Dari kubah gambut Riau hingga Tasik Nambus di Pulau Tebing Tinggi, ekosistem lahan basah ini menyimpan air tawar, karbon purba, dan kehidupan yang terbentuk melalui proses alam selama ribuan tahun. Ketika airnya dikuras, yang hilang bukan sekadar hutan, melainkan keseimbangan ekologis yang sulit dipulihkan.
Ada sesuatu yang tidak terlihat di balik hamparan hutan rawa gambut di pesisir timur Sumatra. Di bawah pepohonan yang tumbuh di atas tanah lunak dan basah, tersimpan lapisan bahan organik yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Lapisan ini bukan sekadar tanah. Ia adalah arsip panjang perjalanan iklim, penyimpan karbon, sekaligus reservoir air yang menopang kehidupan di sekitarnya.
Di Provinsi Riau, bentang gambut seperti ini membentuk bagian penting dari lanskap pesisir. Salah satu contoh menarik terdapat di Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di pulau yang dikelilingi lingkungan pesisir tersebut, kubah gambut, hutan rawa, dan danau air gambut membentuk suatu sistem ekologis yang khas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik keunikannya, ekosistem ini menyimpan kerentanan besar. Keseimbangannya sangat bergantung pada air. Ketika air dikeluarkan melalui kanal drainase, gambut yang selama ribuan tahun menyimpan karbon dapat berubah menjadi sumber emisi. Permukaannya perlahan turun, vegetasinya mengalami perubahan, dan risiko kebakaran meningkat.
Persoalannya bukan semata-mata bagaimana memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga agar gambut tidak kehilangan kondisi alami yang membuatnya mampu bertahan.
Tanah yang Terbentuk Lebih Lama daripada Peradaban
Gambut terbentuk ketika sisa tumbuhan menumpuk dan tidak terurai secara sempurna karena lingkungan yang terus-menerus atau dominan jenuh air. Kekurangan oksigen memperlambat aktivitas mikroorganisme pengurai. Akibatnya, bahan organik terakumulasi dan membentuk lapisan gambut yang dapat semakin tebal seiring berjalannya waktu.
Proses ini berlangsung sangat lambat. Dalam bentang gambut tropis Indonesia, lapisan tersebut dapat merekam perubahan lingkungan selama ribuan tahun.
Penelitian tentang gambut tropis, antara lain oleh Page, Rieley, dan Banks, menunjukkan pentingnya ekosistem ini sebagai penyimpan karbon daratan. Sebagian karbon yang berasal dari tumbuhan tidak segera kembali ke atmosfer, melainkan tersimpan di dalam tanah gambut dalam jangka waktu yang panjang.
Di sinilah letak nilai strategisnya. Gambut bukan hanya habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Ekosistem ini juga membantu mengatur tata air, menyimpan karbon, dan menyediakan jasa lingkungan bagi masyarakat.
Tetapi kemampuan tersebut bergantung pada kondisi yang sangat spesifik: air harus tetap tersedia.
Dalam keadaan alami, air mengisi pori-pori gambut dan membatasi masuknya oksigen ke dalam lapisan tanah. Kondisi ini memperlambat pembusukan bahan organik sehingga karbon tetap tersimpan.
Ketika gambut dikeringkan, mekanismenya berubah. Oksigen masuk ke lapisan yang sebelumnya jenuh air. Penguraian bahan organik meningkat dan karbon dilepaskan ke atmosfer, terutama dalam bentuk karbon dioksida. Pada saat bersamaan, permukaan tanah dapat mengalami penurunan atau subsidensi.
Dengan kata lain, kerusakan gambut tidak selalu dimulai dari kobaran api. Ia dapat bermula dari sebuah kanal yang mengalirkan air keluar dari bentang lahan.
Gambut Kepulauan, Ekosistem yang Hidup dari Hujan
Keunikan gambut menjadi semakin menarik ketika kita melihatnya di wilayah kepulauan.
Pada Pulau Tebing Tinggi, seperti dijelaskan dalam kajian Haris Gunawan tentang gambut kepulauan, ekosistem gambut berkembang dalam ruang daratan yang terbatas dan berdekatan dengan laut. Bagian interior kubah gambut yang telah berkembang secara ombrotrofik terutama memperoleh pasokan air dan unsur hara dari hujan, bukan dari aliran air bermineral yang datang dari wilayah hulu.
Karakter ini membuat gambut kepulauan sangat bergantung pada keseimbangan antara curah hujan, penguapan, penyimpanan air di dalam gambut, dan aliran air menuju tepi pulau.
Ketika hujan turun, sebagian air tersimpan dalam ruang-ruang pori gambut. Sebagian lainnya bergerak perlahan melalui bentang lahan menuju bagian pinggir. Sistem tersebut bekerja seperti reservoir alami yang terbentuk tanpa bendungan buatan.
Namun, kemandirian hidrologis ini sekaligus menjadi sumber kerentanan. Ketika curah hujan berkurang atau air terus-menerus dialirkan keluar melalui kanal, cadangan air gambut dapat menyusut. Tidak ada pasokan air dari wilayah hulu yang selalu dapat diandalkan untuk menggantikannya.
Kajian mengenai dinamika hidrologi Pulau Padang yang dirujuk dalam artikel ilmiah Gunawan dan kolega juga menunjukkan pentingnya variasi curah hujan antartahun dalam memengaruhi simpanan dan aliran air pada bentang gambut kepulauan.
Karena itu, kanal yang tampak kecil di satu lokasi dapat membawa konsekuensi lebih luas apabila memengaruhi sistem air dalam satu bentang gambut.
Gambut kepulauan bukan sekadar kumpulan petak tanah basah. Ia merupakan satu kesatuan ekologis yang hubungan antarkomponennya tidak selalu terlihat dari permukaan.
Kubah, Tasik, dan Air Berwarna Teh
Salah satu ciri khas bentang gambut adalah terbentuknya kubah, yaitu akumulasi gambut yang permukaannya cenderung lebih tinggi di bagian tengah daripada di tepinya.
Bentuk ini berkembang melalui penumpukan bahan organik dalam waktu yang panjang. Pada kubah gambut yang ombrotrofik, air hujan menjadi sumber utama pasokan air. Dari bagian tengah yang lebih tinggi, air bergerak menuju bagian tepi dan saluran alami di sekelilingnya.
Bentuk permukaan tersebut tidak selalu menggambarkan ketebalan gambut di bawahnya. Penelitian Nasrul dan kolega mengenai Pulau Tebing Tinggi menunjukkan bahwa gambut yang sangat tebal dapat ditemukan pada bagian yang permukaannya tidak paling tinggi, terutama jika lapisan tersebut menutupi cekungan pada dasar mineral. Sebaliknya, permukaan yang tinggi tidak selalu berarti lapisan gambutnya paling tebal.
Artinya, terdapat dua bentuk bentang alam yang perlu dipahami sekaligus: permukaan gambut yang terlihat dan topografi dasar mineral yang tersembunyi di bawahnya. Keduanya merekam sejarah pembentukan pulau dengan cara berbeda.
Di dalam mosaik bentang gambut tersebut terdapat pula tasik, atau danau yang menjadi bagian dari sistem perairan gambut. Tasik Nambus merupakan salah satu unsur penting di Pulau Tebing Tinggi.
Air di perairan gambut sering berwarna cokelat tua hingga gelap, menyerupai teh pekat. Warna tersebut berkaitan dengan bahan organik terlarut, termasuk senyawa humik, yang berasal dari proses penguraian tumbuhan dan bergerak bersama air melalui matriks gambut.
Air berwarna gelap ini bukan berarti ekosistemnya tidak memiliki nilai. Sebaliknya, karakter kimia air gambut menunjukkan adanya hubungan erat antara tanah, vegetasi, mikroorganisme, dan perairan.
Bahan organik tidak hanya tersimpan di daratan. Sebagiannya ikut terbawa melalui jaringan perairan, kemudian mengalami perubahan selama perjalanan menuju sungai, estuari, dan laut. Penelitian tentang karbon organik terlarut pada ekosistem gambut menunjukkan bahwa aliran air merupakan bagian penting dari perpindahan karbon dalam lanskap tersebut.
Dengan demikian, kubah, hutan rawa, tasik, dan perairan pesisir bukanlah komponen yang berdiri sendiri. Semuanya membentuk jaringan ekologis yang saling terhubung.
Bagaimana Tanah Miskin Hara Menopang Hutan?
Gambut kepulauan menyimpan sebuah paradoks ilmiah. Tanahnya sangat masam, miskin mineral, dan relatif terbatas dalam menyediakan unsur hara. Namun, dalam kondisi alami, bentang ini tetap mampu menopang hutan dengan biomassa yang besar.
Penjelasannya terletak pada cara ekosistem mempertahankan dan mendaur ulang unsur hara.
Daun yang gugur, ranting, akar yang mati, serta bahan organik lainnya menjadi bagian dari siklus internal. Proses penguraian berlangsung lambat, sementara sebagian unsur hara yang tersedia digunakan kembali oleh vegetasi. Masukan dari hujan dan deposisi atmosfer turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan tersebut.
Sistem ini bekerja melalui hubungan yang rapat antara air, tumbuhan, mikroorganisme, dan bahan organik. Kesuburan mineral bukan satu-satunya penentu produktivitas ekosistem.
Namun, keseimbangan tersebut tidak kebal terhadap gangguan. Perubahan muka air dapat mengubah kondisi oksigen, jalur penguraian bahan organik, ketersediaan unsur hara, dan kestabilan karbon.
Gangguan hidrologi bahkan berpotensi melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun. Karbon yang dilepaskan itu tidak dapat begitu saja digantikan oleh penanaman pohon dalam waktu singkat. Mengembalikan lapisan gambut membutuhkan proses alam yang berlangsung jauh lebih lama daripada kebanyakan program pembangunan atau rehabilitasi.
Itulah sebabnya perlindungan gambut utuh memiliki arti yang berbeda dari sekadar menanam kembali pohon di lahan yang rusak. Yang dipertahankan bukan hanya vegetasinya, melainkan keseluruhan sistem yang memungkinkan gambut terbentuk dan menyimpan karbon.
Ketika Kanal Mengubah Hutan Menjadi Sumber Emisi
Persoalan besar muncul ketika gambut dimanfaatkan melalui sistem produksi yang mengandalkan drainase. Kanal dibuat untuk mengeluarkan air agar lahan dapat digunakan bagi kegiatan budidaya tertentu.
Dalam jangka pendek, pengeringan dapat mendukung aktivitas ekonomi. Akan tetapi, konsekuensi ekologisnya dapat berlangsung jauh melampaui lokasi kanal.
Ketika muka air turun, gambut menjadi lebih mudah terpapar oksigen. Penguraian bahan organik meningkat, karbon dilepaskan, dan permukaan tanah perlahan turun. Jika proses tersebut berlangsung terus-menerus, kapasitas gambut dalam menyimpan air ikut berubah.
Risiko kebakaran juga meningkat.
Gambut yang jenuh air relatif sulit terbakar. Sebaliknya, gambut yang mengering dapat mengalami kebakaran membara di bawah permukaan. Api semacam ini sulit dideteksi dan dipadamkan, bahkan dapat bertahan ketika kobaran api di permukaan telah mereda.
Karena itu, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di kawasan gambut tidak cukup dijelaskan sebagai akibat cuaca panas atau tindakan penyulutan api semata. Sumber api memang penting, tetapi tingkat kerusakan juga ditentukan oleh kondisi bahan bakar, tutupan vegetasi, jaringan drainase, dan kelembapan gambut.
Riau memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas persoalan ini. Berdasarkan pemetaan Kesatuan Hidrologis Gambut atau KHG dengan data 2015–2017 yang dirujuk dalam kajian Gunawan, provinsi ini memiliki 59 KHG dengan luas bentang sekitar 4,97 juta hektare.
Angka tersebut merupakan luas bentang KHG, bukan luas tanah gambut semata. Sekitar 2,38 juta hektare dikategorikan memiliki fungsi perlindungan ekosistem gambut, sementara sekitar 2,59 juta hektare memiliki fungsi budidaya.
Pembagian itu memperlihatkan besarnya bentang lahan yang harus dikelola dengan mempertimbangkan hubungan antara kepentingan ekonomi dan fungsi ekologis.
Air tidak mengenal batas administratif, kepemilikan tanah, ataupun batas konsesi. Kanal yang dibuat pada satu bidang lahan dapat memengaruhi kondisi air di bidang lainnya apabila keduanya berada dalam sistem hidrologis yang sama.
Itulah mengapa pengelolaan gambut tidak seharusnya berhenti pada perlindungan petak hutan tertentu. Pendekatannya perlu mengikuti Kesatuan Hidrologis Gambut sebagai satu sistem yang mencakup kubah, sungai, kanal, kawasan budidaya, hutan, dan lahan masyarakat.
Restorasi Tidak Cukup dengan Menanam Pohon
Jika air menjadi kunci kehidupan gambut, pemulihan ekosistemnya harus dimulai dari pemulihan tata air.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyekatan kanal untuk mengurangi kehilangan air dan membantu menaikkan muka air gambut. Upaya pembasahan kembali atau rewetting kemudian perlu diikuti pemulihan vegetasi, pengendalian sumber kebakaran, dan pengelolaan penggunaan lahan di sekitarnya.
Penelitian Hooijer dan kolega yang diterbitkan pada 2024 menunjukkan bahwa peningkatan muka air dalam program restorasi gambut skala besar di Sumatra berkaitan dengan penurunan laju subsidensi dan memungkinkan regenerasi alami berbagai jenis pohon rawa gambut.
Sementara itu, studi Salmayenti dan kolega yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa restorasi gambut melalui sekat kanal dan sumur berkontribusi terhadap penurunan kejadian titik panas pada wilayah yang dianalisis. Dalam analisis untuk tahun El Niño 2019, restorasi dikaitkan dengan penurunan kejadian titik panas sekitar 22 persen pada areal yang direstorasi.
Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti bahwa sekat kanal secara otomatis menyelesaikan masalah kebakaran. Efektivitas restorasi bergantung pada kondisi iklim, tutupan lahan, umur infrastruktur, dan kualitas pelaksanaannya.
Keberhasilan restorasi karena itu perlu dinilai dari perubahan fungsi ekosistem, bukan semata-mata jumlah sekat kanal yang dibangun atau bibit yang ditanam. Apakah muka air dapat dipertahankan? Apakah risiko kebakaran menurun? Apakah laju penurunan permukaan gambut berkurang? Apakah vegetasi kembali tumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih bermakna daripada sekadar menghitung keluaran fisik proyek.
Di sisi lain, masyarakat perlu dilibatkan sejak perencanaan hingga pemantauan. Restorasi akan sulit bertahan apabila warga tetap bergantung pada kegiatan ekonomi yang mensyaratkan pengeringan gambut.
Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah paludikultur, yakni kegiatan produksi yang mempertahankan lahan gambut dalam kondisi basah. Pilihan lainnya mencakup hasil hutan bukan kayu, madu, perikanan rawa, agroforestri lahan basah, dan usaha berbasis alam yang sesuai dengan karakter ekosistem.
Namun, pilihan tersebut membutuhkan dukungan teknologi, akses pasar, kepastian pengelolaan lahan, dan model usaha yang layak secara ekonomi. Perlindungan lingkungan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat tanpa memperhitungkan kebutuhan penghidupan mereka.
Menghitung Nilai yang Selama Ini Tidak Terlihat
Salah satu hambatan perlindungan gambut adalah ketimpangan antara nilai ekonomi yang mudah dihitung dan manfaat ekologis yang sering tidak masuk dalam perhitungan bisnis.
Hasil perkebunan atau komoditas dapat dinilai melalui harga jual. Sebaliknya, nilai karbon yang tersimpan, kemampuan mengatur air, pengurangan risiko kebakaran, dan perlindungan keanekaragaman hayati tidak selalu tercermin dalam harga pasar.
Kajian Rossita dan kolega pada KHG Gaung–Batang Tuaka di Riau memberikan ilustrasi mengenai persoalan tersebut. Dalam skenario perubahan penggunaan lahan yang mereka analisis, peningkatan nilai jasa produksi diperkirakan sekitar 0,50 juta dolar AS per tahun, sedangkan kehilangan manfaat jasa karbon diperkirakan sekitar 5,28 juta dolar AS per tahun.
Angka tersebut berlaku untuk skenario dan wilayah studi yang diteliti, bukan untuk seluruh Provinsi Riau. Namun, perbandingannya memperlihatkan bahwa keuntungan produksi yang terlihat secara langsung dapat disertai kerugian ekologis yang lebih besar ketika manfaat karbon ikut diperhitungkan.
Di sinilah konsep jasa lingkungan menjadi relevan. Penyimpanan karbon, pengaturan tata air, perlindungan habitat, dan pengurangan risiko kebakaran dapat dipandang sebagai manfaat yang memiliki nilai ekonomi.
Skema pembayaran jasa lingkungan atau pendanaan karbon berpotensi membantu membiayai restorasi. Namun, mekanisme tersebut harus disertai pengukuran yang transparan, pemantauan yang dapat dipercaya, kepastian tenurial, serta pembagian manfaat yang adil bagi masyarakat.
Tujuannya bukan sekadar memberi harga pada alam, melainkan memastikan bahwa nilai ekonomi tidak hanya diperoleh dari pemanfaatan lahan, tetapi juga dari upaya menjaga agar ekosistem tetap berfungsi.
Menjaga Air, Menjaga Masa Depan
Gambut tropis Indonesia dan gambut kepulauan seperti yang terdapat di Pulau Tebing Tinggi memperlihatkan satu pelajaran penting: ketahanan ekosistem tidak selalu ditentukan oleh apa yang tampak di permukaan.
Di balik hutan, danau, dan hamparan lahan basah, terdapat hubungan rumit antara hujan, air tanah, vegetasi, mikroorganisme, dan karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun.
Ketika hubungan itu terganggu, dampaknya dapat menjalar dari perubahan kimia tanah hingga peningkatan emisi, subsidensi, kebakaran, dan perubahan kondisi perairan.
Karena itu, perlindungan gambut perlu bergeser dari pendekatan yang berpusat pada pemadaman kebakaran menuju pencegahan melalui pengelolaan ekosistem. Restorasi harus dilakukan pada skala bentang hidrologis, didukung pemantauan ilmiah, serta diintegrasikan dengan penghidupan masyarakat.
Pada saat yang sama, gambut yang masih utuh perlu mendapatkan perlindungan tertinggi. Mencegah kerusakan pada ekosistem yang masih berfungsi jauh lebih masuk akal daripada mencoba membangun kembali seluruh proses alam setelah mengalami kerusakan berat.
Tasik Nambus dan kubah-kubah gambut Pulau Tebing Tinggi mengingatkan kita bahwa bentang alam yang tampak sederhana sesungguhnya menyimpan sejarah panjang bumi. Air yang mengisi pori-pori gambut bukan hanya bagian dari siklus hujan, tetapi juga penjaga karbon, pembentuk habitat, dan penentu keberlanjutan ekosistem.
Menjaga gambut pada akhirnya bukan sekadar menjaga sebidang tanah agar tidak terbakar. Ini adalah upaya mempertahankan sistem kehidupan yang terbentuk selama ribuan tahun, agar manfaatnya tidak lenyap hanya dalam beberapa dekade akibat keputusan manusia yang mengabaikan air.
Sumber utama
- Gunawan, Haris. Ekosistem Gambut Tropis Indonesia dan Riau. International Tropical Peatland Center, PUI Gambut Universitas Riau.
- Gunawan, Haris. Gambut Kepulauan sebagai Sistem Ekohidrologis Ombrotrofik: Keunikan Biogeokimia, Kubah, dan Tasik pada KHG Pulau Tebing Tinggi. International Tropical Peatland Center, PUI Gambut Universitas Riau.
Rujukan penelitian pilihan
- Hooijer, A., dkk. (2024). “Benefits of tropical peatland rewetting for subsidence reduction and forest regrowth: Results from a large-scale restoration trial.” Scientific Reports.
- Rossita, A., dkk. (2021). “Assessing the monetary value of ecosystem services provided by Gaung–Batang Tuaka Peat Hydrological Unit (KHG), Riau Province.” Heliyon.
- Salmayenti, R., dkk. (2026). “Tropical peatland restoration reduces fire occurrence.” Geophysical Research Letters.
- Nasrul, B., dkk. (2020). “The relationship between surface topography and peat thickness on Tebing Tinggi Island, Indonesia.” Mires and Peat.
Ada sesuatu yang tidak terlihat di balik hamparan hutan rawa gambut di pesisir timur Sumatra. Di bawah pepohonan yang tumbuh di atas tanah lunak dan basah, tersimpan lapisan bahan organik yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan selama ribuan tahun. Lapisan ini bukan sekadar tanah. Ia adalah arsip panjang perjalanan iklim, penyimpan karbon, sekaligus reservoir air yang menopang kehidupan di sekitarnya.
Di Provinsi Riau, bentang gambut seperti ini membentuk bagian penting dari lanskap pesisir. Salah satu contoh menarik terdapat di Pulau Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti. Di pulau yang dikelilingi lingkungan pesisir tersebut, kubah gambut, hutan rawa, dan danau air gambut membentuk suatu sistem ekologis yang khas.
Namun, di balik keunikannya, ekosistem ini menyimpan kerentanan besar. Keseimbangannya sangat bergantung pada air. Ketika air dikeluarkan melalui kanal drainase, gambut yang selama ribuan tahun menyimpan karbon dapat berubah menjadi sumber emisi. Permukaannya perlahan turun, vegetasinya mengalami perubahan, dan risiko kebakaran meningkat.
Persoalannya bukan semata-mata bagaimana memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga agar gambut tidak kehilangan kondisi alami yang membuatnya mampu bertahan.
Tanah yang Terbentuk Lebih Lama daripada Peradaban
Gambut terbentuk ketika sisa tumbuhan menumpuk dan tidak terurai secara sempurna karena lingkungan yang terus-menerus atau dominan jenuh air. Kekurangan oksigen memperlambat aktivitas mikroorganisme pengurai. Akibatnya, bahan organik terakumulasi dan membentuk lapisan gambut yang dapat semakin tebal seiring berjalannya waktu.
Proses ini berlangsung sangat lambat. Dalam bentang gambut tropis Indonesia, lapisan tersebut dapat merekam perubahan lingkungan selama ribuan tahun.
Penelitian tentang gambut tropis, antara lain oleh Page, Rieley, dan Banks, menunjukkan pentingnya ekosistem ini sebagai penyimpan karbon daratan. Sebagian karbon yang berasal dari tumbuhan tidak segera kembali ke atmosfer, melainkan tersimpan di dalam tanah gambut dalam jangka waktu yang panjang.
Di sinilah letak nilai strategisnya. Gambut bukan hanya habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Ekosistem ini juga membantu mengatur tata air, menyimpan karbon, dan menyediakan jasa lingkungan bagi masyarakat.
Tetapi kemampuan tersebut bergantung pada kondisi yang sangat spesifik: air harus tetap tersedia.
Dalam keadaan alami, air mengisi pori-pori gambut dan membatasi masuknya oksigen ke dalam lapisan tanah. Kondisi ini memperlambat pembusukan bahan organik sehingga karbon tetap tersimpan.
Ketika gambut dikeringkan, mekanismenya berubah. Oksigen masuk ke lapisan yang sebelumnya jenuh air. Penguraian bahan organik meningkat dan karbon dilepaskan ke atmosfer, terutama dalam bentuk karbon dioksida. Pada saat bersamaan, permukaan tanah dapat mengalami penurunan atau subsidensi.
Dengan kata lain, kerusakan gambut tidak selalu dimulai dari kobaran api. Ia dapat bermula dari sebuah kanal yang mengalirkan air keluar dari bentang lahan.
Gambut Kepulauan, Ekosistem yang Hidup dari Hujan
Keunikan gambut menjadi semakin menarik ketika kita melihatnya di wilayah kepulauan.
Pada Pulau Tebing Tinggi, seperti dijelaskan dalam kajian Haris Gunawan tentang gambut kepulauan, ekosistem gambut berkembang dalam ruang daratan yang terbatas dan berdekatan dengan laut. Bagian interior kubah gambut yang telah berkembang secara ombrotrofik terutama memperoleh pasokan air dan unsur hara dari hujan, bukan dari aliran air bermineral yang datang dari wilayah hulu.
Karakter ini membuat gambut kepulauan sangat bergantung pada keseimbangan antara curah hujan, penguapan, penyimpanan air di dalam gambut, dan aliran air menuju tepi pulau.
Ketika hujan turun, sebagian air tersimpan dalam ruang-ruang pori gambut. Sebagian lainnya bergerak perlahan melalui bentang lahan menuju bagian pinggir. Sistem tersebut bekerja seperti reservoir alami yang terbentuk tanpa bendungan buatan.
Namun, kemandirian hidrologis ini sekaligus menjadi sumber kerentanan. Ketika curah hujan berkurang atau air terus-menerus dialirkan keluar melalui kanal, cadangan air gambut dapat menyusut. Tidak ada pasokan air dari wilayah hulu yang selalu dapat diandalkan untuk menggantikannya.
Kajian mengenai dinamika hidrologi Pulau Padang yang dirujuk dalam artikel ilmiah Gunawan dan kolega juga menunjukkan pentingnya variasi curah hujan antartahun dalam memengaruhi simpanan dan aliran air pada bentang gambut kepulauan.
Karena itu, kanal yang tampak kecil di satu lokasi dapat membawa konsekuensi lebih luas apabila memengaruhi sistem air dalam satu bentang gambut.
Gambut kepulauan bukan sekadar kumpulan petak tanah basah. Ia merupakan satu kesatuan ekologis yang hubungan antarkomponennya tidak selalu terlihat dari permukaan.
Kubah, Tasik, dan Air Berwarna Teh
Salah satu ciri khas bentang gambut adalah terbentuknya kubah, yaitu akumulasi gambut yang permukaannya cenderung lebih tinggi di bagian tengah daripada di tepinya.
Bentuk ini berkembang melalui penumpukan bahan organik dalam waktu yang panjang. Pada kubah gambut yang ombrotrofik, air hujan menjadi sumber utama pasokan air. Dari bagian tengah yang lebih tinggi, air bergerak menuju bagian tepi dan saluran alami di sekelilingnya.
Bentuk permukaan tersebut tidak selalu menggambarkan ketebalan gambut di bawahnya. Penelitian Nasrul dan kolega mengenai Pulau Tebing Tinggi menunjukkan bahwa gambut yang sangat tebal dapat ditemukan pada bagian yang permukaannya tidak paling tinggi, terutama jika lapisan tersebut menutupi cekungan pada dasar mineral. Sebaliknya, permukaan yang tinggi tidak selalu berarti lapisan gambutnya paling tebal.
Artinya, terdapat dua bentuk bentang alam yang perlu dipahami sekaligus: permukaan gambut yang terlihat dan topografi dasar mineral yang tersembunyi di bawahnya. Keduanya merekam sejarah pembentukan pulau dengan cara berbeda.
Di dalam mosaik bentang gambut tersebut terdapat pula tasik, atau danau yang menjadi bagian dari sistem perairan gambut. Tasik Nambus merupakan salah satu unsur penting di Pulau Tebing Tinggi.
Air di perairan gambut sering berwarna cokelat tua hingga gelap, menyerupai teh pekat. Warna tersebut berkaitan dengan bahan organik terlarut, termasuk senyawa humik, yang berasal dari proses penguraian tumbuhan dan bergerak bersama air melalui matriks gambut.
Air berwarna gelap ini bukan berarti ekosistemnya tidak memiliki nilai. Sebaliknya, karakter kimia air gambut menunjukkan adanya hubungan erat antara tanah, vegetasi, mikroorganisme, dan perairan.
Bahan organik tidak hanya tersimpan di daratan. Sebagiannya ikut terbawa melalui jaringan perairan, kemudian mengalami perubahan selama perjalanan menuju sungai, estuari, dan laut. Penelitian tentang karbon organik terlarut pada ekosistem gambut menunjukkan bahwa aliran air merupakan bagian penting dari perpindahan karbon dalam lanskap tersebut.
Dengan demikian, kubah, hutan rawa, tasik, dan perairan pesisir bukanlah komponen yang berdiri sendiri. Semuanya membentuk jaringan ekologis yang saling terhubung.
Bagaimana Tanah Miskin Hara Menopang Hutan?
Gambut kepulauan menyimpan sebuah paradoks ilmiah. Tanahnya sangat masam, miskin mineral, dan relatif terbatas dalam menyediakan unsur hara. Namun, dalam kondisi alami, bentang ini tetap mampu menopang hutan dengan biomassa yang besar.
Penjelasannya terletak pada cara ekosistem mempertahankan dan mendaur ulang unsur hara.
Daun yang gugur, ranting, akar yang mati, serta bahan organik lainnya menjadi bagian dari siklus internal. Proses penguraian berlangsung lambat, sementara sebagian unsur hara yang tersedia digunakan kembali oleh vegetasi. Masukan dari hujan dan deposisi atmosfer turut berperan dalam mempertahankan keseimbangan tersebut.
Sistem ini bekerja melalui hubungan yang rapat antara air, tumbuhan, mikroorganisme, dan bahan organik. Kesuburan mineral bukan satu-satunya penentu produktivitas ekosistem.
Namun, keseimbangan tersebut tidak kebal terhadap gangguan. Perubahan muka air dapat mengubah kondisi oksigen, jalur penguraian bahan organik, ketersediaan unsur hara, dan kestabilan karbon.
Gangguan hidrologi bahkan berpotensi melepaskan karbon yang telah tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun. Karbon yang dilepaskan itu tidak dapat begitu saja digantikan oleh penanaman pohon dalam waktu singkat. Mengembalikan lapisan gambut membutuhkan proses alam yang berlangsung jauh lebih lama daripada kebanyakan program pembangunan atau rehabilitasi.
Itulah sebabnya perlindungan gambut utuh memiliki arti yang berbeda dari sekadar menanam kembali pohon di lahan yang rusak. Yang dipertahankan bukan hanya vegetasinya, melainkan keseluruhan sistem yang memungkinkan gambut terbentuk dan menyimpan karbon.
Ketika Kanal Mengubah Hutan Menjadi Sumber Emisi
Persoalan besar muncul ketika gambut dimanfaatkan melalui sistem produksi yang mengandalkan drainase. Kanal dibuat untuk mengeluarkan air agar lahan dapat digunakan bagi kegiatan budidaya tertentu.
Dalam jangka pendek, pengeringan dapat mendukung aktivitas ekonomi. Akan tetapi, konsekuensi ekologisnya dapat berlangsung jauh melampaui lokasi kanal.
Ketika muka air turun, gambut menjadi lebih mudah terpapar oksigen. Penguraian bahan organik meningkat, karbon dilepaskan, dan permukaan tanah perlahan turun. Jika proses tersebut berlangsung terus-menerus, kapasitas gambut dalam menyimpan air ikut berubah.
Risiko kebakaran juga meningkat.
Gambut yang jenuh air relatif sulit terbakar. Sebaliknya, gambut yang mengering dapat mengalami kebakaran membara di bawah permukaan. Api semacam ini sulit dideteksi dan dipadamkan, bahkan dapat bertahan ketika kobaran api di permukaan telah mereda.
Karena itu, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di kawasan gambut tidak cukup dijelaskan sebagai akibat cuaca panas atau tindakan penyulutan api semata. Sumber api memang penting, tetapi tingkat kerusakan juga ditentukan oleh kondisi bahan bakar, tutupan vegetasi, jaringan drainase, dan kelembapan gambut.
Riau memberikan gambaran nyata mengenai kompleksitas persoalan ini. Berdasarkan pemetaan Kesatuan Hidrologis Gambut atau KHG dengan data 2015–2017 yang dirujuk dalam kajian Gunawan, provinsi ini memiliki 59 KHG dengan luas bentang sekitar 4,97 juta hektare.
Angka tersebut merupakan luas bentang KHG, bukan luas tanah gambut semata. Sekitar 2,38 juta hektare dikategorikan memiliki fungsi perlindungan ekosistem gambut, sementara sekitar 2,59 juta hektare memiliki fungsi budidaya.
Pembagian itu memperlihatkan besarnya bentang lahan yang harus dikelola dengan mempertimbangkan hubungan antara kepentingan ekonomi dan fungsi ekologis.
Air tidak mengenal batas administratif, kepemilikan tanah, ataupun batas konsesi. Kanal yang dibuat pada satu bidang lahan dapat memengaruhi kondisi air di bidang lainnya apabila keduanya berada dalam sistem hidrologis yang sama.
Itulah mengapa pengelolaan gambut tidak seharusnya berhenti pada perlindungan petak hutan tertentu. Pendekatannya perlu mengikuti Kesatuan Hidrologis Gambut sebagai satu sistem yang mencakup kubah, sungai, kanal, kawasan budidaya, hutan, dan lahan masyarakat.
Restorasi Tidak Cukup dengan Menanam Pohon
Jika air menjadi kunci kehidupan gambut, pemulihan ekosistemnya harus dimulai dari pemulihan tata air.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyekatan kanal untuk mengurangi kehilangan air dan membantu menaikkan muka air gambut. Upaya pembasahan kembali atau rewetting kemudian perlu diikuti pemulihan vegetasi, pengendalian sumber kebakaran, dan pengelolaan penggunaan lahan di sekitarnya.
Penelitian Hooijer dan kolega yang diterbitkan pada 2024 menunjukkan bahwa peningkatan muka air dalam program restorasi gambut skala besar di Sumatra berkaitan dengan penurunan laju subsidensi dan memungkinkan regenerasi alami berbagai jenis pohon rawa gambut.
Sementara itu, studi Salmayenti dan kolega yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa restorasi gambut melalui sekat kanal dan sumur berkontribusi terhadap penurunan kejadian titik panas pada wilayah yang dianalisis. Dalam analisis untuk tahun El Niño 2019, restorasi dikaitkan dengan penurunan kejadian titik panas sekitar 22 persen pada areal yang direstorasi.
Meski demikian, hasil tersebut tidak berarti bahwa sekat kanal secara otomatis menyelesaikan masalah kebakaran. Efektivitas restorasi bergantung pada kondisi iklim, tutupan lahan, umur infrastruktur, dan kualitas pelaksanaannya.
Keberhasilan restorasi karena itu perlu dinilai dari perubahan fungsi ekosistem, bukan semata-mata jumlah sekat kanal yang dibangun atau bibit yang ditanam. Apakah muka air dapat dipertahankan? Apakah risiko kebakaran menurun? Apakah laju penurunan permukaan gambut berkurang? Apakah vegetasi kembali tumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih bermakna daripada sekadar menghitung keluaran fisik proyek.
Di sisi lain, masyarakat perlu dilibatkan sejak perencanaan hingga pemantauan. Restorasi akan sulit bertahan apabila warga tetap bergantung pada kegiatan ekonomi yang mensyaratkan pengeringan gambut.
Salah satu alternatif yang dapat dikembangkan adalah paludikultur, yakni kegiatan produksi yang mempertahankan lahan gambut dalam kondisi basah. Pilihan lainnya mencakup hasil hutan bukan kayu, madu, perikanan rawa, agroforestri lahan basah, dan usaha berbasis alam yang sesuai dengan karakter ekosistem.
Namun, pilihan tersebut membutuhkan dukungan teknologi, akses pasar, kepastian pengelolaan lahan, dan model usaha yang layak secara ekonomi. Perlindungan lingkungan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat tanpa memperhitungkan kebutuhan penghidupan mereka.
Menghitung Nilai yang Selama Ini Tidak Terlihat
Salah satu hambatan perlindungan gambut adalah ketimpangan antara nilai ekonomi yang mudah dihitung dan manfaat ekologis yang sering tidak masuk dalam perhitungan bisnis.
Hasil perkebunan atau komoditas dapat dinilai melalui harga jual. Sebaliknya, nilai karbon yang tersimpan, kemampuan mengatur air, pengurangan risiko kebakaran, dan perlindungan keanekaragaman hayati tidak selalu tercermin dalam harga pasar.
Kajian Rossita dan kolega pada KHG Gaung–Batang Tuaka di Riau memberikan ilustrasi mengenai persoalan tersebut. Dalam skenario perubahan penggunaan lahan yang mereka analisis, peningkatan nilai jasa produksi diperkirakan sekitar 0,50 juta dolar AS per tahun, sedangkan kehilangan manfaat jasa karbon diperkirakan sekitar 5,28 juta dolar AS per tahun.
Angka tersebut berlaku untuk skenario dan wilayah studi yang diteliti, bukan untuk seluruh Provinsi Riau. Namun, perbandingannya memperlihatkan bahwa keuntungan produksi yang terlihat secara langsung dapat disertai kerugian ekologis yang lebih besar ketika manfaat karbon ikut diperhitungkan.
Di sinilah konsep jasa lingkungan menjadi relevan. Penyimpanan karbon, pengaturan tata air, perlindungan habitat, dan pengurangan risiko kebakaran dapat dipandang sebagai manfaat yang memiliki nilai ekonomi.
Skema pembayaran jasa lingkungan atau pendanaan karbon berpotensi membantu membiayai restorasi. Namun, mekanisme tersebut harus disertai pengukuran yang transparan, pemantauan yang dapat dipercaya, kepastian tenurial, serta pembagian manfaat yang adil bagi masyarakat.
Tujuannya bukan sekadar memberi harga pada alam, melainkan memastikan bahwa nilai ekonomi tidak hanya diperoleh dari pemanfaatan lahan, tetapi juga dari upaya menjaga agar ekosistem tetap berfungsi.
Menjaga Air, Menjaga Masa Depan
Gambut tropis Indonesia dan gambut kepulauan seperti yang terdapat di Pulau Tebing Tinggi memperlihatkan satu pelajaran penting: ketahanan ekosistem tidak selalu ditentukan oleh apa yang tampak di permukaan.
Di balik hutan, danau, dan hamparan lahan basah, terdapat hubungan rumit antara hujan, air tanah, vegetasi, mikroorganisme, dan karbon yang telah tersimpan selama ribuan tahun.
Ketika hubungan itu terganggu, dampaknya dapat menjalar dari perubahan kimia tanah hingga peningkatan emisi, subsidensi, kebakaran, dan perubahan kondisi perairan.
Karena itu, perlindungan gambut perlu bergeser dari pendekatan yang berpusat pada pemadaman kebakaran menuju pencegahan melalui pengelolaan ekosistem. Restorasi harus dilakukan pada skala bentang hidrologis, didukung pemantauan ilmiah, serta diintegrasikan dengan penghidupan masyarakat.
Pada saat yang sama, gambut yang masih utuh perlu mendapatkan perlindungan tertinggi. Mencegah kerusakan pada ekosistem yang masih berfungsi jauh lebih masuk akal daripada mencoba membangun kembali seluruh proses alam setelah mengalami kerusakan berat.
Tasik Nambus dan kubah-kubah gambut Pulau Tebing Tinggi mengingatkan kita bahwa bentang alam yang tampak sederhana sesungguhnya menyimpan sejarah panjang bumi. Air yang mengisi pori-pori gambut bukan hanya bagian dari siklus hujan, tetapi juga penjaga karbon, pembentuk habitat, dan penentu keberlanjutan ekosistem.
Menjaga gambut pada akhirnya bukan sekadar menjaga sebidang tanah agar tidak terbakar. Ini adalah upaya mempertahankan sistem kehidupan yang terbentuk selama ribuan tahun, agar manfaatnya tidak lenyap hanya dalam beberapa dekade akibat keputusan manusia yang mengabaikan air.
Sumber utama
- Gunawan, Haris. Ekosistem Gambut Tropis Indonesia dan Riau. International Tropical Peatland Center, PUI Gambut Universitas Riau.
- Gunawan, Haris. Gambut Kepulauan sebagai Sistem Ekohidrologis Ombrotrofik: Keunikan Biogeokimia, Kubah, dan Tasik pada KHG Pulau Tebing Tinggi. International Tropical Peatland Center, PUI Gambut Universitas Riau.
Rujukan penelitian pilihan
- Hooijer, A., dkk. (2024). “Benefits of tropical peatland rewetting for subsidence reduction and forest regrowth: Results from a large-scale restoration trial.” Scientific Reports.
- Rossita, A., dkk. (2021). “Assessing the monetary value of ecosystem services provided by Gaung–Batang Tuaka Peat Hydrological Unit (KHG), Riau Province.” Heliyon.
- Salmayenti, R., dkk. (2026). “Tropical peatland restoration reduces fire occurrence.” Geophysical Research Letters.
- Nasrul, B., dkk. (2020). “The relationship between surface topography and peat thickness on Tebing Tinggi Island, Indonesia.” Mires and Peat.














