Home / Sosok / Djunijanti Peggie; Inspirasi Hidup dari Kupu-kupu

Djunijanti Peggie; Inspirasi Hidup dari Kupu-kupu

Pakar kupu-kupu, Djunijanti Peggie (50), adalah doktor kupu-kupu pertama Indonesia yang lulus dari Cornell University, Amerika Serikat.

Wanita kelahiran Kota Bogor ini merupakan salah satu Kartini masa kini yang mendedikasikan dirinya di bidang penelitian sesuai kepakarannya, yakni sistematika kupu-kupu.

Ibu tiga anak ini tertarik pada kupu-kupu sejak masih belajar di SMA Regina Pacis, Bogor. Di sekolah ini, dia bergabung dengan kelompok pencinta alam ”Cobweb” dan sangat senang melakukan pendakian gunung dan kegiatan lintas alam.

Ia sudah berkali-kali mendaki puncak Gunung Gede, sekali ke puncak Gunung Pangrango, dan sekali ke puncak Gunung Salak. Selain itu, ia juga pernah menyusuri Pantai Pangumbahan Sukabumi dan Ujung Kulon, Banten.

”Saking senangnya dengan alam, selesai SMA tahun 1984, saya mengambil kuliah Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta dengan harapan ingin mengenal alam lebih dekat,” kata Peggie mengutarakan awal perjalanan kariernya, pekan lalu.

Selesai kuliah, Peggie langsung mendaftar ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ia sempat merasa bosan menanti kabar kepastian diterima atau tidaknya sebagai PNS di LIPI.

”Saya sempat cari kerja di tempat lain karena saya idealis hanya mau kerja di bidang biologi, maka ketika saya diterima di perusahaan swasta di Cisarua, saya memilih kerja di bagian quality control,” kata Peggie.

Baru sekitar dua bulan bekerja, Peggie mendapatkan pemberitahuan bahwa lamarannya sebagai PNS di LIPI diterima. Dia pun langsung mengundurkan diri.

”Rekan-rekan sekerja di perusahaan swasta itu heran ketika mengetahui saya memilih jadi PNS,” kata Peggie, yang diterima menjadi peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI tahun 1990.

Setahun setelah bekerja di LIPI, Peggie mendapat kesempatan belajar keluar negeri untuk Program Master of Science, Imperial College University of London, di Jurusan Applied Entomology, dengan beasiswa dari British Council.

”Saya juga memperoleh kesempatan sangat berharga di British Museum of Natural History (sekarang dikenal sebagai Natural History Museum, London) di bawah supervisi Dr Dick Vane-Wright, seorang mentor yang sangat luar biasa,” kata Peggie, yang menyelesaikan studi S-2 tahun 1992.

Setahun setelah kembali di Indonesia, Peggie lagi-lagi mendapatkan kesempatan melanjutkan program doktoral di universitas ternama di Amerika Serikat, yaitu Cornell University. Kali ini, dia mendapatkan beasiswa dari lembaga yang cukup bergengsi, American Museum of Natural History.

Tahun 2002, Peggie pun menyelesaikan studi S-3 dengan penelitian
tentang sistematika kupu-kupu. Dia merupakan doktor kupu-kupu pertama di Indonesia lulusan perguruan tinggi luar negeri.

Manfaat
Lantas, apa sesungguhnya manfaat kupu-kupu? Menurut Peggie, kupu-kupu ada yang berfungsi sebagai penyerbuk. Namun, tampaknya kupu-kupu bukan serangga penyerbuk utama, seperti lebah dan tawon. Sebab, kupu-kupu tidak mempunyai organ khusus untuk membawa polen atau serbuk sari.

Kupu-kupu juga dapat digunakan sebagai indikator kualitas lingkungan. Artinya, keberadaan kupu-kupu yang beragam di suatu area dapat memberikan indikasi bahwa area itu masih alami dan belum terganggu.

