Universitas Indonesia (UI) kembali menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan sains modern dan nilai keagamaan. Dalam Kajian Dzuhur yang digelar di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI, pakar matematika komputasi memaparkan potensi besar pemanfaatan Data Science dan Artificial Intelligence (AI) yang diintegrasikan dengan Al-Qur’an demi kemaslahatan umat Islam di masa depan.
Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa data science—yang lahir dari perkawinan antara ilmu matematika dan ilmu komputer—memiliki peran krusial dalam mengolah data mentah menjadi informasi bermanfaat. Ketika algoritma seperti machine learning dan deep learning diterapkan, komputer dapat dilatih untuk belajar secara mandiri hingga mampu mengambil keputusan layaknya manusia. Sistem otomatis inilah yang melahirkan teknologi AI.
Namun, narasumber mengingatkan bahwa AI sejatinya bagai pisau bermata dua yang bisa membawa manfaat atau justru membahayakan, tergantung di tangan siapa teknologi tersebut berada. Di sinilah urgensi peran umat Islam untuk memberikan panduan etika yang bersumber dari Al-Qur’an agar pemanfaatan AI tetap berada pada jalur kemaslahatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, kajian ini menyoroti berbagai potensi besar pengembangan AI yang berbasis pada literatur Islam. Salah satu gagasan menarik yang dilemparkan adalah pengembangan “MUI GPT” atau “Halal GPT“. Inovasi ini ditujukan untuk membantu umat menyaring informasi keagamaan, melacak fatwa sahih, hingga mendeteksi kandungan produk halal secara instan menggunakan teknologi Natural Language Processing (NLP) dan Large Language Models (LLM). Tidak hanya itu, AI juga diproyeksikan dapat membantu masyarakat dalam belajar tahsin lewat pengenalan suara (voice recognition).
Kendati memiliki potensi yang luar biasa, tantangan besar yang masih dihadapi Indonesia saat ini adalah keterbatasan infrastruktur pendukung, khususnya ketiadaan fasilitas High-Performance Computing (HPC) skala nasional untuk melatih model-model AI berukuran besar.
Menariknya, kajian ini ditutup dengan sebuah analogi unik mengenai metode menghafal Al-Qur’an. Pembicara menjelaskan bahwa konsep kerja deep learning—yang memotong-motong data menjadi bagian kecil lalu mengulangnya (epoch) hingga komputer mengenali fitur secara detail—ternyata sangat efektif jika diadopsi oleh manusia. Dengan memotong ayat menjadi beberapa bagian kecil dan mengulangnya secara konsisten, proses menghafal Al-Qur’an terbukti bisa berjalan jauh lebih cepat.
















