Bagi generasi yang tumbuh di wilayah perdesaan, gemerlap lampu kecil yang menari-nari di kegelapan malam adalah salah satu memori indah yang sulit dilupakan. Sayangnya, pemandangan magis tersebut kini perlahan lenyap dan menyisakan ruang gelap yang sunyi di malam hari. Kelangkaan kunang-kunang di alam bebas belakangan ini ramai dibicarakan di media sosial oleh masyarakat yang merindukan kehadirannya. Fenomena ini bukan sekadar hilangnya romantisasi masa lalu, melainkan sebuah sinyal bahaya yang nyata bagi kelestarian lingkungan hidup kita.
Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi selaku pakar entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University menjelaskan bahwa serangga dari famili Lampyridae ini memegang peran krusial sebagai bioindikator alami. Kehadiran makhluk kecil ini menjadi cerminan langsung dari kualitas udara, air, dan tanah di suatu wilayah. Ketika sebuah ekosistem mulai tercemar atau mengalami penurunan mutu, kunang-kunang akan menjadi salah satu makhluk hidup pertama yang populasinya merosot tajam lalu menghilang dari kawasan tersebut.
Ancaman Nyata untuk Ekosistem Lahan Basah
Hilangnya kerlip cahaya malam ini ternyata merupakan krisis keanekaragaman hayati yang terjadi dalam skala global. Data terkini dari International Union for Conservation of Nature mengungkapkan bahwa sekitar seperlima spesies kunang-kunang di dunia kini berada dalam kondisi terancam punah. Spesies ikonik di Asia Tenggara, terutama yang mendiami kawasan mangrove di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, bahkan telah masuk dalam kategori rentan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Faktor utama dari kehancuran ini adalah masifnya alih fungsi lahan hijau dan kawasan rawa menjadi area permukiman serta kawasan industri. Larva kunang-kunang sangat bergantung pada tanah yang gembur dan lembap untuk tumbuh, sehingga proyek pembangunan dan semenisasi saluran air otomatis memutus siklus hidup mereka sebelum sempat berkembang menjadi serangga dewasa. Selain keindahan visualnya, kunang-kunang pada fase larva sebenarnya adalah predator alami yang sangat rakus karena mereka memangsa berbagai jenis siput dan keong yang sering menjadi hama bagi para petani.
Kala Lampu Kota Merenggut Kesempatan Kawin
Selain kehilangan rumah tinggal, ancaman fatal lainnya justru datang dari gemerlap lampu perkotaan yang dikenal sebagai polusi cahaya malam hari. Berbagai penelitian dari jurnal ilmiah terbuka seperti BioScience dan Royal Society Open Science memaparkan bahwa penggunaan lampu modern seperti LED luar ruangan mengacaukan sistem komunikasi visual kunang-kunang.
Serangga ini menggunakan ritme kedipan cahaya bioluminesensi dalam tubuh mereka untuk saling menemukan pasangan di kegelapan malam. Ketika lingkungan malam hari berubah menjadi terlalu benderang akibat paparan cahaya buatan, kunang-kunang jantan kehilangan kemampuan untuk mendeteksi sinyal dari kunang-kunang betina, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan reproduksi massal secara beruntun.
Menjaga Kerlip Terakhir di Pekarangan Kita
Sebelum lentera terbang ini benar-benar hanya dapat dilihat oleh generasi masa depan melalui buku sejarah atau dokumenter digital, tindakan nyata harus segera dilakukan dari lingkungan terdekat kita. Upaya pelestarian ini dapat dimulai dengan langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan lampu taman yang terlalu terang pada malam hari saat tidak diperlukan.
Selain itu, kita juga bisa menyisakan sebagian halaman rumah tetap berupa tanah terbuka tanpa lapisan semen, serta membatasi penggunaan pestisida kimia di area pekarangan rumah. Menjaga kelestarian habitat kunang-kunang pada dasarnya adalah upaya bersama untuk memastikan bahwa kualitas lingkungan yang kita tinggali bersama masih berada dalam kondisi yang sehat, aman, dan seimbang.
Catatan Sumber dan Acuan Jurnal Terbuka
- IPB University (2026). Rilis Ilmiah Kepakaran mengenai Alarm Menurunnya Kualitas Lingkungan melalui Kelangkaan Kunang-Kunang.
- Lewis, S. M., et al. (2020). A Global Perspective on Firefly Extinction Threats. Jurnal BioScience, Oxford Academic.
- Owens, A. C. S., et al. (2022). Light Pollution Disrupts Courtship Signaling in Fireflies. Jurnal Royal Society Open Science.
















