Padamnya Lentera Malam

- Editor

Kamis, 25 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bagi generasi yang tumbuh di wilayah perdesaan, gemerlap lampu kecil yang menari-nari di kegelapan malam adalah salah satu memori indah yang sulit dilupakan. Sayangnya, pemandangan magis tersebut kini perlahan lenyap dan menyisakan ruang gelap yang sunyi di malam hari. Kelangkaan kunang-kunang di alam bebas belakangan ini ramai dibicarakan di media sosial oleh masyarakat yang merindukan kehadirannya. Fenomena ini bukan sekadar hilangnya romantisasi masa lalu, melainkan sebuah sinyal bahaya yang nyata bagi kelestarian lingkungan hidup kita.

Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi selaku pakar entomologi dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University menjelaskan bahwa serangga dari famili Lampyridae ini memegang peran krusial sebagai bioindikator alami. Kehadiran makhluk kecil ini menjadi cerminan langsung dari kualitas udara, air, dan tanah di suatu wilayah. Ketika sebuah ekosistem mulai tercemar atau mengalami penurunan mutu, kunang-kunang akan menjadi salah satu makhluk hidup pertama yang populasinya merosot tajam lalu menghilang dari kawasan tersebut.

Ancaman Nyata untuk Ekosistem Lahan Basah

Hilangnya kerlip cahaya malam ini ternyata merupakan krisis keanekaragaman hayati yang terjadi dalam skala global. Data terkini dari International Union for Conservation of Nature mengungkapkan bahwa sekitar seperlima spesies kunang-kunang di dunia kini berada dalam kondisi terancam punah. Spesies ikonik di Asia Tenggara, terutama yang mendiami kawasan mangrove di Indonesia, Malaysia, dan Thailand, bahkan telah masuk dalam kategori rentan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Faktor utama dari kehancuran ini adalah masifnya alih fungsi lahan hijau dan kawasan rawa menjadi area permukiman serta kawasan industri. Larva kunang-kunang sangat bergantung pada tanah yang gembur dan lembap untuk tumbuh, sehingga proyek pembangunan dan semenisasi saluran air otomatis memutus siklus hidup mereka sebelum sempat berkembang menjadi serangga dewasa. Selain keindahan visualnya, kunang-kunang pada fase larva sebenarnya adalah predator alami yang sangat rakus karena mereka memangsa berbagai jenis siput dan keong yang sering menjadi hama bagi para petani.

Kala Lampu Kota Merenggut Kesempatan Kawin

Selain kehilangan rumah tinggal, ancaman fatal lainnya justru datang dari gemerlap lampu perkotaan yang dikenal sebagai polusi cahaya malam hari. Berbagai penelitian dari jurnal ilmiah terbuka seperti BioScience dan Royal Society Open Science memaparkan bahwa penggunaan lampu modern seperti LED luar ruangan mengacaukan sistem komunikasi visual kunang-kunang.

Serangga ini menggunakan ritme kedipan cahaya bioluminesensi dalam tubuh mereka untuk saling menemukan pasangan di kegelapan malam. Ketika lingkungan malam hari berubah menjadi terlalu benderang akibat paparan cahaya buatan, kunang-kunang jantan kehilangan kemampuan untuk mendeteksi sinyal dari kunang-kunang betina, yang pada akhirnya berujung pada kegagalan reproduksi massal secara beruntun.

Menjaga Kerlip Terakhir di Pekarangan Kita

Sebelum lentera terbang ini benar-benar hanya dapat dilihat oleh generasi masa depan melalui buku sejarah atau dokumenter digital, tindakan nyata harus segera dilakukan dari lingkungan terdekat kita. Upaya pelestarian ini dapat dimulai dengan langkah sederhana, seperti mengurangi penggunaan lampu taman yang terlalu terang pada malam hari saat tidak diperlukan.

Selain itu, kita juga bisa menyisakan sebagian halaman rumah tetap berupa tanah terbuka tanpa lapisan semen, serta membatasi penggunaan pestisida kimia di area pekarangan rumah. Menjaga kelestarian habitat kunang-kunang pada dasarnya adalah upaya bersama untuk memastikan bahwa kualitas lingkungan yang kita tinggali bersama masih berada dalam kondisi yang sehat, aman, dan seimbang.

Catatan Sumber dan Acuan Jurnal Terbuka

  • IPB University (2026). Rilis Ilmiah Kepakaran mengenai Alarm Menurunnya Kualitas Lingkungan melalui Kelangkaan Kunang-Kunang.
  • Lewis, S. M., et al. (2020). A Global Perspective on Firefly Extinction Threats. Jurnal BioScience, Oxford Academic.
  • Owens, A. C. S., et al. (2022). Light Pollution Disrupts Courtship Signaling in Fireflies. Jurnal Royal Society Open Science.

Informasi terkait

Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:27 WIB

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Berita Terbaru

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB

Artikel

Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:27 WIB