Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

- Editor

Sabtu, 26 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernah melihat nama seseorang ditulis seperti ini?

Ahmad Fulan, Lc., M.A.

Atau mungkin:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dr. Ahmad Fulan, M.Ag.

Bagi sebagian orang, deretan huruf itu terlihat seperti hiasan di belakang nama. Semakin panjang, semakin mengesankan. Tetapi sebenarnya, setiap singkatan tersebut menyimpan sebuah cerita: tentang apa yang dipelajari seseorang, di mana ia belajar, seberapa jauh perjalanan akademiknya, dan bidang apa yang kemudian ditekuni.

Menariknya, tidak semua gelar bekerja dengan cara yang sama.

Ada S.Ag., S.Sy., S.Pd., S.H., S.E., kemudian ada M.A., M.Ag., M.Pd., M.H., dan ada pula Dr. atau Ph.D.

Lalu ada satu gelar yang cukup unik dan sering membuat orang penasaran: Lc.

Apa sebenarnya Lc.? Apakah itu nama jurusan? Apakah semua pemilik gelar Lc. belajar di Mesir? Dan benarkah Lc. berarti “Lulusan Cairo”?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Memahami gelar bukan sekadar menghafal singkatan

Bayangkan pendidikan tinggi seperti sebuah perjalanan.

Ketika masuk perguruan tinggi, seorang siswa memilih program studi. Di sanalah ia mulai mempelajari bidang tertentu secara lebih mendalam. Setelah menyelesaikan jenjang pendidikan, ia memperoleh gelar akademik sesuai sistem pendidikan dan program yang ditempuh.

Karena itu, gelar sebenarnya hanyalah salah satu penanda dari perjalanan tersebut.

Seseorang dengan gelar S.Pd. misalnya, memiliki latar pendidikan sarjana di bidang pendidikan. Seseorang dengan S.H. memiliki latar pendidikan hukum. Sementara S.E. berkaitan dengan pendidikan sarjana bidang ekonomi.

Dalam lingkungan perguruan tinggi Islam, kita juga menemukan S.Ag. atau S.Sy.

Namun, gelar tidak selalu langsung memberi tahu seluruh cerita akademik seseorang.

Di sinilah Lc. menjadi menarik.

Lc. bukan nama jurusan

Lc. merupakan nomenklatur yang berkaitan dengan tradisi pendidikan tinggi tertentu, dan sangat sering digunakan oleh alumni perguruan tinggi Timur Tengah yang kemudian berkiprah di Indonesia.

Karena itu kita sering menemukan nama:

Ahmad Fulan, Lc.

Tetapi dari tulisan tersebut kita belum dapat mengetahui apakah Ahmad belajar Syariah, Bahasa Arab, Ushuluddin, Dakwah, atau bidang lainnya.

Untuk mengetahuinya, kita harus melihat universitas, fakultas, dan program studinya.

Jadi, kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap Lc. sebagai nama jurusan.

Padahal lebih tepat melihatnya sebagai gelar atau nomenklatur akademik yang digunakan dalam sistem pendidikan tertentu.

Mengapa Lc. sangat identik dengan Timur Tengah?

Jawabannya berkaitan dengan sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

Selama bertahun-tahun, banyak pelajar Indonesia menempuh pendidikan tinggi di negara-negara Timur Tengah. Mesir, misalnya, memiliki hubungan pendidikan yang sangat kuat dengan Indonesia.

Nama Al-Azhar tentu sangat dikenal.

Alumni perguruan tinggi di kawasan tersebut kemudian kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai pendidik, akademisi, peneliti, dai, pengelola lembaga pendidikan, maupun profesional dalam berbagai bidang.

Karena penggunaan Lc. cukup menonjol di kalangan alumni pendidikan Timur Tengah, masyarakat Indonesia kemudian sangat akrab dengan singkatan tersebut.

Tetapi ada satu hal yang harus diluruskan.

Lc. bukan singkatan dari “Lulusan Cairo”.

Itu adalah anggapan yang kadang muncul karena banyak pemegang gelar tersebut memang memiliki pengalaman pendidikan di Mesir. Secara historis, istilah Lc. berkaitan dengan istilah licentiate/licentia, bukan “Lulusan Cairo”.

Lalu apakah Lc. sama dengan S.Ag.?

Tidak tepat jika kita mengatakan keduanya sama persis.

S.Ag. merupakan gelar dalam sistem pendidikan tinggi Indonesia.

Sementara Lc. digunakan dalam konteks sistem pendidikan tertentu, terutama oleh sebagian lulusan perguruan tinggi Timur Tengah.

Keduanya harus dipahami berdasarkan sistem pendidikan yang melahirkannya.

Karena itu, jika seorang lulusan perguruan tinggi luar negeri kembali ke Indonesia dan ingin menggunakan ijazahnya untuk keperluan tertentu, persoalannya bukan hanya apa tulisan di belakang namanya.

Ada persoalan pengakuan dan penyetaraan ijazah.

Inilah mengapa seseorang yang memiliki gelar dari luar negeri dapat membutuhkan proses administrasi tertentu ketika hendak melanjutkan pendidikan atau menggunakan kualifikasinya dalam konteks pendidikan Indonesia.

Dari Lc. menuju M.A.

Perjalanan pendidikan tidak berhenti pada sarjana.

Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana dapat melanjutkan ke jenjang magister.

Di belakang nama kita kemudian dapat menemukan:

M.A. — Master of Arts

atau

M.Ag. — Magister Agama

atau gelar magister lain sesuai bidang dan nomenklatur perguruan tinggi.

Maka kita mungkin menemukan nama:

Ahmad Fulan, Lc., M.A.

Tetapi lagi-lagi, jangan hanya melihat singkatannya.

M.A. tidak otomatis berarti “magister agama”. Master of Arts merupakan nomenklatur yang digunakan dalam berbagai bidang keilmuan. Bidangnya harus dilihat dari program studi yang ditempuh.

Misalnya seseorang dapat mempunyai latar pendidikan:

Lc. — Syariah

kemudian:

M.A. — Islamic Studies

dan melanjutkan:

Ph.D. — Islamic Law

Dari rangkaian tersebut, kita jauh lebih mudah memahami arah keilmuannya.

Bagaimana dengan S.Ag., S.Sy., S.Pd. dan S.E.?

Gelar sarjana di Indonesia cukup beragam.

S.Ag. berkaitan dengan bidang keagamaan.

S.Sy. berkaitan dengan Syariah.

S.Pd. berkaitan dengan pendidikan.

S.H. berkaitan dengan hukum.

S.E. berkaitan dengan ekonomi.

Tetapi perkembangan perguruan tinggi membuat gambarannya tidak selalu sesederhana itu. Program studi yang memiliki nama hampir sama dapat memiliki nomenklatur gelar yang berbeda, tergantung ketentuan perguruan tinggi dan regulasi yang berlaku.

Karena itu, seorang siswa SMA sebaiknya tidak memilih jurusan hanya berdasarkan singkatan gelar.

Yang lebih penting adalah memahami apa yang benar-benar dipelajari di dalam program studi tersebut.

Gelar bukan profesi

Ini mungkin bagian yang paling penting untuk calon mahasiswa.

Bayangkan ada seorang siswa berkata:

“Saya ingin menjadi guru. Berarti saya harus mencari gelar tertentu.”

Belum tentu sesederhana itu.

Atau:

“Saya ingin menjadi dosen. Berarti saya harus mengambil jurusan yang gelarnya M.A.”

Juga tidak demikian.

Gelar menunjukkan kualifikasi pendidikan, sedangkan profesi berkaitan dengan kompetensi, pengalaman, persyaratan profesi, dan bidang pekerjaan.

Begitu pula dengan gelar doktor.

Seseorang yang memperoleh gelar Dr. telah menyelesaikan pendidikan doktoral sesuai sistem yang diakui. Tetapi doktor dan profesor bukan hal yang sama.

Doktor merupakan jenjang pendidikan.

Profesor merupakan jabatan akademik.

Dua hal tersebut sering dianggap sama, padahal berbeda.

GelarKepanjangan / makna umumContoh bidang studiJenjangContoh arah karier
S.Ag.Sarjana AgamaStudi Agama, Pendidikan Agama, Ilmu Al-Qur’an, DakwahSarjanaPenyuluh, pendidik, peneliti, pengelola lembaga keagamaan
S.Sy.Sarjana SyariahHukum Keluarga Islam, Hukum Ekonomi SyariahSarjanaPraktisi hukum syariah, perbankan syariah, lembaga keuangan
S.H.Sarjana HukumHukumSarjanaAdvokat, legal officer, konsultan hukum*
S.Pd.Sarjana PendidikanPendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa ArabSarjanaGuru, pengembang pendidikan
S.E.Sarjana EkonomiEkonomi Syariah, Manajemen, AkuntansiSarjanaPerbankan, keuangan, bisnis, akuntansi
Lc.Licentiate / nomenklatur pendidikan tertentuSyariah, Ushuluddin, Bahasa Arab, Dakwah, dll.Umumnya pendidikan tingkat sarjana dalam konteks alumni Timur TengahAkademisi, pendidik, peneliti, dai, praktisi sesuai bidang
M.A.Master of ArtsIslamic Studies, Bahasa Arab, Studi Timur Tengah, dll.MagisterAkademisi, peneliti, profesional
M.Ag.Magister AgamaStudi Islam, Pendidikan Islam, dll.MagisterDosen, peneliti, pengelola pendidikan
M.H.Magister HukumHukum Islam, Hukum Bisnis, Hukum Tata Negara, dll.MagisterAkademisi, konsultan, praktisi hukum
M.Pd.Magister PendidikanManajemen Pendidikan, Pendidikan Islam, dll.MagisterAkademisi, pengelola pendidikan, peneliti
Dr.DoktorBerbagai bidang keilmuanDoktorDosen, peneliti, ahli bidang tertentu
Ph.D.Doctor of PhilosophyBerbagai bidangDoktorAkademisi, peneliti, profesional

Jadi, apa yang harus dipikirkan siswa SMA?

Inilah bagian yang sering terbalik.

Banyak siswa bertanya:

“Jurusan ini nanti gelarnya apa?”

Pertanyaan tersebut boleh saja.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Saya ingin menjadi ahli dalam bidang apa?”

Misalnya kamu menyukai bahasa dan budaya Arab.

Kamu dapat mengeksplorasi Bahasa Arab, Sastra Arab, Linguistik, Pendidikan Bahasa Arab, atau Studi Islam yang memiliki hubungan dengan bahasa Arab.

Jika tertarik hukum, kamu bisa mengeksplorasi Hukum, Hukum Keluarga Islam, Hukum Ekonomi Syariah, atau bidang lain yang relevan.

Jika menyukai ekonomi dan bisnis, ada Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, Ekonomi Syariah, Keuangan Syariah, dan berbagai pilihan lainnya.

Jika menyukai pendidikan, ada berbagai program studi kependidikan.

Dengan kata lain:

Minat ? Program Studi ? Kompetensi ? Gelar ? Pengalaman ? Karier

Itulah urutan yang lebih masuk akal.

Bukan:

Gelar ? baru mencari tahu apa yang dipelajari.

Gelar hanyalah pintu, bukan tujuan akhir

Bayangkan kamu melihat sebuah nama dengan banyak gelar:

Dr. Ahmad Fulan, Lc., M.A.

Yang terlihat hanyalah beberapa huruf.

Tetapi di baliknya mungkin ada belasan tahun perjalanan: membaca ribuan halaman, mengerjakan penelitian, menghadiri kuliah, belajar bahasa, menulis karya ilmiah, berdiskusi, mengalami kegagalan, kemudian mencoba lagi.

Gelar hanyalah jejak singkat dari perjalanan panjang tersebut.

Karena itu, ketika suatu hari kamu memilih perguruan tinggi, jangan terpesona hanya oleh huruf yang akan berada di belakang namamu.

Cari tahu apa yang akan kamu pelajari.

Cari tahu keterampilan apa yang akan kamu kuasai.

Cari tahu masalah apa yang bisa kamu pecahkan.

Dan yang paling penting, tanyakan kepada dirimu sendiri:

“Jika empat tahun dari sekarang saya lulus, kemampuan apa yang ingin saya bawa pulang?”

Sebab pada akhirnya, gelar menunjukkan perjalanan pendidikan, tetapi kemampuanlah yang menentukan apa yang dapat kamu lakukan dengan pengetahuan tersebut.

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Berita ini 4 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB