Benteng Keragaman Hayati Terancam

- Editor

Rabu, 18 Oktober 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antisipasi Dampak Eksploitasi di Zona Wallacea
Zona Wallacea yang menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati Nusantara terancam hancur oleh model pembangunan bertumpu pada eksploitasi ekonomi semata. Padahal, pulau-pulau kecil ini menyimpan satwa endemik dan begitu rusak tak bisa dipulihkan.

“Setelah kekayaan hayati di bagian barat Indonesia, seperti Sumatera dan Jawa, habis, eksploitasi sekarang mengarah ke timur. Pulau-pulau kecil di jantung Zona Wallacea terancam hancur. Perkebunan sawit di mana-mana dan kalau ditotal sudah seluas Pulau Jawa. Ini amat menakutkan kalau dari perspektif konservasi,” kata Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia Jatna Supriatna, saat berkunjung ke Kompas, di Jakarta, Selasa (17/10).

Ekologi di pulau-pulau kecil cenderung lebih rapuh. “Seperti burung-burung di Pulau Sangihe (Sulawesi Utara), juga beberapa fauna di Pulau Obi dan Bacan, banyak yang hilang begitu pembangunan ke sana,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Zona Wallacea adalah jajaran kepulauan yang tak pernah bersatu dengan daratan besar Asia dan Australia. Pulau-pulau itu di antaranya Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, serta Nusa Tenggara. Wilayah ini dikenal memiliki tingkat endemisitas tertinggi di dunia. Proses isolasi jutaan tahun melahirkan flora dan fauna endemik yang tak ditemui di belahan lain.

Menurut Jatna, di Zona Wallacea ini ada 697 spesies burung, di mana 249 (36 persen) di antaranya endemik. Zona itu juga memiliki 201 mamalia lokal dan 123 di antaranya endemis.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Ahli sejarah sains dari National University of Singapore, John van Whye; Research Leader (Asia) Kew Royal Botani Garden, Andre Schuiteman; ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo; dan Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia Jatna Supriatna (kiri ke kanan), berkunjung ke Redaksi Kompas, Jakarta, Selasa (17/10). Dalam kunjungan yang diterima Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Ninuk Mardiana Pambudy dan jajaran redaksi, mereka memaparkan keanekaragaman hayati di Zona Wallacea.

Andre Schuiteman, Research Leader (Asia) Kew Royal Botani Garden, mengatakan, Zona Wallacea menjadi inspirasi bagi Alfred Russel Wallace melahirkan karya-karya besar, terutama bukunya The Malay Archipelago (1869). Buku itu ditulis menurut rekaman perjalanan Wallace selama 8 tahun di Nusantara.

Keberagaman manusia
Ahli genetika Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo Supolo mengatakan, Zona Wallacea juga menjadi area pertemuan manusia Indonesia dari kelompok populasi Papua dan Austronesia. “Masyarakat di pulau-pulau ini memiliki ciri khas pembauran genetika,” katanya.

Fenomena ini sebenarnya telah diamati Wallace. Secara sederhana, Wallace mengelompokkan populasi di Indonesia ke dalam dua bagian besar, yakni Melayu dan Papua, serta peralihan di antara dua kelompok ini. “Selain mengamati flora dan fauna, Wallace amat rinci menggambarkan manusia Indonesia,” ucapnya.

Menurut Jatna, hingga kini kajian-kajian keunikan dan potensi besar Zona Wallacea belum digali tuntas. Setelah Wallace, nyaris tak ada yang melakukan riset menyeluruh dari aspek alam ataupun manusianya.

Untuk itu, perlu ada upaya mendokumentasikan dan mengenalkan kepada publik kekayaan Zona Wallacea. “Hutan-hutan kaya aneka flora dan fauna yang dulu didatangi Wallace kini banyak yang sudah hilang. Ini pesan yang bisa diangkat,” kata John van Wyhe dari National University of Singapore.

Menurut Jatna, Indonesia memiliki banyak sekali endemis yang amat berharga bagi ilmu pengetahuan ataupun kebudayaan masyarakat. Namun, kekayaan ini kerap tak dihargai karena orientasi pembangunan menitikberatkan aspek ekonomi semata.

“Kita harus bisa menjelaskan, terutama kepada pemerintah daerah, bahwa kekayaan alam mereka tak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga budaya. Bahkan, amat berharga dalam hal penyediaan obat di masa depan, seperti obat kanker ditemukan di rawa-rawa gambut Kalimantan,” ujarnya.

Andre Schuiteman mengusulkan, ada subsidi dari pemerintah pusat untuk melindungi area kaya endemis agar dilestarikan. Salah satunya dengan menjadikannya taman nasional. (AIK)

Sumber: Kompas, 18 Oktober 2017

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB