Home / Tokoh / Membangun TIK Desa dengan Spidol Bekas

Membangun TIK Desa dengan Spidol Bekas

Ketika akan mulai memperkenalkan teknologi informasi dan komunikasi, atau TIK, kepada warga Kampung Pasiripis, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Dadan Sukma (24) sempat ragu. Pasalnya, selain tak punya peralatan komputer, lokasi pedesaan itu jauh dari kota, berjarak 3 kilometer di bawah kawah Gunung Galunggung.

Namun, Dadan ingat pepatah pengarang buku The Greatest Salesman in the World, Augustine ”Og” Mandino (1923-1996). Orang yang selalu menunda-nunda melaksanakan niatnya tak akan mencapai apa-apa. Kesampingkan keragu-raguan Anda dan maju terus! Lulusan Jurusan Teknik Elektro Bidang Komputer dan Jaringan Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 2013 ini pun bergerak.

Bersama tujuh mahasiswa temannya asal Kampung Pasiripis, Dadan mengajak warga desa memahami TIK di tengah kegalauan soal minimnya peralatan. Untuk memperkenalkan mereka pada komputer, misalnya, berarti harus ada komputer.

Ini artinya juga harus ada printer, kertas, mouse, dan peralatan lain yang tak mungkin dia sediakan karena untuk ongkos pergi kuliah pun dia masih minta kepada orangtua. Untuk mengajar teori pun, harus ada papan tulis lengkap dengan spidol. Sementara Aan Gunawan (53), orangtua Dadan, adalah pegawai negeri sipil di Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya.

Seiring dengan berjalannya waktu, kegalauan itu sirna dengan kenyataan yang memprihatinkan, yakni tingkat pendidikan warga desa umumnya rendah. Selulus SMP, anak-anak desa tak mau melanjutkan sekolah karena lokasinya jauh. Kampung Pasiripis adalah kampung terujung sebelum lereng Gunung Galunggung.

Semangat untuk memintarkan warga desa itulah yang menyebabkan Dadan berupaya mengumpulkan spidol bekas dosen mengajar di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada 2010-2011.

”Adakalanya saya mengambil spidol-spidol bekas itu dari tempat sampah universitas,” kenang Dadan saat kuliah di Jurusan Teknik Komputer Jaringan UGM. Alat tulis bekas itu dibawa ke kampungnya yang berjarak sekitar 400 kilometer dari Yogyakarta.

Hal yang sama Dadan lakukan saat melanjutkan kuliah di ITB. Setiap Jumat malam ia pulang ke Pasiripis yang berjarak sekitar 120 kilometer dari Bandung. Sebab, hari Sabtu dan Minggu ia mengajar di balai desa.

”Kalau cuaca bagus, saya naik sepeda motor. Tetapi kalau hujan, naik bus umum,” ujarnya. Hari Minggu sore ia kembali ke Bandung karena harus kuliah.

Komputer bekas
Saat pulang kampung, ia membeli tripleks, lalu digergaji dibagi dua. Tripleks itu dipasang di ruang kosong di Balai Desa Padakembang untuk menulis. Pertengahan 2011 dimulailah pendidikan TIK dasar untuk warga Desa Padakembang. Ternyata tak hanya anak-anak usia sekolah yang tertarik pada pelatihan gratis itu, aparat desa pun berminat.

Gayung bersambut karena kepala desa mendukung program sukarela Dadan. ”Bilang dulu sama orangtuamu, jangan-jangan mereka tak berkenan,” hanya itu nasihat kepala desa.

Dadan kemudian membuat jadwal mengajar bersama tujuh temannya mahasiswa. Mereka ada yang kuliah di Universitas Siliwangi Tasikmalaya, STIMIK Bandung, dan Institut Agama Islam Cipasung Tasikmalaya.

Pendidikan mengenal komputer diawali dengan komputer bekas dengan CPU yang tak berfungsi. Itu pun merupakan sumbangan warga yang kebetulan punya komputer lama dan tak terpakai.

Untuk mencari peserta didik, Dadan dan teman-teman melakukan safari dari pintu ke pintu. Melalui aparat desa juga diumumkan bahwa di balai desa ada pelatihan komputer gratis untuk siswa sekolah.

”Ternyata animonya besar. Tidak saja dari kampung ini, tetapi juga dari kampung-kampung lain,” ujar Safrudin Safari dan Yusuf, keduanya mahasiswa sekaligus warga Pasiripis.

Kini pendidikan komputer tak berbayar itu memiliki 150 siswa didik. Sebagian besar dari mereka adalah murid SD dan SMP serta sedikit siswa SMA. Jadwal pendidikan setiap Sabtu pukul 13.00-16.00 dan Minggu pukul 07.00-16.00 di Balai Desa Padakembang.

Namun, karena di dalam ruangan penuh, sebagian pembelajaran dilaksanakan di halaman kantor Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Galunggung milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi. Lokasi pos pengamatan itu berseberangan dengan balai desa.

”Itu pun kalau cuaca bagus. Kalau turun hujan seperti terjadi sepanjang tahun ini, pengajaran TIK disatukan. Jadi siswa udel-udelan di balai desa,” ujar Dadan.

Mobil layanan internet
Proses belajar-mengajar TIK di kampung itu bisa berjalan karena aparat desa dan Kepala Pos Pengamat Gunung Galunggung Herry Supartono mendukung penuh. Lama- kelamaan beredar dari mulut ke mulut bahwa di Desa Padakembang ada pelatihan komputer gratis untuk siswa sekolah.

Selama ini, kalau ingin kursus komputer, warga harus ke Kota Tasikmalaya yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Padakembang. Mereka juga harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah, jumlah yang cukup memberatkan orangtua siswa yang umumnya petani lahan kering di lereng Gunung Galunggung.

Tahun 2011 Dadan lulus D-3 Teknik Komputer Jaringan UGM. Tahun itu juga ia melanjutkan ke Jurusan Teknik Elektro Bidang Komputer dan Jaringan ITB atas beasiswa Southeast Asian Ministers of Education Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC). ”Kalau ada beasiswa lagi, saya ingin melanjutkan ke S-2,” ujar Dadan yang diwisuda di ITB pada Mei 2013.

Sekitar awal 2012, lewat internet, Dadan menemukan alamat e-mail Dinas Komunikasi dan Informatika Jabar di Bandung. Ia menuliskan kegiatannya lewat e-mail serta direspons Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jabar Dudi Sudrajat.

Dudi memberikan rekomendasi agar Dadan dipinjami mobil pusat la- yanan internet kecamatan (MPLIK) yang ada di Kota Tasikmalaya. ”Daripada jadi rongsokan, lebih baik dimanfaatkan,” ujarnya. ”Silakan kalau mau dipinjam, tetapi kerusakannya diperbaiki dulu, ya,” kata Dadan menirukan ucapan pejabat pemegang mobil itu di Tasikmalaya.

Setelah MPLIK yang merupakan program Kementerian Komunikasi dan Informatika itu lancar kembali, Dadan membawa mobil tersebut ke Pasiripis untuk praktik anak didik di lapangan.

Untuk bahan bakar solarnya, ketujuh mahasiswa itu urunan sesuai isi dompet masing-masing. Selama satu- dua hari MPLIK beroperasi di lereng Gunung Galunggung, setelah itu dikembalikan kepada pemegangnya di Kota Tasikmalaya.

DADAN SUKMA

Lahir: Tasikmalaya, Jawa Barat, 5 Februari 1989
? Pendidikan:

SD sampai SMA di Tasikmalaya
D-3 Universitas Gadjah Mada, 2011
D-4 Institut Teknologi Bandung, 2013

? Orangtua: Aan Gunawan (ayah) dan Jeje Nurjanah (ibu)

Oleh: Dedi Muhtadi

Sumber: Kompas, 28 Agustus 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: