Home / Berita / Ekosistem Mangrove; Bagi Indonesia dan Dunia

Ekosistem Mangrove; Bagi Indonesia dan Dunia

Indonesia memiliki kawasan mangrove yang luas. Selain tempat berkembang biak ikan dan penahan gelombang, mangrove mampu menyerap karbon, unsur gas rumah kaca yang terkait pemanasan global. Namun, manfaat luar biasa mangrove itu belum banyak dipahami. Lebih lagi, Indonesia juga negara dengan deforestasi mangrove yang amat laju.

Siang itu, pertengahan Juni 2015, telapak tangan berlumur darah dari bangkai nyamuk. Anggota rombongan peneliti Center for International Forestry Research (Cifor) sibuk menepuk nyamuk yang berdengung mengganas di hutan mangrove di Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten.

Siang itu, mereka sedang mengukur stok karbon dan sedimentasi. Sejumlah peneliti berkali-kali terjerembap dan terperosok di lumpur hingga setinggi sepaha orang dewasa. Sekujur tubuh mandi keringat lantaran hawa kering yang terasa begitu gerah.

“Ini belum apa-apa dibandingkan dengan pengukuran di Papua Barat,” ujar Ketua Penulis Riset dan Peneliti Utama Cifor Daniel Murdiyarso.

Di Papua Barat, perjalanan menuju hutan bukanlah mudah, harus ditempuh seharian. Agas, serangga kecil pengisap darah, juga kerap membuat kulit gatal hingga seminggu, bahkan lebih.

Pengukuran karbon dilakukan dengan menghimpun empat komponen di atas dan bawah permukaan, yakni pohon, reruntuhan kayu, akar, dan karbon di dalam tanah. Diameter pohon, reruntuhan kayu, dan akar diukur. Demikian pula sampel tanah yang diambil untuk menganalisis kandungan karbon di dalamnya.

Asisten Riset Hutan dan Lingkungan Cifor Sigit D Sasmito bersama tujuh rekannya sibuk melakukan pengukuran di Cagar Alam Pulau Dua. Ada anggota tim yang mencatat data, ada yang mengukur diameter pohon, ada pengukur reruntuhan kayu, dan ada pula anggota tim yang mengambil sampel tanah serta mengukur akar.

9819149db27b4fe6b14f0ac6a90d0529KOMPAS/DWI BAYU RADIUS–Peneliti Center for International Forestry Research (Cifor) memasang alat pengukur sedimentasi di Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten, Sabtu (13/6). Cifor juga memasang alat pengukur karbon di kawasan itu. Pemasangan alat-alat itu untuk mengetahui terjadi degradasi lingkungan atau tidak. Pengecekan dilakukan tiap enam bulan.

Pengukuran dilakukan di lima garis lurus, masing-masing sepanjang 125 meter. Dibutuhkan dua hingga tiga hari untuk menuntaskan pengukuran tersebut. Selanjutnya, data dan sampel dibawa ke Laboratorium Bioteknologi Tanah Departemen Manajemen Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB).

Di Indonesia, pengukuran dilakukan di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, dan Banten. Di Papua Barat, stok karbon telah diukur sejak Mei 2014. Pengukuran dengan cara serupa sudah dilakukan di Vietnam, Thailand, Filipina, dan Singapura selama tiga tahun terakhir.

Pengurangan emisi
Berdasar penelitian Cifor secara mendalam, diperoleh informasi bahwa Indonesia bisa mengurangi emisi gas rumah kaca tahunan hingga 20 persen, jika mampu menghentikan perusakan hutan mangrove. Kalau itu benar dan terwujud, itu kabar baik.

Indonesia menetapkan target mereduksi emisi gas rumah kaca 26 persen hingga 41 persen pada tahun 2020. Besaran 26 persen bisa dilakukan sendiri, sedangkan 41 persen jika ada bantuan asing.

Gas rumah kaca mengacu pada kondisi atmosfer yang memerangkap sinar matahari saat kembali ke angkasa. Akibatnya, suhu Bumi meningkat, yang disebut pemanasan global. Itu memicu perubahan iklim global.

Penelitian soal potensi reduksi emisi dari mangrove dilakukan Cifor bersama mitra dari Oregon State University, United States Department of Agriculture Forest Service, Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, University of Washington, Australian National University, Universitas Papua, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Sam Ratulangi.

“Bisa dikatakan, seperempat jalan menuju target pengurangan emisi nasional sudah bisa dicapai jika Indonesia mampu menghentikan tingkat perusakan mangrove,” kata Daniel.

Penelitian juga menemukan bahwa mangrove di Indonesia menyimpan 3,14 miliar metrik ton karbon. Jumlah itu setara dengan sepertiga karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir Bumi. Kondisi itu menjadi bukti bahwa fungsi mangrove Indonesia sebagai penyerap karbon global yang penting.

Menurut Daniel, Indonesia termasuk negara dengan mangrove paling luas atau lebih dari 2,9 juta hektar. Namun, Indonesia juga salah satu negara dengan kecepatan deforestasi mangrove tercepat di dunia atau 52.000 ha digunduli tiap tahun.

Meski luas mangrove tercatat kurang dari 2 persen dari hutan Indonesia, hilangnya mangrove bisa menyumbang 20 persen dari emisi penggunaan lahan. Persentase itu setara dengan emisi karbon dioksida sebesar 190 juta ton per tahun.

Emisi karbon dioksida itu setara dengan semua mobil di Indonesia digunakan keliling dunia dua kali. Diharapkan, pengambil keputusan menjadikan perlindungan dan tata kelola berkelanjutan solusi potensial mitigasi perubahan iklim.

Pengelolaan mangrove juga bisa menjadi dasar strategi mitigasi perubahan iklim Indonesia. Mangrove dirusak dengan kecepatan begitu tinggi. “Mengapa demikian? Pembangunan akuakultur. Konversi mangrove untuk tambak udang,” ujar Daniel.

Kegiatan itu adalah bisnis besar. Pada tahun 2013, ekspor udang menghasilkan pemasukan sebesar 1,5 miliar dollar AS untuk Indonesia. “Jika ditimbang dalam konteks keuangan, itu terdengar seperti timbal balik yang adil. Namun, orang lupa, mangrove juga memberikan jasa ekosistem,” katanya.

Jasa itulah yang belum banyak diketahui masyarakat. Padahal, peran mangrove amat penting sebagai tempat berkembang biak ikan. “Mangrove juga melindungi zona pesisir dari terjangan badai dan gelombang. Sebagai tambahan fungsi penyerap karbon, jasa itu pun belum dihitung,” ujarnya.

Mangrove dan lahan gambut mendapatkan banyak perhatian saat ini. Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC) telah menyusun panduan bagi negara, termasuk Indonesia, untuk menilai karbon dan emisi gas rumah kaca. Saatnya serius menjaga kawasan hutan mangrove. Bagi Indonesia dan dunia.(DWI BAYU RADIUS)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 31 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “Bagi Indonesia dan Dunia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: