Selama ini sering kali muncul pandangan bahwa agama dan sains adalah dua kutub yang saling bertolak belakang. Agama dianggap hanya bicara soal dogma dan akhirat sedangkan sains melulu membahas data empiris dan rumus matematika. Namun dalam sebuah ceramah ilmiah Mimbar Subuh, Sabtu, 1 April 2023 di Masjid Kampus UGM, Prof. Drs. Agus Purwanto, M.Si., M.Sc., D.Sc. berhasil mengikis sekat tersebut dengan mengupas tuntas keterkaitan erat antara ayat-ayat Al-Qur’an dan realitas alam semesta.
Al-Qur’an ternyata menaruh perhatian yang luar biasa besar pada struktur jagat raya. Kata “langit” tercatat muncul sebanyak 310 kali dalam 297 ayat yang berbeda, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak yang merujuk pada tujuh lapis langit. Isyarat-isyarat puitis ini bukan sekadar pemanis teks suci, melainkan sebuah undangan terbuka bagi umat manusia untuk berpikir dan meneliti.
Menantang Doktrin Sains Klasik
Salah satu poin paling menggelitik yang disampaikan oleh Prof. Agus adalah kritiknya terhadap doktrin materi yang diajarkan sejak bangku sekolah menengah. Kita tentu akrab dengan prinsip materialisme ilmiah yang menyatakan bahwa materi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara tidak sadar, prinsip fisika klasik Newton ini sebenarnya menabrak fondasi keimanan kita. Jika materi bersifat abadi dan tidak bisa diciptakan, maka secara akademis kita sedang menolak eksistensi Allah sebagai Sang Pencipta (Rukun Iman pertama). Begitu pula jika materi tidak bisa dimusnahkan, secara diam-diam kita meragukan kedatangan hari akhir atau kiamat (Rukun Iman kelima).
Jika umat Muslim hanya menelan mentah-mentah hukum fisika klasik ini, secara ilmiah kita bisa terjebak dalam pemikiran ateis yang merasa tidak membutuhkan peran Tuhan dalam penciptaan alam.
Penyelamatan Iman Melalui Fisika Modern
Untungnya, kebuntuan iman tersebut diselamatkan oleh perkembangan fisika modern. Kehadiran teori anti-materi yang dicetuskan oleh fisikawan Paul Dirac membuka mata dunia bahwa alam semesta ini sangat mungkin diciptakan dari ketiadaan.
Ketika perintah Kun Fayakun bergema dan dentuman besar (Big Bang) terjadi, materi dan anti-materi tercipta dalam jumlah yang asimetris. Keberadaan materi yang lebih banyak daripada anti-materi inilah yang menyusun planet, bintang, dan tubuh kita saat ini. Penemuan sains modern ini justru sejalan dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasangan dan berawal dari ketiadaan.
Menjelajah Jagat Raya Bersama Teleskop Canggih
Kini misteri langit yang dulu hanya bisa dibaca lewat teks suci mulai menampakkan wujudnya. Berkat kecanggihan teknologi seperti Teleskop Hubble dan James Webb, manusia bisa menyaksikan bahwa alam semesta tidaklah statis melainkan terus meluas (expanding universe). Isyarat ini sebenarnya sudah tertulis jelas dalam Al-Qur’an jauh sebelum teleskop bernilai miliaran dolar tersebut diciptakan.
Tidak hanya itu, fenomena ruang angkasa yang melengkung, keberadaan lubang hitam (black hole), hingga teori mengenai alam semesta paralel (parallel universe) kini bukan lagi fiksi ilmiah. Al-Qur’an telah menyediakan dalil-dalil kuat yang tinggal menunggu keseriusan manusia untuk mengkajinya lebih dalam.
Menjadi Ulul Albab yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, tujuan utama membedah sains melalui kacamata Al-Qur’an bukanlah untuk sekadar mencocok-cocokkan ayat. Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk terus menggunakan akalnya melalui proses berpikir yang dinamis.
Sesuai dengan Surah Ali ‘Imran ayat 190-191, mereka yang mengamati penciptaan langit, bumi, dan silih bergantinya siang dan malam adalah kaum Ulul Albab (orang-orang yang berakal). Melalui sains, seorang Muslim diharapkan sampai pada sebuah kesimpulan spiritual yang menggetarkan jiwa bahwa tidak ada satu pun yang diciptakan Allah di jagat raya ini dengan sia-sia.
















