Di saat rata-rata lulusan magister menyelesaikan studinya pada usia hampir kepala tiga, Muhammad Rizky Perwira Zain justru sudah memindahkan tali toganya di usia yang sangat belia: 22 tahun, 2 bulan, dan 8 hari. Nama “Kiki” resmi tercatat sebagai lulusan termuda dalam Wisuda Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode III Tahun Akademik 2025/2026, Rabu (22/4).
Pencapaian ini bukanlah sebuah kebetulan yang jatuh dari langit. Di balik senyumnya saat wisuda, tersimpan cerita tentang keberanian mengambil risiko dan manajemen waktu yang nyaris tanpa celah.
Keputusan Besar di Persimpangan Jalan
Semua bermula di semester enam. Saat rekan-rekan sejawatnya bersiap menempuh pendidikan profesi dokter (koas), Kiki justru memilih jalan yang berbeda. Melalui program Block Elective yang ia ikuti sejak bangku sarjana di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, ia melihat peluang untuk melakukan akselerasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, keputusan itu sempat memicu diskusi panjang di meja makan keluarganya. Kiki harus memilih: langsung koas atau menunda satu tahun demi mengejar gelar magister terlebih dahulu.
“Ini keputusan besar bagi saya karena harus menunda waktu koas selama setahun untuk menjalani S2 dulu,” kenangnya. Dengan restu keluarga, ia akhirnya memantapkan langkah mengambil studi Magister Kesehatan Masyarakat.
Menembus Batas Lelah
Menjalani dua beban akademik sekaligus bukanlah perkara mudah. Ada masa di mana Kiki harus berjibaku menyelesaikan skripsi S1 di saat yang sama ia harus duduk di ruang kuliah S2 yang jadwalnya sangat padat. Ritme belajarnya pun berubah menjadi sangat intens, jauh melampaui rekan-rekannya.
Tak berhenti di situ, jiwa sosialnya tetap menuntut ruang. Di tengah tumpukan tugas dan riset, ia tetap aktif di Tim Bantuan Medis (TBM), sebuah organisasi yang membutuhkan komitmen fisik dan energi ekstra.
Puncak tantangan terasa saat ia memasuki semester kedua magister. Kiki harus terjun langsung ke lapangan sembari menyusun rancangan awal tesisnya. Rasa lelah yang luar biasa sempat menghampiri, namun kedisiplinan menjadi jangkar yang menjaganya tetap tegak.
Lebih dari Sekadar Kecerdasan
Bagi Kiki, kunci keberhasilannya bukan semata-mata soal kecerdasan intelektual. Ia percaya pada filosofi ketekunan. “Yang penting itu tekun, disiplin, telaten, dan sabar,” tuturnya.
Baginya, kerja keras atau ikhtiar maksimal harus berjalan beriringan dengan aspek spiritual. Doa orang tua dan kesabaran dalam menghadapi setiap proses adalah bahan bakar yang membuatnya mampu melampaui standar usia lulusan magister periode ini, yang rata-rata berada di angka 29 tahun 6 bulan.
Kini, dengan gelar S2 di tangan pada usia yang masih sangat muda, Kiki telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka, namun keberanian untuk memilih jalur yang berbeda adalah kunci untuk mencatatkan sejarah pribadi yang luar biasa.
















