Nidhal Guessoum, Lelaki yang Menatap Langit, Tanpa Meninggalkan Iman

- Editor

Kamis, 22 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Langit selalu menjadi tempat yang aman bagi pertanyaan. Ia tidak pernah menuntut jawaban cepat, tidak pula memaksa kesimpulan. Langit hanya menunggu siapa yang cukup sabar untuk menatapnya lebih lama. Di sanalah Nidhal Guessoum menemukan rumahnya.

Ia lahir di Aljazair pada awal dekade enam puluhan, di sebuah rumah yang tidak mengajarkan kepatuhan tanpa nalar. Ayahnya seorang profesor filsafat yang menghafal Al Quran dengan tenang, bukan sebagai slogan, tetapi sebagai napas hidup. Ibunya mengajarkan sastra Arab, menjaga kata agar tetap hidup dan tidak kering oleh dogma. Di rumah itu, kitab suci dan buku filsafat tidak saling berhadap hadapan sebagai musuh. Mereka duduk berdampingan, saling menunggu untuk dibaca.

Sejak kecil Guessoum belajar bahwa iman bukan sesuatu yang rapuh. Ia tidak pecah hanya karena disentuh pertanyaan. Ia justru tumbuh karena keberanian untuk bertanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia tumbuh di antara dua bahasa dan dua tradisi. Arab yang mengajarkannya keindahan makna, Prancis yang membiasakannya berpikir sistematis. Barangkali dari sini pula ia memahami bahwa kebenaran sering kali tidak hadir dalam satu wajah. Ia bisa datang sebagai ayat, bisa juga sebagai persamaan matematis.

Nidhal Guessoum menatap langit dengan ketenangan seorang ilmuwan dan keyakinan seorang Muslim. Ia percaya, semesta terlalu luas untuk dipersempit oleh ketakutan. Foto oleh Hazan Moh01, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Ketika fisika memanggilnya, itu bukan bentuk pembangkangan terhadap agama. Ia tidak pernah merasa sedang meninggalkan Tuhan ketika mempelajari alam. Ia justru ingin tahu bagaimana semesta bekerja, bagaimana hukum hukum kosmik berjalan tanpa perlu diawasi setiap saat. Ia memilih fisika teoretis, lalu melangkah jauh ke Amerika Serikat. Di University of California San Diego, ia menghabiskan hari hari panjang dengan angka, grafik, dan persamaan yang dingin. Ia meneliti reaksi nuklir di plasma astrofisika, wilayah ekstrem yang hanya bisa disentuh oleh matematika dan imajinasi ilmiah.

Di NASA Goddard Space Flight Center, Guessoum membaca langit dengan cara yang sama sekali baru. Tidak ada doa yang diucapkan sebelum menyalakan instrumen. Tidak ada tafsir yang dibuka untuk membaca data. Yang ada hanyalah sinar gamma, ledakan kosmik, dan kesunyian semesta yang jauh dari romantisme.

Namun justru di sana, di jantung rasionalitas modern, ia mulai gelisah.

Ia menyadari bahwa dunia Muslim yang membesarkannya semakin jauh dari sains. Bukan karena kekurangan iman, tetapi karena ketakutan. Ketakutan bahwa sains akan meruntuhkan keyakinan. Ketakutan bahwa bertanya terlalu jauh akan membuat seseorang tersesat. Guessoum melihat generasi muda yang dipaksa memilih antara menjadi religius atau rasional, seolah keduanya tidak bisa hidup bersama.

Ia tidak marah. Ia lebih banyak diam dan berpikir. Kegelisahannya bukan nostalgia tentang masa lalu Islam yang gemilang, melainkan kecemasan tentang masa depan. Ia melihat bahwa masalah utama bukan terletak pada Al Quran atau sains modern, tetapi pada cara umat memahami keduanya secara tergesa gesa.

Guessoum pulang ke dunia Arab sebagai ilmuwan, bukan sebagai penyelamat. Ia mengajar di Aljazair, Kuwait, lalu menetap di American University of Sharjah. Di ruang kelas, ia mengajarkan fisika. Di luar kelas, ia membuka percakapan yang lebih luas. Tentang iman yang tidak panik. Tentang akal yang tidak arogan.

