Pembakuan Nama Unsur Alami Baru di 19 Provinsi

- Editor

Rabu, 2 April 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, sejak survei pemberian nama pada unsur alami tahun 2007, hingga kini baru membakukan di 19 provinsi dari total 34 provinsi. Pembakuan nama penting, baik untuk kepentingan identitas maupun wisatawan.

Daftar nama rupabumi (gasetir) khusus unsur alami yang sudah dibakukan ada 100.672 nama, antara lain gunung, pegunungan, bukit, perbukitan, dataran tinggi, sungai, goa, mata air, air terjun, dan semenanjung.

”Dari 34 provinsi, salah satunya provinsi baru, Kalimantan Utara. Jadi, masih banyak provinsi yang belum diverifikasi. Peran para sekretaris daerah sangat dibutuhkan untuk inventarisasi sebab di daerah juga ada panitia pembakuan nama rupabumi,” kata Direktur Jenderal Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Agung Mulyana, Selasa (1/4), dalam konferensi pers seusai pembukaan seminar dan pertemuan divisi tahunan yang digelar United Nations Group of Experts on Geographical Names (UNGEGN) Asia South East Division, di Bandung, Jawa Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Agung didampingi Sekretaris 1 Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi Asep Karsidi yang juga Kepala Badan Informasi Geospasial, Ketua UNGEGN Asia South East Division Abdul Kadir bin Taib, serta Sekretaris Daerah Jabar Wawan Ridwan.

Menurut Agung, yang juga Sekretaris 2 Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi, untuk gasetir nama pulau, dari 17.504 pulau, sudah dibakukan 13.466 pulau. Untuk gasetir nama wilayah administrasi, dibakukan 33 provinsi, 377 kabupaten, 97 kota, dan 6.458 kecamatan.

bot03Asep mengemukakan, timnas bekerja bertahap. Dua tahun pertama, timnas menyurvei nama pulau, lalu memverifikasi administratif provinsi (2009-2011), memverifikasi nama unsur alami (2012-2014), dan memverifikasi nama unsur buatan (2015-2017), antara lain waduk, bandar udara, dan pelabuhan. Gasetir dua tahun sekali didaftarkan ke PBB. Tahun ini dijadwalkan pada pertemuan 28 April-2 Mei 2014 di New York, Amerika Serikat.

”Yang lebih berat bagi timnas justru memverifikasi nama unsur buatan. Mekanisme pemberian nama ini harus dikaji karena, walau dari segi kaidah jelas diatur, dari segi pengesahan di lapangan sering terjadi penyimpangan sebab izin diberikan pemerintah daerah,” kata Asep.

Yang perlu dikoreksi, kata Asep, misalnya nama pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jabar. Nama ini mengadopsi penamaan dari luar negeri, yang semestinya mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pembakuan Nama Rupabumi dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan.

Permendagri itu mengatur, antara lain, penamaan rupabumi menggunakan huruf abjad Romawi, satu unsur rupabumi satu nama, menggunakan bahasa Indonesia, daerah atau nama lokal, menghormati keberadaan suku, agama, ras, dan golongan, serta menghindari nama diri atau orang yang masih hidup.

Abdul Kadir bin Taib mengemukakan, penamaan geografis juga penting bagi pengembangan ekonomi. ”Investor yang akan masuk ke suatu negara akan melihat dulu database suatu daerah yang akan dituju, antara lain dari nama lokasi, juga topografi, keadaan tanah, iklim, ataupun tingkat kepadatan penduduk,” ujar dia. (SEM)

Sumber: Kompas, 2 April 2014

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 24 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB