Ilham tidak pernah tahu seperti apa warna biru. Atau merah. Atau cahaya itu sendiri. Tapi ia bisa mendengarnya. Atau, lebih tepatnya, merasakannya.
Sejak kecil, ia hidup dalam gelap. Lahir prematur, retina matanya tak berkembang sempurna. Tapi itu tak membuatnya buta akan dunia. Ia mengembangkan bahasa sendiri untuk menavigasi semesta: dengan tekanan air, getaran kecil, dan gelombang suara yang bagi manusia lain nyaris tak terdengar. Mungkin itu sebabnya ia menjadi ahli kelautan. Laut adalah dunia yang meraba dan diraba.
Tahun 2038, Ilham ditugaskan memimpin proyek penelitian di stasiun bawah laut di kedalaman 300 meter di Laut Banda. Namanya: Banda Biolume Station. Tujuan utamanya: mempelajari makhluk-makhluk laut dalam yang memiliki kemampuan bioluminesensi, termasuk spesies ubur-ubur baru yang belum diklasifikasikan. Organisme ini ditemukan tahun sebelumnya oleh kapal riset Jepang dan diyakini menyimpan potensi dalam bioteknologi cahaya dan komunikasi bawah laut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari-hari pertama berjalan seperti biasa. Penuh rutinitas: pengambilan sampel, pengamatan pola cahaya, dan rekaman perilaku harian spesies. Ilham lebih banyak diam, berdiri di depan dinding kaca besar yang menghadap koloni ubur-ubur di luar stasiun. Di sanalah ia mengamati—dengan cara yang berbeda dari semua ilmuwan lain.
“Apa kau tidur berdiri?” tanya Lara, mahasiswi magang dari sebuah kampus fakultas biologi di Jakarta. Baru dua hari tiba, gadis itu heran melihat Ilham berdiri tanpa bergerak selama lebih dari setengah jam.
“Aku sedang mendengarkan,” jawab Ilham. “Mereka sedang mengucapkan sesuatu.”
Lara tertawa kecil. “Mereka? Maksudnya ubur-ubur itu?”
Ilham mengangguk.
“Tapi mereka tidak punya suara.”
“Bukan suara. Cahaya. Kau tahu tubuh manusia bisa merasakan fluktuasi cahaya ekstrem dalam bentuk panas, tapi kadang… dalam diam pun, cahaya bisa disentuh.”
Lara menatap pria itu dengan ekspresi bingung.
Seminggu berlalu. Sistem komputer stasiun mulai mengumpulkan data bioluminesensi ubur-ubur yang tampak acak. Namun Ilham melihat pola. Ada pengulangan kilatan. Ada jeda. Ada irama.
Ia mulai mencatat dengan metode yang tak biasa—dengan suara. Ia merekam getaran cahaya ke dalam bentuk bunyi melalui alat konversi gelombang, dan menyadari bahwa ubur-ubur itu merespons suara tertentu dengan kilatan berbeda. Ketika ia mengetuk kaca dengan irama sederhana, satu atau dua ubur-ubur menyala sebagai respons. Ketika ia mengubah frekuensi ketukan, pola mereka pun berubah.
Ilham percaya ia berada di ambang penemuan besar: sebuah bentuk komunikasi biologis lintas spesies yang belum pernah ada sebelumnya.
Namun, bagi para koleganya, itu terdengar seperti halusinasi.
“Kita di sini untuk studi pola bioluminesensi, bukan untuk membaca puisi cahaya,” kata dr. Guntur, kepala teknisi. “Ini stasiun riset, bukan ruang spiritual.”
Lara membela, meskipun setengah hati. “Tapi data memang menunjukkan respons berbeda saat frekuensi suara diubah.”
“Itu bisa jadi kebetulan. Ubur-ubur tak punya otak. Mereka bereaksi, bukan berpikir.”
Ilham tahu ia tak bisa membantah semua itu secara logis. Tapi ia yakin. Dan keyakinan itu menguat ketika malam datang lebih cepat dari biasanya.
Malam ke-11. Angin di permukaan mengamuk. Gelombang tinggi menyebabkan gangguan energi dari platform utama di atas. Listrik padam sejenak. Ketika kembali menyala, sistem komunikasi dengan permukaan hilang. Hanya ada mereka di kedalaman 300 meter. Terisolasi.
“Cadangan oksigen kita hanya cukup untuk 48 jam,” kata Kapten Risma, koordinator operasi.
Namun bukan itu yang mengganggu Ilham. Di luar kaca, koloni ubur-ubur menyala aneh. Bukan seperti sebelumnya. Mereka bergerak cepat, berpencar, lalu berkumpul dalam formasi spiral. Cahayanya berubah—bukan hanya terang, tapi gelisah. Panik. Seperti peringatan.
Ilham berdiri dan menempelkan telapak ke kaca. Listrik statis menjalar ke kulitnya. Ia bisa merasakannya. Pola cahaya itu menyampaikan pesan.
“Bahaya mendekat,” katanya pelan.
“Apa maksudmu?” tanya Lara, mendekat.
“Sistem reaktor akan gagal. Air pendingin utama macet. Tapi ubur-ubur itu menunjukkan jalur air baru di dasar kawah barat. Jika kita ubah sirkulasi ke sana, mungkin sistem bisa stabil.”
Teknisi menggeleng. “Kamu gila. Mana mungkin makhluk tanpa otak tahu struktur reaktor manusia?”
“Mereka tidak tahu. Tapi mereka merasakan. Dan mereka menunjukkan. Aku hanya menyampaikan.”
Lara menatap dua orang itu. Waktu berjalan. Detik demi detik membawa mereka pada keputusan. Jika salah, reaktor bisa meledak dan mengubur mereka semua di kedalaman.
“Kita coba,” ujar Lara akhirnya. “Tak ada pilihan lain.”
Tindakan cepat dilakukan. Katup sirkulasi diubah ke arah barat daya. Air dingin dari saluran bawah mulai mengalir. Lima menit… sepuluh menit… tekanan reaktor mulai turun. Titik beku stabil.
Krisis terlewati.
Di luar kaca, ubur-ubur menyala lambat. Tenang. Seperti mengucapkan selamat tinggal.
Ilham tidak ikut naik ke permukaan ketika sistem pulih dua hari kemudian. Media internasional memburu laporan tentang “komunikasi cahaya” pertama antara manusia dan hewan laut. Ilmuwan dari berbagai negara tertarik. Ilham disebut “penafsir pertama dari bahasa cahaya biologis.”
Namun ia tetap tinggal.
“Kau yakin tak mau pulang?” tanya Lara sebelum naik ke kapsul evakuasi.
Ilham tersenyum. “Dunia di atas terlalu terang. Aku lebih nyaman di sini. Di antara suara-suara yang bercahaya.”
Saat kapsul naik perlahan dan cahaya buatan semakin menjauh, Ilham berdiri sendiri di depan dinding kaca. Di seberangnya, ratusan ubur-ubur melayang. Menyala. Berbicara.
Dan ia mendengar mereka.
Dalam sunyi yang sempurna.
Dalam bahasa yang tak bisa dilihat.
Tepian Kali Cikumpa, Depok, awal Juli 2025
Cerpen: Avicenia
















