Informasi Geospasial; Sehari Ditarget Terdata 2-3 Pulau

- Editor

Rabu, 1 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejak tahun 2010, Indonesia belum mampu menetapkan status 3.000 pulau dalam hal kondisi, nama atau toponimi, dan koordinatnya. Demi mendukung program poros maritim dan tol laut, status pulau sangat diperlukan. Untuk itu, survei toponimi pulau harus diselesaikan dalam tiga tahun atau sehari harus didata 2-3 pulau.

Penegasan itu disampaikan Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) Priyadi Kardono, Selasa (31/3). Banyaknya pulau yang belum jelas status dan belum diakui itu terungkap dalam Rapat Koordinasi Nasional Informasi Geospasial, Jumat lalu.

Rizka Windiastuti, Kepala Bidang Toponim BIG, menjelaskan, dari survei toponimi tahun 2008 baru dihasilkan 13.466 daftar nama rupabumi atau gasetir pulau. Survei dilakukan Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (Timnas PNR), dikoordinasi Kementerian Dalam Negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika 3.000 pulau ini dapat diverifikasi, jumlah pulau di Indonesia takkan beda jauh dengan data selama ini yang menyebut 17.508 pulau,” kata Priyadi yang juga Wakil Ketua Timnas PNR.

Data jumlah 3.000 pulau itu, menurut Kepala Kelompok Kerja Toponim BIG R Danoe Soeryamihardja, dihimpun dari instansi lain, terutama Dinas Hidro-oseanografi TNI Angkatan Laut serta Kementerian Kelautan dan Perikanan. Data berupa citra satelit dan peta dengan beragam skala, di antaranya yang terbesar berskala 1:10.000 dimiliki BIG.

Muhtadi Ganda Sutresna, Kepala Pusat Pemetaan Kelautan dan Lingkungan Pantai BIG, mengatakan, pulau-pulau teridentifikasi melalui citra satelit. “Namun, penginderaan jarak jauh itu belum dapat dipastikan dilakukan saat laut pasang tertinggi atau terendah,” ujarnya.

Oleh karena itu, untuk penetapan jumlah, nama, dan koordinat pulau itu, kata Rizka, perlu ada kesepakatan dengan instansi terkait mengenai pendefinisian pulau, yang mesti sesuai ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Definisinya, pulau adalah daratan yang masih terlihat saat pasang laut tertinggi.

Pada citra satelit beresolusi rendah, menurut Danoe, daratan terendam yang ditumbuhi mangrove akan terlihat sebagai pulau. Jumlah pulau mungkin bertambah dan berkurang tergantung dari karakteristik geologinya.

Pulau di zona subduksi lempeng dalam periode ratusan tahun dapat timbul dan tenggelam karena efek pelentingan. Pulau juga dapat muncul karena pembentukan terumbu karang yang tumbuh menjadi atol.

Citra satelit
Survei toponimi itu, menurut Danoe, berbasis citra satelit resolusi tinggi 1:10.000 yang pengadaannya sejalan dengan penetapan batas wilayah pedesaan dan pemetaan pulau terdepan. “Tim teknis yang terdiri atas beberapa instansi telah siap. Namun, anggaran Rp 71 miliar saat ini belum cair,” ungkapnya.

Pendataan pulau atau survei toponimi akan melibatkan aparat pemerintah kabupaten dan provinsi yang lebih mengenal wilayahnya. Adapun BIG akan menghimpun data di tingkat provinsi.

Waktu yang diperlukan menyurvei toponimi bisa hingga sebulan setiap pulau, bergantung pada cuaca, sarana transportasi, dan medan yang dilalui. (YUN)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Sehari Ditarget Terdata 2-3 Pulau”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Kamis, 30 April 2026 - 08:17 WIB

Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia

Berita Terbaru