Biomedis atau Teknik Biomedis?

- Editor

Jumat, 18 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memilih jurusan yang mempertemukan tubuh manusia, sains, teknologi, dan masa depan kesehatan

Memilih jurusan kuliah bukan sekadar memilih nama yang terdengar menarik. Bagi siswa SMA, keputusan itu sering kali merupakan awal dari perjalanan yang panjang: belajar bertahun-tahun, melakukan penelitian, membangun keahlian, kemudian menentukan bidang pekerjaan atau studi lanjut.

Karena itu, ketika menemukan dua nama yang terdengar hampir sama seperti Sains Biomedis dan Teknik Biomedis, wajar jika muncul pertanyaan: apa sebenarnya perbedaannya?

Keduanya memang sama-sama berhubungan dengan kesehatan dan teknologi. Keduanya juga mempelajari tubuh manusia. Namun, cara melihat persoalannya berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sederhananya, Sains Biomedis lebih banyak berusaha memahami kehidupan dan penyakit, sedangkan Teknik Biomedis berusaha menggunakan prinsip-prinsip rekayasa untuk menyelesaikan persoalan kesehatan.

Perbedaan itu menjadi lebih jelas jika kita melihat apa yang dipelajari mahasiswa di dalamnya.

Dari sel hingga penyakit

Bayangkan seorang ilmuwan sedang meneliti kanker.

Ia ingin mengetahui mengapa sebuah sel normal berubah menjadi sel kanker. Ia mempelajari DNA, protein, metabolisme sel, komunikasi antarsel, sistem kekebalan tubuh, hingga mekanisme yang membuat sel tumbuh secara tidak terkendali.

Pertanyaan seperti ini berada di wilayah Sains Biomedis.

Mahasiswanya dapat mempelajari biologi sel, biologi molekuler, genetika, biokimia, mikrobiologi, imunologi, fisiologi, patologi, farmakologi, bioteknologi, serta berbagai teknik laboratorium.

Dalam perkembangannya, penelitian biomedis juga semakin dekat dengan komputer. Data genetik dan biologis yang sangat besar membutuhkan kemampuan statistik, pemrograman, dan bioinformatika untuk dianalisis.

Karena itu, Sains Biomedis bukan hanya soal bekerja dengan tabung reaksi dan mikroskop. Dunia komputasi kini ikut masuk ke laboratorium.

Seorang mahasiswa dapat berhadapan dengan pertanyaan seperti:

Gen apa yang berkaitan dengan suatu penyakit?

Bagaimana sel kanker merespons suatu senyawa?

Mengapa sistem kekebalan tubuh gagal melawan penyakit tertentu?

Apakah suatu molekul berpotensi menjadi kandidat obat?

Inilah salah satu daya tarik Sains Biomedis: mahasiswa diajak masuk ke dalam mekanisme kehidupan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Ketika teknologi ikut masuk ke tubuh manusia

Sekarang kita lihat persoalan yang berbeda.

Seorang pasien membutuhkan alat untuk memantau aktivitas jantungnya. Tubuh menghasilkan sinyal listrik, tetapi sinyal itu harus ditangkap oleh sensor, diperkuat, dibersihkan dari gangguan, kemudian diolah agar dapat dibaca.

Di sinilah Teknik Biomedis memainkan peran.

Bidang ini mempertemukan teknik dengan biologi dan kedokteran. Karena itu, mahasiswa tidak hanya belajar anatomi dan fisiologi, tetapi juga matematika, fisika, elektronika, pemrograman, instrumentasi, pengolahan sinyal, pengolahan citra, material, mekanika, dan sistem kendali.

Persoalan yang dihadapi bisa sangat beragam.

Bagaimana membuat sensor untuk mengukur kondisi tubuh?

Bagaimana komputer membaca gambar MRI atau CT scan?

Bagaimana membuat alat rehabilitasi untuk pasien yang mengalami gangguan gerak?

Bagaimana membuat kaki atau tangan prostetik yang lebih responsif?

Bagaimana kecerdasan buatan membantu membaca sinyal atau citra medis?

Bagaimana membuat perangkat wearable yang mampu memantau kondisi tubuh?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan karakter Teknik Biomedis.

Jika Sains Biomedis banyak bertanya “apa yang terjadi dan mengapa?”, Teknik Biomedis sering bergerak ke pertanyaan “bagaimana kita mengukur, merancang, membuat, atau mengendalikannya?”

Satu masalah, dua sudut pandang

Perbedaan keduanya dapat dibayangkan melalui satu contoh sederhana: penyakit jantung.

Peneliti biomedis mungkin meneliti perubahan pada sel jantung, protein, gen, jaringan, atau mekanisme penyakit.

Insinyur biomedis dapat mengembangkan teknologi untuk menangkap sinyal listrik jantung, mengolah data ECG, membuat perangkat pemantauan, atau mengembangkan algoritma yang membantu mendeteksi pola tertentu.

Jadi keduanya bukan dua bidang yang saling bersaing.

Justru keduanya dapat bekerja dalam satu tim.

Peneliti memahami masalah biologisnya. Insinyur mengembangkan teknologi untuk mengukur atau menyelesaikan persoalan tersebut. Dokter menggunakan hasil penelitian dan teknologi tersebut dalam pelayanan kesehatan.

Inilah sebabnya dunia biomedis bersifat multidisiplin.

Biomedis bukan kedokteran

Ada satu hal yang perlu dipahami sejak awal.

Sains Biomedis dan Teknik Biomedis bukan Pendidikan Dokter.

Lulusan Sains Biomedis tidak otomatis menjadi dokter. Demikian pula lulusan Teknik Biomedis bukan dokter.

Pendidikan dokter mempunyai jalur pendidikan dan profesi tersendiri.

Sains Biomedis lebih dekat dengan ilmu dasar kehidupan dan penelitian penyakit.

Teknik Biomedis lebih dekat dengan rekayasa teknologi untuk kesehatan.

Sementara dokter menggunakan pengetahuan kedokteran untuk menangani pasien.

Ketiganya dapat berada dalam satu ekosistem yang sama, tetapi peran dan pendidikannya berbeda.

Bagaimana jika kamu menyukai AI?

Ini bagian yang semakin menarik.

Kecerdasan buatan membuat batas antara biologi, komputer, dan kesehatan menjadi semakin tipis.

Dalam Sains Biomedis, AI dapat digunakan untuk menganalisis data genomik, mencari pola dalam data biologis, mempelajari biomarker, atau membantu penelitian penyakit.

Dalam Teknik Biomedis, AI dapat digunakan untuk pengolahan citra medis, analisis sinyal jantung, sistem diagnostik berbantuan komputer, perangkat wearable, robotika medis, dan berbagai aplikasi kesehatan lainnya.

Maka siswa SMA yang menyukai Biologi sekaligus komputer sebenarnya memiliki banyak pilihan.

Demikian juga siswa yang menyukai Fisika, Matematika, coding, elektronika, dan kesehatan.

Yang penting adalah melihat kurikulum program studi, bukan hanya namanya.

Jurusan mana yang cocok untukmu?

? Kamu mungkin cocok dengan Sains Biomedis jika…

  • senang Biologi dan Kimia;
  • tertarik pada sel, DNA, genetika, protein, dan penyakit;
  • menikmati kegiatan praktikum;
  • tertarik pada penelitian laboratorium;
  • ingin memahami mekanisme penyakit;
  • tertarik pada bioteknologi;
  • menyukai analisis data biologis;
  • tertarik pada riset dan kemungkinan melanjutkan S2 atau S3.

?? Kamu mungkin cocok dengan Teknik Biomedis jika…

  • menyukai Matematika dan Fisika;
  • tertarik pada elektronika;
  • senang coding dan komputer;
  • menyukai robotika;
  • tertarik pada AI;
  • ingin membuat alat atau perangkat;
  • tertarik pada sensor dan wearable device;
  • menyukai pemecahan masalah secara engineering;
  • tertarik pada teknologi kesehatan.

Tentu saja daftar tersebut bukan aturan mutlak.

Seseorang yang memilih Sains Biomedis tetap dapat belajar pemrograman. Mahasiswa Teknik Biomedis juga tetap akan mempelajari biologi dan fisiologi.

Yang membedakan adalah pusat gravitasi keilmuannya.

Di mana bisa kuliah di Indonesia?

Pilihan program studi ini mulai berkembang di Indonesia.

Untuk Teknik Biomedis, beberapa perguruan tinggi yang memiliki program sarjana antara lain Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Airlangga. Sejumlah perguruan tinggi lainnya juga telah membuka program serupa.

Sementara itu, program yang menggunakan nama Sains Biomedis atau Ilmu Biomedis juga tersedia di sejumlah perguruan tinggi. IPB University, misalnya, memiliki S1 Sains Biomedis, sedangkan Universitas Andalas memiliki S1 Ilmu Biomedis.

Namun calon mahasiswa perlu berhati-hati. Nama program yang mirip tidak selalu berarti kurikulumnya sama.

Ada program yang lebih kuat di laboratorium dan biologi molekuler. Ada yang lebih menonjolkan teknologi. Ada pula yang mempunyai kekhususan tertentu.

Karena itu, sebelum mendaftar, jangan hanya bertanya:

“Kampus ini punya jurusan Biomedis atau tidak?”

Pertanyaan berikutnya harus:

“Biomedis yang dipelajari di sini sebenarnya fokus ke mana?”

Kuliah tidak harus berhenti di Indonesia

Salah satu kelebihan bidang biomedis adalah pilihan studi lanjut yang luas.

Lulusan Sains Biomedis dapat melanjutkan ke bidang seperti Biomedical Sciences, Molecular Biology, Biotechnology, Neuroscience, Cancer Biology, Immunology, Computational Biology, atau Bioinformatics.

Lulusan Teknik Biomedis dapat melanjutkan ke bidang seperti Biomedical Engineering, Medical Engineering, Medical Imaging, Biomaterials, Biomechanics, Rehabilitation Engineering, Bioelectronics, atau Medical AI.

Dengan demikian, gelar sarjana sebenarnya baru merupakan awal.

Seorang mahasiswa dapat memulai dari Teknik Biomedis, kemudian menjadi sangat spesifik di bidang medical imaging. Mahasiswa lain mungkin masuk ke biomaterial. Yang lain lagi dapat berpindah ke AI kesehatan.

Begitu pula lulusan Sains Biomedis dapat memilih penelitian kanker, genetika, imunologi, neuroscience, atau bioinformatika.

Dunia keilmuan modern semakin tidak mengenal batas-batas yang terlalu kaku.

Jangan memilih hanya karena nama jurusannya keren

Ada kecenderungan calon mahasiswa memilih jurusan karena nama programnya terdengar modern.

“Biomedis” memang terdengar futuristik.

Tetapi kuliah tidak hanya berlangsung selama beberapa hari atau beberapa bulan. Ada bertahun-tahun proses belajar yang akan diisi dengan mata kuliah, praktikum, tugas, penelitian, dan tugas akhir.

Karena itu, sebelum memilih, lakukan sedikit pekerjaan rumah.

Buka kurikulumnya.

Lihat mata kuliah semester pertama hingga semester akhir.

Perhatikan apakah lebih banyak Biologi dan Kimia, atau Matematika, Fisika, Elektronika, dan Pemrograman.

Cari tahu laboratorium yang tersedia.

Lihat bidang penelitian dosennya.

Perhatikan skripsi mahasiswa sebelumnya.

Cari tahu ke mana para alumninya melanjutkan studi atau bekerja.

Dari sana, gambaran tentang sebuah program studi akan jauh lebih jelas daripada hanya membaca nama jurusannya.

Masa depan kesehatan membutuhkan banyak keahlian

Kesehatan masa depan kemungkinan tidak hanya bergantung pada dokter dan obat.

Di belakang sebuah sistem kesehatan modern terdapat banyak orang dengan keahlian berbeda: ahli biologi molekuler, peneliti obat, ahli data, programmer, insinyur, ahli material, dokter, tenaga kesehatan, dan berbagai profesi lainnya.

Sains Biomedis dan Teknik Biomedis berada di antara dunia-dunia tersebut.

Sains Biomedis membantu manusia memahami kehidupan dan penyakit.

Teknik Biomedis membantu manusia membangun teknologi untuk menghadapi persoalan kesehatan.

Keduanya bertemu pada satu tujuan besar: membuat manusia memahami tubuh, mencegah penyakit, mendeteksi gangguan, dan meningkatkan kualitas hidup.

Jadi, jika kamu sedang duduk di bangku SMA dan mulai memikirkan jurusan kuliah, jangan buru-buru bertanya jurusan mana yang paling bagus.

Cobalah bertanya kepada dirimu sendiri:

“Saya ingin lebih banyak memahami kehidupan, atau lebih banyak merancang teknologi untuk kehidupan?”

Kalau jawabannya adalah keduanya, mungkin justru di situlah dunia biomedis menjadi menarik untuk dijelajahi.


? KOTAK INFO

Biomedis dalam satu menit

Sains Biomedis
Memahami tubuh, sel, molekul, gen, dan penyakit melalui penelitian biologis dan kedokteran dasar.

Teknik Biomedis
Menggunakan matematika, fisika, elektronika, komputer, material, dan prinsip engineering untuk menciptakan teknologi kesehatan.

Pendidikan Dokter
Mempersiapkan tenaga dokter untuk melakukan pelayanan medis kepada pasien.

Contoh bidang masa depan

? Genomik
? Robotika medis
? Neuroscience
? Medical imaging
?? Biomedical signal processing
? Prostetik
? Bioteknologi
? Medical AI
? Molecular medicine
? Wearable health technology


? PERTANYAAN UNTUK CALON MAHASISWA

Sebelum memilih, coba jawab lima pertanyaan ini:

1. Apakah saya lebih menikmati Biologi dan Kimia atau Matematika dan Fisika?

2. Apakah saya lebih tertarik melakukan eksperimen biologis atau membuat teknologi?

3. Apakah saya nyaman dengan praktikum laboratorium?

4. Apakah saya menikmati coding, elektronika, atau robotika?

5. Jika diberi masalah kesehatan, saya lebih penasaran dengan “mengapa terjadi?” atau “bagaimana membuat alat untuk mengatasinya?”

Tidak ada jawaban yang lebih tinggi daripada yang lain.

Yang penting adalah menemukan jenis persoalan yang membuatmu ingin terus belajar.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Berita Terbaru

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB