki potensi yang luar biasa, tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia saat ini adalah keterbatasan infrastruktur pendukung, khususnya ketiadaan fasilitas High-Performance Computing (HPC) skala nasional untuk melatih model-model AI berukuran besar.

Menariknya, kajian ini ditutup dengan sebuah analogi unik mengenai metode menghafal Al-Qur’an. Pembicara menjelaskan bahwa konsep kerja deep learning—yang memotong-motong data menjadi bagian kecil lalu mengulangnya (epoch) hingga komputer mengenali fitur secara detail—ternyata sangat efektif jika diadopsi oleh manusia. Dengan memotong ayat menjadi beberapa bagian kecil dan mengulangnya secara konsisten, proses menghafal Al-Qur’an terbukti bisa berjalan jauh lebih cepat.

Informasi terkait

Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Berita Terbaru

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB