Pada pagi yang lengang di kampus Universitas Indonesia, kisah lama masih kerap berbisik dari ruang-ruang kuliah Fakultas Psikologi. Di antara dinding yang dingin, orang-orang bercerita tentang sosok pria bersahaja dengan kemeja putih sederhana. Dialah Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso, tokoh yang dianggap sebagai “Bapak Psikologi Indonesia”.
Lahir di Wonosobo, 7 September 1907, Slamet kecil tumbuh di dataran tinggi Dieng. Udara tipis dan dingin Dieng barangkali mengajarkan keteguhan sejak awal: hidup mesti dijalani dengan ketenangan, dengan disiplin, dan dengan kesadaran akan keterbatasan. Ia menapaki pendidikan hingga ke ranah kedokteran jiwa, sebelum akhirnya menemukan jalannya: psikologi.
Dari Kedokteran ke Psikologi
Awalnya, Slamet dikenal sebagai ahli saraf dan jiwa. Tetapi semakin dalam ia menekuni praktik, semakin ia merasa bahwa manusia tidak cukup dipahami hanya dari sisi medis. Ada dunia lain yang mesti ditelisik—pikiran, perilaku, dan cara manusia mengambil keputusan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tahun 1952 menjadi tonggak penting. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar, ia melontarkan ide sederhana namun visioner: “the right man in the right place”. Baginya, setiap orang hanya akan berdaya guna jika ditempatkan sesuai dengan kemampuan dan kepribadiannya. Ide itu melampaui ruang akademik; ia bicara tentang sekolah, dunia kerja, bahkan pembangunan bangsa.
Setahun berselang, ia memelopori lahirnya Balai Psikoteknik, sebuah lembaga kecil yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Di sanalah pendidikan psikologi formal pertama di Indonesia dimulai, dengan Slamet sebagai dekan pertamanya.
Sang Pria Berkemeja Putih
Mahasiswa mengenangnya sebagai sosok yang nyaris selalu hadir dengan busana serba putih. Tidak ada jas mewah, tidak ada simbol-simbol kuasa yang berlebihan. Hanya kemeja putih bersih, tanda kesederhanaan dan konsistensi. Dari situlah muncul sebutan—kadang resmi, kadang hanya bercanda—“Pria berkemeja putih”.
Di balik pakaian sederhana itu, Slamet dikenal jujur, tegas, dan lurus. Ia bisa bercakap hangat dengan mahasiswa, tetapi tetap memberi jarak wibawa yang membuat orang segan. “Kesederhanaan adalah kekuatan,” begitu kira-kira pesan diam yang terpancar dari penampilannya.
Warisan yang Berlanjut
Slamet tidak hanya membangun lembaga; ia membangun paradigma. Ia memperkenalkan penggunaan tes psikologi untuk menyeleksi siswa, karyawan, hingga pejabat. Ia meyakinkan negara muda Indonesia bahwa psikologi bukan ilmu elitis dari Barat, melainkan alat praktis untuk membangun bangsa.
Generasi berikutnya, dari ruang kuliah hingga biro rekrutmen, masih merasakan dampaknya. Konsep penempatan orang sesuai potensi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan dan manajemen sumber daya manusia di Indonesia.
Hidup Panjang, Warisan Abadi
Prof. Slamet Iman Santoso wafat di Jakarta pada 9 November 2004, dalam usia 97 tahun. Tetapi nama dan jasanya tetap melekat. Fakultas Psikologi UI—tempat ribuan mahasiswa ditempa setiap tahun—adalah monumen hidup dari gagasannya. Buku kenangan dan catatan para murid menulisnya sebagai guru, pionir, sekaligus inspirasi.
Ketika kita berbicara tentang psikologi Indonesia hari ini—dari konseling sekolah hingga penelitian laboratorium—sebuah benang halus selalu menuntun kita kembali pada sosok pria sederhana itu. Seorang akademisi yang lebih suka membiarkan karyanya bicara, daripada dirinya sendiri.
Dan mungkin, dalam imajinasi para mahasiswanya, ia masih berjalan di koridor kampus dengan langkah tenang, senyum tipis, dan kemeja putih yang abadi.
Garis hidup Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso
| Tahun | Peristiwa Penting |
|---|---|
| 1907 | Lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907 |
| ±1912–1920 | Menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch Inlandsche School |
| 1920–1923 | Sekolah MULO di Magelang |
| 1923–1926 | AMS-B di Yogyakarta |
| 1926–1932 | Pendidikan di STOVIA (Institut Kedokteran Hindia Belanda) |
| 1932–1934 | Sekolah Kedokteran (Geneeskunde School) di Batavia |
| 1952 | Orasi pengukuhan sebagai Guru Besar — memperkenalkan konsep “the right man in the right place” yang kemudian menjadi landasan gagasan psikologi terapan di Indonesia |
| 1953 | Pendirian Balai Psikoteknik – inisiasi lembaga psikologi terapan di Indonesia (cikal bakal Fakultas Psikologi) |
| 1960-an | Balai Psikoteknik berkembang menjadi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia; Slamet menjadi dekan pertama fakultas tersebut |
| 1962–1973 | Menjabat sebagai Pembantu Rektor I UI saat Rektor Sjarif Thajeb dan Sumantri Brodjonegoro |
| 1973 | Sumantri Brodjonegoro wafat saat menjabat rektor, Slamet Iman Santoso ditunjuk sebagai Pejabat Rektor UI (acting rector) |
| 1974 | Jabatan rektor pergantian kepada Mahar Mardjono; berakhirnya masa jabatan Slamet sebagai pejabat rektor |
| 2004 | Wafat di Jakarta, 9 November 2004 (usia 97 tahun) |
