Ia mulai menulis dengan bahasa yang sengaja dibumikan. Ia berbicara tentang Big Bang, kosmologi, dan evolusi tanpa nada menantang. Ia tidak mencoba memaksakan Al Quran agar berbicara dengan bahasa laboratorium. Ia juga tidak memaksa sains untuk tunduk pada tafsir literal.

Dalam buku Islam’s Quantum Question, Guessoum melakukan sesuatu yang jarang dilakukan. Ia menolak jalan pintas. Ia menolak kebiasaan mencari pembenaran ilmiah instan di setiap ayat. Baginya, menjadikan Al Quran sebagai buku fisika justru merendahkan kedudukannya. Ia juga menolak sikap defensif yang menganggap sains modern sebagai ancaman Barat yang harus dijauhi.

Guessoum memilih jalur yang lebih sunyi dan lebih berat. Ia mengajak umat Islam untuk dewasa secara intelektual. Ia mengatakan bahwa Al Quran adalah kitab petunjuk, bukan ensiklopedia alam. Bahwa sains bekerja dengan kemungkinan salah dan koreksi terus menerus. Dan bahwa iman tidak perlu takut pada proses.

Ketika membahas evolusi, ia tidak berteriak. Ia tidak mengeluarkan fatwa. Ia menjelaskan dengan nada seorang guru yang sabar. Ia mengatakan bahwa evolusi adalah teori ilmiah yang kuat. Bahwa penciptaan tidak harus instan untuk tetap ilahi. Bahwa Tuhan tidak kehilangan kuasa hanya karena alam semesta bekerja melalui hukum hukum yang konsisten.

Sikap ini membuatnya diserang dari berbagai arah. Ia dituduh terlalu liberal oleh sebagian kalangan, terlalu religius oleh yang lain. Guessoum tidak tampak tergesa membela diri. Ia percaya bahwa iman yang matang tidak panik ketika berhadapan dengan pengetahuan baru.

Selain kosmologi dan filsafat sains, Guessoum juga mengerjakan hal hal yang sangat membumi. Ia menulis tentang kalender hijriyah, penentuan hilal, waktu salat di lintang tinggi. Ia menunjukkan bahwa sains bukan lawan agama, melainkan alat yang bisa memperjelas praktik keimanan.

Dalam banyak forum internasional, Guessoum hadir sebagai ilmuwan. Di hadapan masyarakat Muslim, ia hadir sebagai sesama pencari. Ia tidak menawarkan solusi instan, apalagi slogan. Ia menawarkan cara berpikir yang jujur, rendah hati, dan terbuka pada kompleksitas.

Mungkin Guessoum tidak akan dikenang sebagai penemu hukum fisika baru. Tetapi ia layak dikenang sebagai penjahit luka lama antara iman dan akal. Di dunia yang gemar memecah, ia memilih menjembatani. Di tengah kebisingan klaim kebenaran, ia memilih kesunyian refleksi.

Ia menatap langit tanpa rasa takut. Ia tidak merasa Tuhan terancam oleh teleskop. Baginya, cahaya bintang justru memperluas makna keimanan. Alam semesta terlalu luas untuk dipersempit oleh ketakutan manusia sendiri.

Dan mungkin, di sanalah pelajaran terpenting dari Nidhal Guessoum. Bahwa menjadi ilmuwan Muslim bukan soal identitas, melainkan keberanian untuk jujur pada pertanyaan, setia pada metode, dan tetap rendah hati di hadapan misteri semesta.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu
Casandra Tania; Perempuan Peneliti Hiu Paus
Berita ini 7 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 10:52 WIB

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Januari 2026 - 10:32 WIB

Nidhal Guessoum, Lelaki yang Menatap Langit, Tanpa Meninggalkan Iman

Senin, 26 Agustus 2013 - 06:50 WIB

Casandra Tania; Perempuan Peneliti Hiu Paus

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB