Perusakan Mangrove Sebabkan Pelepasan Karbon

- Editor

Selasa, 12 April 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hutan mangrove memiliki kerapatan empat kali lebih besar dibandingkan hutan tropis pada umumnya. Potensi penyimpanan karbon pun berbanding jauh lebih besar.

Meski demikian, potensi ini belum dilirik sebagai bagian dari usaha pengurangan emisi karbon ke atmosfer. Perusakan terhadap tanaman mangrove terus terjadi dan menyebabkan kerusakan substrat di bawahnya. Lebih lanjut, melepaskan gas nitroksida yang kuantitasnya ratusan kali gas karbon dioksida.

Daniel Murdiyarso, peneliti senior Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), Senin (11/4) di Bali, menjelaskan, pembicaraan mengenai peran penting hutan lahan basah tropis dalam perubahan iklim dapat diperlebar untuk menyertakan mangrove. Mangrove atau biasa disebut bakau memiliki kesamaan sifat dengan lahan gambut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mangrove dan gambut menghadapi deforestasi dan degradasi yang cukup serius. Karena itu, menurut Daniel, perlindungan terhadap mangrove mutlak dilakukan, seperti instrumen yang telah disusun pada bakau.

Ia mencatat laju kerusakan mangrove di Kalimantan mencapai 7 persen dalam lima tahun terakhir. Perusakan disebabkan penggunaan lahan untuk budidaya perikanan, infrastruktur, dan usaha lain. Di Jawa, dampak perusakan mangrove telah dirasakan, yaitu abrasi tinggi dan kesulitan mencari ikan.

Hasil penelitian CIFOR dan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) Bidang Kehutanan yang dirilis pekan lalu memperlihatkan, kepadatan karbon hutan mangrove lebih tinggi empat kali daripada hutan tropis umumnya. Perusakan dan degradasi ekosistem mangrove diperkirakan menghasilkan hingga 10 persen dari emisi deforestasi global. Padahal, luas hutan mangrove hanya 0,7 persen dari hutan tropis. Karbon lebih banyak tersimpan di bawah hutan bakau daripada di atas permukaan tanah dan air. Data terakhir menunjukkan, Indonesia memiliki 3,1 juta hektar mangrove atau 22,6 persen dunia. Mangrove penting untuk melindungi pantai dari abrasi dan terjangan badai sehingga berharga bagi Indonesia yang memiliki garis pantai sepanjang 55.000 kilometer, terpanjang kedua setelah Kanada.

Stephen Crooks, Direktur Perubahan Iklim Biro Konsultasi Perlindungan, Peningkatan, dan Perbaikan Ekosistem yang Bergantung pada Air (ESA-PWA), menjelaskan, hutan mangrove, rawa pasang surut, dan padang lamun menghilangkan karbon dari atmosfer serta menguncinya di dalam tanah selama ratusan hingga ribuan tahun. Tidak seperti hutan daratan umumnya, ekosistem laut secara terus-menerus membangun kantong-kantong karbon dalam jumlah besar di dalam sedimen laut.

Louis Verchot, peneliti senior CIFOR, menjelaskan, lahan basah yang dikeringkan untuk pertanian berpotensi melepaskan gas nitroksida akibat persenyawaan dengan pupuk. Pada satu hektar lahan menghasilkan 4-5 kilogram gas nitroksida. ”Jumlah nitroksida 4-5 kilogram itu setara dengan 1 ton karbon dioksida,” ujarnya. (ICH)

Sumber: Kompas, 12 April 2011

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB