Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

- Editor

Senin, 12 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian tentang bentuk molekul yang menyerupai tangan manusia membuka jalan bagi pengembangan obat dan membantu menjelaskan salah satu teka-teki mendasar tentang asal-usul kehidupan.

Dua ilmuwan, Henri B. Kagan dari Prancis dan Kenso Soai dari Jepang, meraih Hadiah Nobel Kimia 2026 berkat penelitian mereka tentang bagaimana reaksi kimia dapat menghasilkan salah satu dari dua bentuk molekul yang saling menjadi bayangan cermin. Temuan mereka menjawab sebagian pertanyaan yang telah lama mengusik dunia kimia, sekaligus memberikan perangkat penting untuk merancang obat dan berbagai senyawa kimia lainnya.

Pengumuman penghargaan tersebut disampaikan oleh Komite Nobel pada 7 Oktober 2026. Kagan dan Soai mendapat pengakuan atas penemuan efek nonlinier dan autokatalisis dalam sintesis organik asimetris, dua konsep yang membantu ilmuwan mengendalikan bentuk molekul yang dihasilkan melalui reaksi kimia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penghargaan ini bukan semata-mata pengakuan atas keberhasilan mengendalikan reaksi di laboratorium. Penelitian keduanya juga berkaitan dengan pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa kehidupan di Bumi menggunakan bentuk tertentu dari molekul, padahal secara kimia tersedia pasangan bentuk lainnya yang menyerupai bayangan cermin?

Molekul yang memiliki sisi kiri dan kanan

Untuk memahami penelitian tersebut, kita dapat memulainya dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni tangan manusia.

Tangan kiri dan tangan kanan memiliki bentuk yang hampir sama. Keduanya mempunyai jari, telapak, serta susunan bagian yang serupa. Namun, jika tangan kiri ditempelkan pada cermin, bayangannya menyerupai tangan kanan. Kita juga tidak dapat menumpuk tangan kiri dan kanan secara sempurna dalam semua orientasi.

Fenomena serupa ditemukan pada sejumlah molekul. Dalam kimia, sifat ini dikenal sebagai kiralitas atau chirality. Molekul kiral memiliki bentuk yang tidak dapat ditumpangtindihkan secara sempurna dengan bayangan cerminnya.

Dua bentuk tersebut disebut enantiomer. Keduanya mempunyai susunan atom dan ikatan yang sama, tetapi berbeda dalam orientasi tiga dimensinya.

Perbedaan ini mungkin tampak kecil. Namun, dalam dunia molekul, susunan ruang menentukan bagaimana suatu senyawa berinteraksi dengan molekul lain. Karena itu, dua enantiomer dapat menunjukkan sifat biologis yang berbeda ketika berhadapan dengan sistem kehidupan.

Tubuh manusia sendiri merupakan sistem molekuler yang sangat selektif. Protein, enzim, reseptor, dan berbagai komponen biologis mempunyai struktur tiga dimensi tertentu. Ketika suatu molekul berinteraksi dengan komponen-komponen tersebut, bentuknya dapat menentukan apakah interaksi berlangsung efektif, lemah, atau bahkan menimbulkan efek yang tidak diharapkan.

Inilah sebabnya pengendalian bentuk molekul menjadi persoalan penting dalam kimia modern.

Mengapa kehidupan memilih satu bentuk?

Salah satu misteri besar dalam kimia kehidupan adalah fenomena yang disebut homokiralitas.

Secara sederhana, homokiralitas merupakan keadaan ketika sistem biologis menggunakan secara dominan satu bentuk kiral dari jenis molekul tertentu, alih-alih menggunakan kedua bentuk bayangan cermin dalam jumlah seimbang.

Pada kehidupan yang kita kenal, asam amino yang menyusun protein hampir seluruhnya menggunakan bentuk L. Sebaliknya, gula deoksiribosa dalam DNA memiliki konfigurasi kiral yang berhubungan dengan bentuk D pada sistem penamaan gula.

Perbedaan ini penting. Kehidupan tidak menggunakan campuran kedua bentuk molekul secara sembarangan, melainkan membangun sistem biologis dengan selektivitas yang tinggi.

Mengapa keadaan tersebut dapat muncul?

Pertanyaan ini telah lama menjadi perhatian para ilmuwan. Dalam reaksi kimia biasa yang menghasilkan senyawa kiral, kedua enantiomer dapat terbentuk dalam jumlah yang sama jika tidak ada faktor yang mengutamakan salah satunya. Campuran seimbang seperti ini dikenal sebagai campuran rasemat.

Akan tetapi, kehidupan memperlihatkan pola yang berbeda. Banyak molekul penyusunnya menunjukkan dominasi salah satu bentuk. Para ilmuwan pun berusaha memahami bagaimana ketidakseimbangan tersebut dapat muncul, bertahan, dan diperkuat.

Penelitian Kagan dan Soai memberikan petunjuk penting mengenai mekanisme kimia yang memungkinkan suatu bentuk molekul menjadi lebih dominan daripada pasangannya.

Meski demikian, temuan mereka tidak berarti seluruh persoalan asal-usul kehidupan telah terpecahkan. Homokiralitas merupakan salah satu bagian dari persoalan yang jauh lebih luas, termasuk bagaimana molekul organik pertama terbentuk dan bagaimana sistem kimia berkembang menjadi sistem biologis.

Kagan membuka jalan melalui reaksi asimetris

Henri B. Kagan, kimiawan Prancis yang berafiliasi dengan Université Paris-Sud, mengembangkan pemahaman mengenai cara mengendalikan reaksi kimia agar menghasilkan satu bentuk molekul kiral lebih banyak daripada bentuk pasangannya.

Penelitian Kagan pada dekade 1980-an menunjukkan bahwa ketidakseimbangan kecil dalam sifat kiral suatu katalis dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar pada produk reaksi. Fenomena ini dikenal sebagai efek nonlinier dalam sintesis asimetris.

Untuk memahami prinsipnya, bayangkan sebuah reaksi kimia yang menghasilkan dua bentuk molekul, kiri dan kanan. Dalam kondisi tertentu, katalis yang digunakan mungkin hanya sedikit lebih mendukung pembentukan bentuk kiri. Jika prosesnya berlangsung secara nonlinier, keunggulan kecil tersebut dapat menghasilkan perbedaan komposisi produk yang lebih besar daripada perkiraan sederhana.

Katalis sendiri merupakan zat yang membantu mempercepat reaksi kimia tanpa dikonsumsi secara keseluruhan dalam proses tersebut.

Dalam sintesis organik asimetris, katalis dirancang untuk mengarahkan reaksi menuju bentuk tiga dimensi tertentu. Dengan demikian, ahli kimia tidak hanya berusaha menghasilkan suatu senyawa, tetapi juga mengendalikan bentuk molekul yang terbentuk.

Pendekatan ini menjadi salah satu landasan penting bagi pengembangan reaksi kimia yang lebih selektif.

Soai menunjukkan bagaimana molekul dapat memperkuat pilihannya

Penelitian Kenso Soai, kimiawan Jepang dari Tokyo University of Science, membawa pemahaman tersebut lebih jauh melalui reaksi yang dikenal sebagai reaksi Soai.

Pada 1995, Soai dan rekan-rekannya melaporkan reaksi autokatalitik yang menghasilkan penguatan ketidakseimbangan kiral. Dalam proses ini, produk reaksi tidak hanya menjadi hasil akhir, tetapi juga berperan sebagai katalis yang membantu pembentukan produk sejenis.

Inilah inti autokatalisis.

Dalam reaksi kimia biasa, katalis berasal dari zat yang telah disediakan untuk membantu reaksi. Dalam autokatalisis, produk yang terbentuk ikut mendorong berlangsungnya reaksi yang menghasilkan lebih banyak produk tersebut.

Jika produk yang terbentuk memiliki bentuk kiral tertentu, proses ini dapat memperkuat dominasi bentuk yang sama. Ketidakseimbangan awal yang sangat kecil pun berpotensi berkembang menjadi ketimpangan yang jauh lebih besar.

Sebagai ilustrasi, anggaplah suatu reaksi pada awalnya menghasilkan sedikit lebih banyak molekul berbentuk kiri dibandingkan molekul berbentuk kanan. Jika molekul kiri yang terbentuk turut membantu menghasilkan lebih banyak molekul kiri, jumlahnya dapat meningkat secara progresif. Hasil akhirnya menjadi semakin tidak seimbang.

Mekanisme tersebut menunjukkan bagaimana proses kimia dapat memperbesar perbedaan kecil tanpa harus memulai dengan dominasi yang besar.

Penelitian Soai memberikan contoh eksperimental yang sangat penting bagi studi homokiralitas. Reaksi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan ketidakseimbangan kiral dapat terjadi melalui mekanisme kimia, bukan semata-mata karena campur tangan sistem biologis yang sudah terbentuk.

Namun, reaksi Soai di laboratorium bukan bukti langsung bahwa proses yang sama persis pasti terjadi ketika kehidupan pertama kali muncul. Temuan itu menyediakan model dan prinsip kimia yang dapat digunakan untuk menyelidiki kemungkinan tersebut lebih jauh.

Mengapa bentuk molekul penting bagi obat?

Dampak penelitian Kagan dan Soai tidak berhenti pada pertanyaan tentang asal-usul kehidupan. Pengendalian kiralitas juga mempunyai arti besar dalam industri farmasi.

Banyak bahan aktif obat merupakan molekul kiral. Karena tubuh manusia juga memiliki struktur molekuler tiga dimensi, kedua enantiomer dari suatu senyawa dapat berinteraksi secara berbeda dengan enzim, reseptor, atau target biologis lainnya.

Salah satu bentuk mungkin memberikan efek terapi yang diinginkan, sedangkan bentuk pasangannya dapat memiliki aktivitas yang lebih lemah, berbeda, atau menimbulkan efek samping. Dampak sebenarnya bergantung pada struktur dan sifat masing-masing senyawa; tidak semua pasangan enantiomer otomatis memiliki satu bentuk yang bermanfaat dan satu bentuk yang berbahaya.

Bagi industri farmasi, kemampuan menghasilkan bentuk molekul yang tepat merupakan persoalan mendasar. Proses produksi harus mempertimbangkan bukan hanya kemurnian kimia, tetapi juga kemurnian enantiomer, konsistensi produk, keamanan, dan efektivitasnya.

Melalui sintesis asimetris, ahli kimia dapat merancang reaksi yang lebih selektif untuk menghasilkan enantiomer yang dibutuhkan. Pendekatan ini membantu mengurangi pembentukan bentuk yang tidak diinginkan serta dapat meningkatkan efisiensi proses produksi.

Kendali terhadap kiralitas juga relevan dalam pembuatan bahan kimia untuk industri pangan, wewangian, dan material tertentu. Perbedaan susunan tiga dimensi dapat memengaruhi cara suatu senyawa berinteraksi dengan sistem biologis maupun sifat fisik dan kimianya.

Karena itu, kemampuan mengendalikan bentuk molekul merupakan bagian penting dari upaya merancang bahan kimia sesuai kebutuhan.

Dari laboratorium menuju kehidupan

Penghargaan Nobel Kimia 2026 memperlihatkan hubungan erat antara penelitian dasar dan penerapan teknologi.

Pada satu sisi, Kagan dan Soai membantu menjelaskan prinsip tentang bagaimana suatu reaksi dapat lebih memilih satu bentuk molekul dibandingkan bentuk lainnya. Pada sisi lain, prinsip yang sama memberikan cara bagi para ilmuwan untuk mengembangkan proses sintesis yang lebih terkendali.

Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa pertanyaan mendasar dalam ilmu pengetahuan tidak selalu terpisah dari kebutuhan praktis masyarakat. Pemahaman tentang susunan molekul dapat berpengaruh terhadap kualitas obat, efisiensi manufaktur kimia, dan pengembangan bahan baru.

Lebih jauh lagi, penelitian mengenai homokiralitas mempertemukan kimia dengan biologi evolusioner dan studi tentang asal-usul kehidupan. Para ilmuwan tidak hanya menanyakan bagaimana suatu molekul terbentuk, tetapi juga bagaimana pola tertentu dapat menjadi dominan dalam lingkungan kimia yang kompleks.

Pertanyaan itu masih menyisakan banyak ruang penelitian. Bagaimana ketidakseimbangan kiral pertama kali muncul di Bumi purba? Faktor lingkungan apa yang mungkin membantu mempertahankannya? Bagaimana proses kimia sederhana berkembang menjadi sistem yang mampu memperbanyak diri dan akhirnya mendukung kehidupan?

Penelitian tentang reaksi asimetris dan autokatalisis belum memberikan jawaban lengkap untuk seluruh pertanyaan tersebut. Namun, keduanya menunjukkan mekanisme yang masuk akal dan dapat diuji untuk memahami bagaimana ketidakseimbangan molekuler bisa muncul serta diperkuat.

Misteri kecil dengan konsekuensi besar

Kisah di balik Nobel Kimia 2026 berawal dari perbedaan yang nyaris tak terlihat tanpa pemahaman kimia tiga dimensi. Dua molekul dapat tersusun dari jenis atom dan ikatan yang sama, tetapi memiliki orientasi ruang yang berbeda. Perbedaan kecil itu dapat mengubah cara keduanya berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

Henri Kagan membantu menjelaskan bagaimana ketidakseimbangan kiral dapat diperbesar melalui reaksi kimia. Kenso Soai menunjukkan bagaimana produk suatu reaksi dapat ikut memperkuat pembentukan produk dengan bentuk kiral yang sama.

Bersama-sama, penelitian mereka membantu menghubungkan dua persoalan penting: bagaimana ahli kimia dapat mengendalikan bentuk molekul dan bagaimana dominasi satu bentuk molekul mungkin muncul dalam sistem kimia yang lebih kompleks.

Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dibangun bukan hanya oleh jenis atom yang tepat, tetapi juga oleh susunan dan orientasi atom-atom tersebut. Dalam skala molekuler, perbedaan antara kiri dan kanan dapat menentukan jalannya reaksi, sifat suatu bahan, dan cara tubuh merespons sebuah obat.

Misteri bentuk molekul mungkin belum sepenuhnya terpecahkan. Namun, melalui penelitian yang teliti dan eksperimen yang terarah, para ilmuwan telah menemukan cara yang semakin kuat untuk memahami dan mengendalikan salah satu ciri mendasar kimia kehidupan.

referensi:

CNN Indonesia — Kagan dan Soai Raih Nobel Kimia 2026 Berkat Riset Molekul Kiri-Kanan

Kompas.id — Ilmuwan Asal Perancis dan Jepang Raih Nobel Kimia 2026

ANTARA — Dua Ilmuwan Raih Nobel Kimia 2026 usai Jawab Misteri Homokiralitas.

Nature — Chemistry Nobel awarded for solving mystery of how ‘handed’ organic molecules can emerge.

Royal Society of Chemistry — Nobel Prize for Chemistry 2026

Informasi terkait

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB