Home / Profil Ilmuwan / Martha S Fujita, PhD, Cinta Indonesia, Kagum Wallace

Martha S Fujita, PhD, Cinta Indonesia, Kagum Wallace

BERAWAL dari kerja penelitian tentang kelelawar di Gunung Palung, Kalimantan Barat yang menjadi bahan disertasi doktoralnya di Boston University, kecintaan Martha S Fujita (45) pada Indonesia tumbuh menjadi akar yang sangat kuat dalam dirinya. Doktor di bidang ekologi ini, kemudian merintis program The Nature Conservancy (TNC)—lembaga konservasi terbesar di Amerika Serikat— di Indonesia, dan menjadi direkturnya antara tahun 1991-1995. Ia juga yang merintis pelembagaan Yayasan Pusaka Alam Nusantara, mitra TNC di Indonesia.

Akhir November lalu, Marty—begitu Martha biasa dipanggil— menghirup kembali napas Jakarta yang telah begitu lama dirindukannya. Atas undangan ARCO Indonesia, ia datang untuk meluncurkan bukunya yang ditulis bersama Gavan Daws, berjudul Archipelago the Islands of Indonesia. Buku ini juga sepenuhnya disponsori oleh ARCO, buah kerja sama dengan The Nature Conservancy dan University of California Press.

Archipelago adalah sebuah buku tentang temuan Alfred Russell Wallace yang disimpulkannya setelah mengembara selama delapan tahun di kawasan Nusantara. Bentuknya yang mewah mendukung penyajian foto-foto alam—sebagian besar karya Jez O’Hare— menjadi lebih ”keluar”. Sebuah buku yang edukatif, sekaligus informatif dan entertaining.

”Saya ingin menggunakan Wallace sebagai lensa bagi pembaca buku ini untuk mengenali kekayaan dan keragaman sumber daya hayati Nusantara, ” kata Marty, ibu dari dua anak perempuan kembar yang cukup fasih berbahasa Indonesia ini.

Pengembaraan Wallace di kawasan Nusantara, antara tahun 1854-1862, dibukukan dalam Malay Archipeiago. Wallace mengumpulkan ribuan spesimen burung, serangga dan binatang menyusui. Dengan tekun ia mencatat semua keterangan tentang tempat di mana ia menemukan spesimen itu.

Sebagaimana layaknya seorang primary thinker yang andal, Wallace mulai menemukan pola-pola pengelompokan dari spesimen dan catatan tentang flora dan fauna yang ditelitinya itu.

Sebagian memiripi flora dan fauna spesifik Asia, sebagian lagi mewakili ciri-ciri flora dan fauna Australia.

Sebuah pertanyaan besar kemudian muncul dalam benak Wallace. Bagaimana mungkin terdapat dua jenis fauna yang begitu berbeda hidup di wilayah yang nyaris tidak mempunyai perbedaan fisik dan karakteristik? Sebuah garis maya kemudian muncul di benaknya, yaitu laut di antara Kalirnantan dan Sulawesi dengan lebar maksimum 28 kilometer, terus ke antara Bali dan Lombok dengan lebar minimum enam kilometer. Garis maya ini kemudian dikenal sebagai The Wallace Line.

MARTY Fujita membaca buku Wallace itu, ketika ia melakukan penelitian kelelawar di Kalimantan Barat. Ia terpukau akan kejeniusan Wallace dalam menggambarkan kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Buku Wallace itu bahkan telah menjadi moment of truth bagi Marty Fujita belia dalam menentukan masa depannya.

”Saya bisa terus menjadi peneliti kelelawar, dan menghasilkan tulisan-tulisan yang akan mengumpulkan debu di berbagai perpustakaan,” kata Marty menyebut salah satu pilihannya. ”Atau melakukan sesuatu untuk Indonesia yang telanjur saya cintai. Pada tahun 1986 itu, di Kalimantan Barat saya sudah melihat kehancuran lingkungan alam Indonesia.”