Sebaliknya, diversitas spesies yang rendah atau bahkan ketiadaan kupu-kupu menandakan bahwa area itu sudah rendah kualitas lingkungannya.

”Perubahan fungsi habitat akan memengaruhi penyebaran kupu-kupu di suatu area. Dengan demikian, kupu-kupu dapat digunakan dalam pemantauan lingkungan untuk mengamati perubahan habitat atau tingkat kerusakan habitat,” kata Peggie, yang menikah dengan Erwin Marjanto Dumalang (50), teman seangkatan di SMA yang berjumpa ketika sama-sama studi di Amerika. Mereka menikah tahun 1996, tanggal 2 bulan 2 di City Hall Manhattan New York City.

Dengan siklus hidup yang relatif singkat (sekitar 4 bulan), kupu-kupu telah digunakan dalam berbagai penelitian genetika, ekologi, dan lain-lain. ”Dalam penelusuran evolusi, kupu-kupu di berbagai belahan dunia ini juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pengetahuan dan pemahaman biogeografi,” kata Peggie.

Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris, menurut Peggie, merintis pemikiran biogeografi berdasarkan observasinya terhadap fauna, termasuk kupu-kupu di Indo-Malaya dan Nusantara.

”Kontribusi Wallace dalam hal ini adalah pengungkapan demarkasi fauna di wilayah barat dan timur Nusantara yang dicetuskan sebagai garis imajiner Wallace,” kata Peggie.

Peta Sebaran
Peggie berangan-angan membuat peta sebaran semua spesies kupu-kupu Indonesia yang tercatat sebanyak 2.000 jenis, seperti yang ada di buku-buku panduan lapangan Eropa dan Amerika.

”Di dunia, jenis kupu terbanyak di Amerika Selatan, yakni ada 3.500 spesies. Namun, Indonesia memiliki jenis kupu-kupu endemik terbanyak di dunia. Dari 2.000 jenis kupu-kupu Indonesia, terdapat sekitar 40 persen jenis endemik,” kata Peggie seraya menambahkan, jenis kupu-kupu endemik ini sebarannya sangat terbatas, hanya ada di pulau tertentu.

Saat ini, Peggie, selain membimbing mahasiswa yang melakukan penelitian tentang kupu-kupu, juga menebarkan minat terhadap kupu-kupu terutama pada anak-anak.

”Ini juga yang melandasi saya membuat buku-buku panduan sederhana dan buku untuk anak,” kata Peggie. Menurut dia, mencetak buku panduan tentang kupu-kupu Indonesia harus berjuang mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan bukunya.

Penerbit besar tidak berminat menerbitkan karena dianggap tidak komersial. Perusahaan nasional juga tak tertarik untuk menyisihkan dananya ketika dikirimi proposal untuk hal yang sama. Peggie hanya bekerja sama dengan penerbit kecil yang bersedia mencetak bukunya dengan jumlah ratusan buku.

Meski demikian, Peggie terus menyusun buku panduan yang bisa diakses masyarakat. Hal itu termasuk menulis di media nasional dan majalah anak-anak.

Djunijanti Peggie
Lahir
Bogor, 7 Juni 1965

Suami
Erwin Marjanto Dumalang (50)

Anak
Livia Larasati Dumalang (17)
Brianna Dinda Dumalang (13)
Daniel Damarpatih Dumalang (7)

Pendidikan
S-3 Cornell University, Amerika 2002
S-2 University of London, Inggris 1992
S-1 Universitas Nasional Jakarta 1988
SMP/SMA Regina Pacis, Bogor 1981/1984

Keahlian
Sistematika Kupu-kupu

Pekerjaan
Peneliti dan kurator Kupu-kupu di Laboratorium Entomologi, Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI (1990-sekarang)

FX Puniman, Wartawan Tinggal di Bogor
——————————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 24 April 2015, di halaman 16 dengan judul “Inspirasi Hidup dari Kupu-kupu”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: