Pulau itu tak bernama di peta. Ia hanya dicatat sebagai XY-17B dalam catatan ekspedisi Biogen, perusahaan bioteknologi multinasional yang mencium “potensi farmakogenetik luar biasa” dari laporan satelit dan drone udara. Namun bagi warga yang tinggal di sana sejak zaman nenek moyang, ia bernama Pulau Riang. Mereka menyebutnya begitu karena burung-burung di sana tak pernah berhenti bernyanyi—sebelum alat-alat Biogen mulai didirikan.
Tersembunyi di antara gugusan pulau timur Nusantara, Pulau Riang memiliki tanah yang anehnya selalu lembap, pepohonan yang mengeluarkan spora menyala, dan hewan-hewan yang tak dikenal dalam buku taksonomi biasa. Ada kelelawar yang membentuk pola bunga saat terbang. Ada kadal yang bisa berkomunikasi lewat perubahan warna kulit. Ada jamur yang berubah bentuk saat disentuh. “Ini seperti pulau masa depan,” kata Dr. Julian, kepala tim penelitian dari Biogen.
Tetapi Julian salah. Pulau itu bukan masa depan. Ia adalah masa lalu yang tak pernah ikut evolusi dunia luar—ia berkembang sendiri, terisolasi, dan memelihara jalur evolusinya sendiri. Ia punya aturan sendiri, bahasa sendiri, dan bahkan ingatannya sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
***
“Sini,” kata Aso, gadis remaja penduduk pulau, menarik tangan Julian yang ragu-ragu. Mereka menyusuri jalur sempit di balik rimbun paku-pakuan tinggi.
“Ada apa di sana?”
“Leluhur kami.”
Di ujung jalan setapak itu, berdiri sebuah batu besar, dililit jamur-jamur cokelat yang berdenyut pelan seperti paru-paru. Di dekat akar, spora hijau menari seperti kunang-kunang. “Itu bukan jamur biasa,” ujar Aso, bangga. “Mereka mengingat. Kalau kami bicara di sini, mereka akan tahu. Dan kalau kamu berbohong, mereka akan tahu juga.”
Julian tertawa pelan. “Kamu seperti anak-anak Amazon dalam film dokumenter.”
Aso memandangnya tanpa senyum. “Kamu pikir kamu datang ke sini sebagai penemu. Tapi kami sudah menemukan ini semua sebelum kamu bisa menyebut kata ‘bioteknologi.’”
***
Biogen tak datang untuk menyapa, mereka datang untuk mengklaim. Dalam tiga minggu, mereka sudah membangun menara pemindai genetik, laboratorium portabel, dan pagar listrik yang membatasi area “kawasan konservasi.” Tapi yang mereka konservasi hanyalah paten-paten.
Julian mulai melihat keanehan. Salah satu anggota timnya, Park, mengalami alergi akut saat menyentuh jamur merah. Tapi alerginya berubah: kulitnya menjadi bening. Bening seperti kaca. Ia bisa melihat aliran darahnya sendiri.
“Mutasi,” kata Julian, getir. Tapi wajahnya berbinar. “Ini lebih dari adaptasi. Ini… sintesis spesies!”
Aso menyaksikan semua itu dari balik pohon. Ia mulai mencatat perubahan itu di dalam naskah kunonya—bukan dengan pena, tetapi dengan spora. Ia meniupkannya pada papan kulit pohon yang menyerap data biologis. Itulah cara sukunya mencatat ingatan: melalui jaringan mikoriza.
***
Pulau Riang tak tinggal diam. Rangkaian sinyal kimia dilepaskan lewat akar. Burung-burung berhenti bernyanyi. Serangga-serangga berkumpul dalam formasi aneh di udara, membentuk pola peringatan.
“Ini bukan kebetulan,” kata Pak Pande, satu-satunya peneliti lokal yang membelot dari Biogen dan kini hidup di antara warga. “Mereka tak mau dikendalikan.”
Biogen tetap mengebor. Mereka menemukan sebuah fosil hidup: seekor katak dengan genetik yang bisa meniru spesies lain. Mereka menangkapnya, lalu mengkloning.
Pada malam keempat, dua peneliti menghilang. Yang tersisa hanyalah alat komunikasi mereka—dipenuhi lendir dan jamur yang tumbuh seperti jari manusia. Julian mulai merasa takut. Tapi petinggi Biogen di Singapura berkata di video call, “Ketakutan itu bahan bakar inovasi.”
***
Pulau Riang punya cara tersendiri untuk mengejek tamu tak diundang. Suatu malam, seluruh monitor di lab menampilkan gambar wajah para peneliti dengan struktur wajah berubah—seperti digambar ulang oleh evolusi.
“Kau lihat itu?” tanya Julian ke Park yang kini memakai penutup wajah permanen karena kulitnya terus transparan.
“Itu wajah kita… dalam waktu seratus generasi ke depan, mungkin.”
Atau mungkin hanya lelucon biologis. Aso menjelaskan, “Jamur kami bisa mengakses mimpi dan membentuk ulangnya jadi nyata. Ini pertahanan terakhir mereka. Mereka tidak menyerang, mereka menyindir. Tapi sindiran mereka tumbuh.”
Di malam berikutnya, drone Biogen diserang kawanan kelelawar bunga. Kelelawar itu membentuk huruf raksasa di udara: PULANG.
***
Julian tak pulang. Ia menolak.
Sebaliknya, ia masuk lebih dalam ke hutan, melewati zona merah yang disebut warga sebagai Rahim Ibu Tanah. Ia membawa sampel, kamera, dan keingintahuan yang tak bisa dihentikan.
Aso mengikutinya. “Kau akan berubah,” katanya.
Julian tertawa. “Mungkin itu yang kuinginkan.”
Mereka menemukan akar besar—ukuran rumah. Dari akar itu keluar kabut merah muda. Julian menghirupnya. Seketika, ia melihat hidupnya dari bayi hingga kini, diputar mundur, lalu maju lagi, lalu dipecah menjadi cabang-cabang seperti pohon filogenetik.
Ia pingsan. Ketika bangun, tubuhnya bukan tubuhnya lagi. Ia memiliki lengan seperti daun, kulit seperti kulit pohon, dan mata yang bisa melihat dalam inframerah. Tapi ia sadar, dan ia berkata lirih, “Saya… bagian dari… ekosistem ini…”
Aso mengangguk. “Akhirnya kamu paham. Pulau ini bukan tempatmu menaklukkan. Tapi menjadi.”
***
Lima tahun kemudian, Pulau Riang resmi ditutup oleh pemerintah. Biogen bangkrut karena skandal “hilangnya aset manusia dan teknologi.” Tapi kisah tentang Pulau XY-17B terus beredar dalam komunitas ilmiah bawah tanah.
Beberapa petualang mencoba datang—hanya untuk hilang, atau kembali dengan tubuh yang tak lagi manusia.
Dan di malam-malam tertentu, jika kau cukup diam dan cukup gila, kau bisa mendengar suara-suara di antara akar dan jamur yang menyala: tawa, lagu, dan kadang-kadang—sindiran.
















