Di alam semesta, bintang lahir, bersinar selama jutaan hingga miliaran tahun, lalu akhirnya mati. Namun kematian sebuah bintang ternyata tidak selalu berakhir dengan cara yang sama. Ada bintang yang berubah menjadi katai putih, ada yang menjadi bintang neutron, dan ada pula yang runtuh menjadi lubang hitam. Salah satu faktor yang menentukan nasib akhir tersebut adalah sebuah konsep yang dikenal sebagai Limit Chandrasekhar.
Meskipun terdengar rumit, gagasan di balik konsep ini sebenarnya cukup mudah dipahami.
Ketika Bintang Kehabisan Energi
Selama hidupnya, bintang menghasilkan energi melalui reaksi nuklir di bagian intinya. Energi ini menciptakan tekanan yang mendorong ke luar dan menyeimbangkan tarikan gravitasi yang selalu berusaha menarik seluruh materi bintang ke pusatnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama kedua gaya ini seimbang, bintang tetap stabil.
Namun suatu saat bahan bakar nuklir akan habis. Ketika itu terjadi, tekanan yang mendorong ke luar melemah. Gravitasi mulai mendominasi dan bintang pun mulai menyusut.
Bagi bintang yang massanya tidak terlalu besar, proses penyusutan ini menghasilkan sebuah objek yang disebut katai putih.
Elektron Menjadi Penyangga Terakhir
Mengapa katai putih tidak terus runtuh?
Jawabannya terletak pada sifat aneh dunia kuantum. Di dalam katai putih terdapat elektron yang sangat padat. Elektron-elektron ini tidak dapat dipaksa menempati keadaan yang sama secara bersamaan. Akibatnya muncul tekanan yang menahan keruntuhan lebih lanjut.
Tekanan ini dikenal sebagai tekanan degenerasi elektron.
Untuk membayangkannya, bayangkan sebuah ruangan yang dipenuhi orang hingga tidak ada ruang kosong sedikit pun. Ketika semakin banyak orang dipaksa masuk, mereka akan saling mendorong karena tidak ada lagi tempat yang tersedia. Elektron melakukan hal yang mirip, meskipun mekanismenya berasal dari hukum mekanika kuantum.
Tekanan inilah yang menjaga katai putih tetap stabil.
Ada Batas Kemampuan Elektron
Pada tahun 1930-an, seorang astrofisikawan muda bernama Subrahmanyan Chandrasekhar melakukan perhitungan yang mengubah pemahaman manusia tentang evolusi bintang.
Ia menemukan bahwa tekanan degenerasi elektron tidak dapat menopang massa yang tidak terbatas.
Ada batas maksimum yang masih bisa ditahan.
Batas tersebut sekitar 1,4 kali massa Matahari dan kemudian dikenal sebagai Limit Chandrasekhar.
Dengan kata lain, jika sebuah katai putih memiliki massa di bawah angka tersebut, tekanan elektron masih mampu melawan gravitasi. Namun jika massanya melebihi batas itu, gravitasi akan menang.
Analogi Tumpukan Kardus
Cara sederhana untuk memahami konsep ini adalah dengan membayangkan tumpukan kardus kosong.
Beberapa kardus pertama dapat menopang beban dengan baik. Ketika jumlahnya semakin banyak, kardus di bagian bawah mulai tertekan. Jika beban terus ditambah, suatu saat kardus paling bawah akan penyok dan akhirnya hancur.
Tekanan degenerasi elektron dapat diibaratkan sebagai kekuatan kardus tersebut.
Selama beban belum melampaui batas tertentu, struktur masih dapat bertahan. Tetapi ketika batas itu terlampaui, keruntuhan menjadi tidak terhindarkan.
Saat Gravitasi Menang
Jika massa inti bintang melampaui Limit Chandrasekhar, elektron tidak lagi mampu menopang berat seluruh bintang.
Dalam kondisi ekstrem itu, elektron dan proton dipaksa bergabung membentuk neutron. Proses ini dikenal sebagai penangkapan elektron (electron capture) dan dapat dituliskan sebagai:
p+e??n+?
yang berarti sebuah proton () dan elektron ()
bergabung membentuk neutron () sambil melepaskan partikel sangat ringan yang disebut neutrino ().
Akibatnya terbentuk objek baru yang disebut bintang neutron.
Bintang neutron merupakan salah satu benda paling padat di alam semesta. Satu sendok teh materi bintang neutron dapat memiliki massa miliaran ton jika dibawa ke Bumi.
Mengapa Angkanya Sekitar 1,4 Massa Matahari
Semakin besar massa katai putih, semakin kuat gravitasi yang menekannya. Akibatnya elektron bergerak semakin cepat.
Pada akhirnya kecepatan elektron mendekati kecepatan cahaya. Ketika kondisi ini tercapai, kemampuan elektron untuk memberikan tekanan tambahan tidak lagi cukup cepat meningkat guna melawan gravitasi yang terus bertambah kuat.
Di titik inilah muncul batas alami sekitar 1,4 massa Matahari.
Angka tersebut bukan hasil kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari hukum mekanika kuantum dan teori relativitas.
Penemuan yang Mengubah Astronomi
Saat pertama kali mengemukakan gagasannya, Chandrasekhar menghadapi banyak keraguan dari kalangan ilmuwan. Namun seiring berkembangnya observasi astronomi, perhitungannya terbukti benar.
Limit Chandrasekhar kini menjadi salah satu landasan penting astrofisika modern. Konsep ini membantu para ilmuwan memahami bagaimana bintang berakhir, bagaimana bintang neutron terbentuk, dan mengapa lubang hitam dapat muncul di alam semesta.
Pada akhirnya, Limit Chandrasekhar bukan sekadar angka 1,4 massa Matahari. Ia adalah garis batas kosmik yang menentukan apakah sebuah bintang mati dengan tenang sebagai katai putih, terlahir kembali sebagai bintang neutron, atau menghilang ke dalam kegelapan sebuah lubang hitam.
