Sekembalinya ke AS, Marty melamar ke American Association for the Advancement of Science, dengan harapan akan dikirim kembali ke Indonesia. Ia diterima. Namun, ditempatkan di Amerika Latin. Dua tahun kemudian ia bergabung dengan Smithsonian Institution sebagai international conservation officer yang membawahkan program-program konservasi di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Pekerj aan itu mulai membahagiakannya, karena Indonesia termasuk dalam wilayah kerjanya. “Tetapi, saya tetap ingin bekerja terfokus pada Indonesia. Negeri ini mempunyai nilai sangat penting ditinjau dari global biodiversity standpoint,” katanya. Pada awal tahun 1991 ia berhasil “menjual” gagasannya kepada TNC untuk melakukan programnya di Indonesia. Marty ditunjuk sebagai direktur program yang pertama, sekaligus membuka kantor TNC di Indonesia.

TNC mempunyai ciri khas dalam menjalankan program konservasi, yaitu sitebased—melakukan program secara menyeluruh (baik secara ilmiah maupun pengembangan masyarakat) di suatu kawasan yang dilindungi. Pilihan Marty jatuh pada Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) di Sulawesi Tengah.

”Pertama, karena ketika itu belum banyak program konservasi dilaksanakan di Sulawesi. Kedua, karena TNLL adalah kawasan unik yang memiliki flora dan fauna endemik dalam jumlah besar. Ketiga, tentu saja, karena Wallace pun menyebut Sulawesi sebagai sebuah enigma —tempat yang dari segi diversitas biologi merupakan misteri yang luar biasa,” kata Marty.

Setelah TNLL, Marty membawa TNC Indonesia untuk melaksanakan program di Taman Nasional Komodo. ”Komodonya penting, karena hanya di sanalah satwa langka itu bisa ditemui di habitat aslinya,” kata Marty. ”Tetapi, yang lebih penting lagi adalah bahwa kawasan laut di sekelilingnya sedang menghadapi ancaman kerusakan yang luar biasa.” Program TNC di Komodo ini pertama kali dipimpin oleh Chuck Cook, yang kemudian menjadi suami Maity.

”Harapan terbesar saya adalah agar masyarakat Indonesia menyadari dan memahami kekayaan dan keanekaragaman hayati yang mereka miliki, dan berjuang keras untuk melindunginya demi anak cucu dan generasi-generasi berikutnya,” kata Marty dalam derajat ketulusan yang sangat tinggi.

ARCHIPELAGO: the Islands of Indonesia adalah sebuah karya besar yang bermula dari “keisengan”. Ketika kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1986, Marty Fujita —lahir di Los Angeles (AS) 45 tahun yang lalu, dari ayah Jepang dan ibu Meksiko— tiba-tiba menyadari repotnya mengurus dua anak kembar yang baru berusia dua tahun. Ketika hidup di Jakarta ia bisa menggaji baby-sitter dan pembantu untuk mengurus rumah tangganya. Di AS, kemewahan itu tak lagi dapat dinikmatinya. Marty harus cari akal untuk bisa melakukan pekerjaan di rumah sambil mengurus anak-anaknya. Kecintaan Marty kepada Indonesia dan kekagumannya kepada Alfred Russell Wallace memunculkan sebuah gagasan yang jitu; menerbitkan buku tentang keanekaragaman hayati Indonesia ditinjau dari teori Alfred Russell Wallace.

Kerja keras selama tiga tahun itu kini telah rampung. Archipelago telah diluncurkan dalam tiga kesempatan selama November kemarin, masing-masing di Los Angeles, Washington DC, dan Jakarta. Bahkan sebelum diluncurkan, buku yang dicetak di Hongkong itu telah habis terjual sebanyak 3.000 buku. Musim Natal dan Tahun Baru ini tampaknya juga membuat Archipelago menjadi laris sebagai buku hadiah. Laporan terakhir dari University of California Press menyatakan bahwa Archipelago masuk 10 buku terlaris dalam holiday seasons ini. Semua keuntungan dari penjualan buku ini akan dipakai untuk membiayai kegiatan konservasi di Indonesia.

“Saya harap suatu ketika nanti, saya dan anak-anak saya dapat lagi tinggal lama di Indonesia. Kekaguman Wallace 150 tahun lalu akan kekayaan alam Nusantara masih menjadi kekaguman saya sekarang ini,” kata Marty, ketika saya mengunjungi keluarganya di Oakland, dekat San Francisco (AS).

Bondan Winarno, penulis tinggal di Jakarta

Sumber: KOMPAS, SABTU, 13 DESEMBER 1999

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: