Hujan tipis baru saja berhenti ketika sebuah mobil laboratorium bergerak merayap pelan melewati jalan berbatu menuju sebuah desa di lereng Gunung Slamet. Kabut tipis memeluk teras-teras sawah, seperti tirai putih yang menyembunyikan rahasia alam. Aroma tanah basah menguar, bercampur wangi rerumputan yang baru tumbuh.
Di atas bak mobil, Sinta menggenggam erat helmnya. Wajahnya masih muda, garis-garis keras perjalanan jauh belum mengikis sorot matanya yang berisi tekad. Ia lulusan baru dari jurusan bioteknologi, dan ini adalah penugasan lapangan pertamanya: memperkenalkan benih padi transgenik ke sebuah desa yang terkenal konservatif, Desa Lembah Ijo.
Mobil berhenti di balai desa yang terbuat dari kayu jati tua. Di depan bangunan itu, seorang lelaki tua duduk bersila. Ia memegang tongkat kayu berukir, rambutnya putih, dan wajahnya penuh guratan pengalaman. Lelaki itu adalah Pak Ranu, tetua yang suaranya dihormati di desa ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Selamat datang,” katanya pelan, suaranya berat seperti suara pohon tua yang bergoyang tertiup angin.
“Terima kasih, Pak,” jawab Sinta sambil tersenyum. “Saya Sinta, dari pusat riset bioteknologi. Kami membawa benih padi yang sudah dimodifikasi genetik supaya tahan wereng dan cuaca ekstrem.”
Orang-orang yang duduk di sekitar Pak Ranu saling pandang. Suasana balai desa mendadak sunyi. Hanya terdengar bunyi air hujan yang menetes dari atap rumbia.
“Benih?” tanya Pak Ranu, matanya menyipit. “Kami punya benih kami sendiri. Benih yang sudah ratusan musim menghidupi tanah ini.”
“Benih itu baik, Pak, tapi ancaman hama sekarang berbeda. Perubahan iklim membuat musim sulit ditebak. Benih ini—” Sinta berhenti, mencoba memilih kata yang tepat. “—benih ini bisa jadi solusi.”
Pak Ranu mengetukkan tongkatnya ke lantai. “Sawah kami bukan ladang percobaan. Di sini, setiap bulir padi lahir lewat doa, lewat tarian, lewat cerita para leluhur. Kau mau mencabut itu semua?”
Sinta terdiam. Ia tahu resistensi ini akan terjadi. Namun ia tidak menyangka akan sekuat ini. Di antara orang-orang yang duduk di pojok, seorang lelaki muda bernama Arman memperhatikan dengan seksama. Matanya penuh keraguan, seperti ada pertarungan batin yang tak selesai.
***
Sinta menetap di pos kecil di pinggir desa, membawa serta peralatan monitoring: sensor tanah, alat pengukur kelembapan, dan sebuah laptop dengan layar besar. Tiap pagi ia turun ke sawah, memasang alat dengan hati-hati. Anak-anak desa sering mengikuti langkahnya sambil bertanya polos,
“Mbak, itu buat main game ya?”
Sinta tersenyum. “Bukan. Ini buat dengar suara tanah.”
Pak Ranu mengawasinya dari kejauhan. Di matanya, Sinta adalah utusan dari dunia asing yang tidak mengerti hubungan sakral antara manusia dan bumi. Namun di malam hari, ketika angin gunung membawa suara jangkrik, Sinta duduk termenung di beranda pos sambil mendengarkan suara hutan dan merenungkan kata-kata Pak Ranu.
Arman, di sisi lain, menghadapi kenyataan yang pahit. Sawahnya tidak menghasilkan cukup untuk membayar hutang. Anak pertamanya akan lahir tiga bulan lagi. Ia merasa terjepit antara hormat pada adat dan tuntutan hidup. Istrinya berkata lirih suatu malam, “Kalau memang ada cara untuk panen lebih banyak, kenapa tidak dicoba?”
***
Beberapa minggu kemudian, mobil pejabat dari dinas datang membawa instruksi. “Program nasional ini harus berhasil,” kata seorang pejabat dengan nada tinggi. “Desa kalian termasuk target pilot project. Kalau kalian menolak, bantuan pupuk dan subsidi bisa kami cabut.”
Pak Ranu hanya menatap lurus. “Kami tidak bisa mengorbankan roh tanah hanya untuk laporan kalian.”
Pejabat itu mendengus. “Roh tanah tak bisa memberi makan anak-anakmu saat hama datang.”
Sinta yang duduk di sisi balai mencoba menengahi, “Pak Ranu, saya percaya adat penting. Tapi mungkin kita bisa mulai dari petak kecil, uji coba, sambil tetap melakukan ritual seperti biasa.”
Tetua itu diam lama. Lalu berkata, “Tanam apa pun di tanah ini harus dimulai dengan doa. Tanpa doa, tanah bisa marah.”
***
Suatu malam, Arman mendatangi pos Sinta diam-diam. Wajahnya tegang. “Aku mau coba tanam benihmu di pojok sawahku. Tapi jangan bilang siapa-siapa.”
Sinta menatapnya, ragu. “Kalau ketahuan—”
“Aku yang tanggung. Aku cuma butuh satu musim panen yang baik. Kalau gagal, keluargaku….” Suaranya tercekat.
Sinta akhirnya mengangguk. Mereka pergi ke sawah saat bulan purnama bersinar. Sinta menanam benih transgenik itu di petak kecil di sudut sawah Arman. Mereka menutupnya dengan tanah lembut, tanpa mantra, tanpa tabur bunga. Hanya suara jantung mereka yang berdetak kencang.
***
Minggu-minggu berikutnya, benih transgenik itu tumbuh lebih cepat dari padi biasa. Bulirnya besar, batangnya kokoh. Arman tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tapi ia juga menyimpan rahasia yang menggerogoti batinnya.
Pak Ranu mulai curiga ketika melihat bagian sawah Arman tampak berbeda. “Arman,” katanya suatu pagi, “apa yang kau lakukan pada tanahmu?”
“Tidak ada, Pak,” jawab Arman gugup.
Pak Ranu mengamati bulir padi itu, lalu berkata lirih, “Tanah ini menyimpan suara. Ia sedang berbisik padaku.”
Di tengah kebimbangan itu, kabar buruk datang: desa tetangga paniknya bukan main karena hama wereng menyerang dan menghancurkan padi mereka. Orang-orang desa Lembah Ijo gelisah. Beberapa mendesak Pak Ranu untuk mencoba benih baru, yang katanya bisa menyelamatkan panen. Pak Ranu menolak. “Kita punya doa, kita punya cara kita sendiri.”
Namun malam-malam berikutnya, orang-orang berbisik-bisik tentang sawah Arman yang tampak sehat. Rasa penasaran berubah menjadi desakan. “Apa rahasianya, Man?” tanya salah satu petani. Arman tak mampu menjawab.
***
Tekanan mencapai puncak ketika pejabat datang lagi, kali ini dengan ancaman nyata. “Kalau kalian tetap keras kepala, bantuan pangan kami tarik!”
Pak Ranu berdiri di tengah balai desa. “Kalau tanah ini harus mati demi bantuan, biarlah kami mati bersama tanahnya!”
Keributan meletus. Beberapa petani muda membela Pak Ranu, yang lain mendukung pejabat dan Sinta. Kata-kata kasar melayang, suara-suara tinggi memenuhi ruangan.
Sinta berdiri, wajahnya memerah. “Benih ini bukan kutukan! Ini hasil kerja ratusan ilmuwan untuk menyelamatkan pangan!”
Pak Ranu menatapnya tajam. “Kau bicara tentang menyelamatkan, tapi kau tak pernah tanya apa yang ingin diselamatkan oleh tanah ini!”
Arman akhirnya berdiri di antara mereka. “Aku… aku sudah menanamnya.” Semua terdiam. “Dan memang padi itu bagus. Tapi…,” suaranya pecah, “aku mimpi buruk tiap malam. Aku takut pada tanahku sendiri.”
Pak Ranu mendekat. “Kenapa kau lakukan itu tanpa doa?”
Arman terisak. “Aku takut anakku kelaparan.”
***
Panen tiba. Petak sawah Arman menghasilkan padi melimpah, jauh melebihi sawah lain. Orang-orang bersorak. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah panen, anehnya belalang muncul berkerumun. Katak-katak yang biasanya memakan hama lenyap. Burung-burung enggan hinggap. Irama alam berubah.
Pak Ranu memandang sawah dengan mata berkaca-kaca. “Tanah ini menyanyi sumbang.”
Sinta memeriksa data di laptopnya, wajahnya pucat. “Ada gangguan pada ekosistem. Padi transgenik ini menghasilkan protein penolak serangga, tapi juga mematikan beberapa organisme kecil yang jadi penyeimbang.”
Pejabat datang menuntut laporan. “Kenapa terjadi seperti ini?”
Sinta menatap layar kosong. “Karena kami lupa mendengar.”
***
Malam itu, Sinta mendatangi rumah Pak Ranu. Ia meletakkan benih di atas meja kayu. “Pak, aku minta maaf. Aku datang membawa teknologi, tapi aku tidak membawa hati. Maukah Bapak mengajariku ritual tanam itu?”
Pak Ranu terdiam lama. Lalu mengangguk pelan. “Kalau kau benar-benar mau belajar, aku akan ajarkan. Karena tanah ini bukan musuhmu. Ia hanya menunggu kau menghormatinya.”
Mereka duduk bersama hingga larut, berbicara tentang doa, tentang siklus musim, tentang bagaimana nenek moyang memilih bibit dengan mendengar bisikan angin. Sinta menulis semua dengan teliti. Ia sadar, bioteknologi tanpa budaya adalah pisau tanpa gagang.
***
Musim berikutnya, di sebuah petak sawah baru, Sinta dan Arman menanam padi transgenik sambil mengikuti ritual adat yang diajarkan Pak Ranu. Mereka menabur bunga, menyalakan dupa, melantunkan doa. Orang-orang desa ikut membantu, sementara laptop Sinta merekam data. Kali ini, teknologi dan tradisi berjalan bersama.
Di ujung musim, sawah itu hijau segar, penuh suara jangkrik dan burung. Panennya melimpah tanpa mematikan ekosistem. Orang-orang desa tersenyum lega.
Pak Ranu berdiri di pematang, menatap hamparan padi. “Lihatlah,” katanya pada Sinta, “tanah bisa menerima masa depan, asal masa depan mau menghormati tanah.”
Sinta tersenyum, merasakan angin membawa aroma padi muda. Ia menatap ke langit, membayangkan jalan panjang di depan. Di dalam hatinya, ia berjanji: ilmu tanpa kearifan adalah benih yang hampa.













