Ada satu masa ketika manusia ingin merasa aman.
Aman dari keraguan. Aman dari pertanyaan. Aman dari kemungkinan bahwa imannya tidak sejalan dengan dunia modern.
Di masa itu, kitab suci dibuka berdampingan dengan mikroskop. Ayat-ayat dibaca sambil menunggu konfirmasi. Seolah wahyu harus menyerupai jurnal ilmiah agar layak dipercaya.
Di situlah persoalan bermula.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ayat-ayat tentang penciptaan manusia yang sejak berabad-abad dibaca sebagai kisah makna perlahan diperlakukan seperti teka-teki biologi. Kata ‘alaqah dicari-cari padanannya dalam embriologi. Mudghah dipaksa menyesuaikan diri dengan istilah medis mutakhir. Bahasa wahyu diminta berbicara seperti laporan laboratorium.
Maurice Bucaille hadir dengan niat yang tidak bisa disebut buruk. Ia ingin menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan dengan sains. Ia ingin meredakan kegelisahan umat beragama yang merasa tertinggal oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Dan harus diakui, upaya itu memberi rasa percaya diri. Banyak orang merasa imannya akhirnya punya sandaran modern.
Namun niat baik tidak selalu melahirkan cara yang tepat.

Ketika kebenaran wahyu digantungkan pada kesesuaian ilmiah, wahyu kehilangan ruang geraknya. Ia tidak lagi dibaca sebagai sumber makna, melainkan sebagai objek pembuktian. Padahal sains sendiri tidak pernah diam. Ia bergerak, berubah, membantah dirinya sendiri.
Fazlur Rahman, salah satu pemikir Islam paling berpengaruh di abad ke-20, sejak lama mengingatkan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan untuk menjelaskan cara kerja alam secara teknis. Wahyu, menurutnya, berbicara tentang alam dan manusia untuk membentuk pandangan hidup, bukan untuk memberikan data ilmiah. Bahasa yang dipakai Al-Qur’an adalah bahasa pengalaman manusia, bahasa yang bisa dipahami oleh masyarakat lintas zaman.
Ayat penciptaan manusia, dalam kerangka ini, bukan laporan tentang sel dan jaringan. Ia adalah ajakan untuk merenung tentang asal-usul dan posisi manusia di dunia. Ketika ayat-ayat itu dipaksa menjadi buku biologi tersembunyi, pesan moralnya justru mengecil.
Hal serupa berulang kali diingatkan Nurcholish Madjid. Bagi Cak Nur, agama tidak membutuhkan pembenaran ilmiah agar tetap sahih. Iman yang matang tidak tumbuh dari ketakutan terhadap sains, melainkan dari kesadaran bahwa agama dan sains bergerak di medan yang berbeda. Menjadikan sains sebagai hakim atas wahyu, kata Cak Nur, justru membuat iman bergantung pada sesuatu yang sementara.
Sains hari ini bisa direvisi esok hari. Jika iman disandarkan pada teori, maka iman ikut goyah bersama runtuhnya teori itu.
Ketika Al-Qur’an menyebut manusia diciptakan dari tanah, ia tidak sedang menyampaikan fakta kimia. Ia sedang berbicara tentang makna. Tanah adalah simbol kerendahan, kefanaan, dan keterikatan manusia pada bumi. Pesannya sederhana sekaligus tajam. Setinggi apa pun manusia membangun peradaban, asal-usulnya tetap sesuatu yang diinjak dan dilupakan.
Ayat penciptaan bukan tentang bagaimana tubuh terbentuk, melainkan tentang bagaimana manusia seharusnya memandang dirinya sendiri.
Menariknya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang ruh, ia justru berhenti. Tidak ada penjelasan rinci. Tidak ada uraian teknis. Seolah wahyu sedang berkata bahwa ada batas yang tidak perlu dilampaui oleh pengetahuan manusia.
Fazlur Rahman membaca bagian ini sebagai penegasan batas kesadaran. Tidak semua hal diserahkan kepada pengukuran dan eksperimen. Ada wilayah yang hanya bisa disentuh oleh makna dan tanggung jawab moral. Ruh bukan objek sains, melainkan pengingat bahwa manusia lebih dari sekadar tubuh biologis.
Di titik ini, wahyu dan sains tidak perlu dipertandingkan. Sains membantu manusia memahami bagaimana ia terbentuk. Wahyu mengajarkan untuk apa ia hidup.
Bucailleisme lahir dari kegelisahan yang manusiawi. Kegelisahan bahwa iman akan kalah jika tidak dibuktikan secara ilmiah. Namun seperti pernah diingatkan Cak Nur, iman tidak hidup dari bukti, melainkan dari pemahaman. Ia tidak menunggu verifikasi laboratorium, sebagaimana cinta tidak membutuhkan rumus fisika untuk menjadi nyata.
Mungkin kita tidak perlu membuktikan bahwa Al-Qur’an itu ilmiah.
Mungkin kita hanya perlu membacanya dengan lebih jujur.
Dan membiarkan ayat-ayatnya bekerja pelan-pelan, mengingatkan bahwa kita berasal dari tanah, hidup di antara tanah, dan suatu hari akan kembali menjadi bagian darinya.
















