Home / Berita / Lomba Karya Ilmiah; Srikandi Muda Merintis Jalan Jadi Ilmuwan

Lomba Karya Ilmiah; Srikandi Muda Merintis Jalan Jadi Ilmuwan

Ketika teman-teman sebaya mereka gandrung bertualang di mal, para remaja itu mencurahkan waktu di jalan sunyi. Mereka meneliti hal-hal sederhana dalam kehidupan sekitar. Hasilnya mengantar mereka menjadi ”duta” bangsa di forum global.

Chyntia Silvi Hasan (16) dan Zaeratul Janah (17) tak pernah menyangka keisengan memelototi perilaku cecak membuahkan kebanggaan luar biasa. Berkat penelitian seputar reptil kecil tersebut, kedua siswi SMA Negeri 80 Jakarta itu mendapatkan tiket ke Los Angeles, Amerika Serikat. Di negeri tersebut, pada 14-19 Mei, keduanya akan memaparkan perilaku cecak dan efeknya bagi manusia pada Intel International Science and Engineering Fair 2017.

”Gak nyangka penelitian tentang cecak membawa kami ke forum internasional,” kata Chyntia dengan wajah semringah, Senin (8/5), di Jakarta.

Kedua remaja ini menjadi bagian dari delapan pemenang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) 2016 yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lomba ini sudah menapak tahun ke-48. Kali ini diikuti 2.500 siswa SMA, terbagi dalam empat kategori, yakni bidang hayati, keteknikan, kebumian, dan sosial-kemanusiaan. Para pemenangnya adalah perempuan. Semuanya diundang ke Amerika Serikat.

Chyntia dan Zaeratul memenangi kategori bidang hayati. Adapun bidang keteknikan dimenangi oleh Miranti Ayu Kamaratih bersama Octafiani Isna Ariani (SMA Al Hikmah Surabaya, Jawa Timur).

KOMPAS/VIDELIS JEMALI–Peserta Intel International Science and Engineering Fair 2017 di Amerika Serikat berpose bersama di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Senin (8/5). Mereka akan mempresentasikan lima hasil penelitian di AS bersama peserta dari 70 negara, pekan depan.

Bidang kebumian dimenangi dua peserta, yakni Azizah Dewi Suryaningsih (SMA Negeri 1 Yogyakarta) serta Sofi Latifah Nuha Anfresi dan Intan Utami Putri (SMA Negeri Sungailiat, Bangka Belitung).

Sementara bidang sosial-kemanusiaan dimenangi Latifah M Salihah (SMA Negeri 1 Teras, Boyolali, Jawa Tengah).

Ide sederhana
Pencapaian kedelapan ”srikandi muda” tersebut berangkat dari hal-hal sederhana dalam keseharian. Chyntia dan Zaeratul, misalnya, meneliti medium dan habitat cecak rumah (Cosymbotus platyurus). Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa lamela (selaput telapak) cecak melekat kuat pada dinding atau langit-langit rumah yang kasar.

Berdasarkan penelitian itu, keduanya merekomendasikan secara teknik bangunan, dinding dan langit-langit rumah dibikin halus agar tak menjadi habitat cecak. Menurut Chyntia, cecak rumah, terutama melalui kotorannya, adalah salah satu binatang penghasil bakteri E coli. Bakteri ini berisiko menyebabkan diare. ”Penelitian kecil ini sangat berguna,” kata Chyntia yang ayahnya bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta.

Lain lagi dengan Ayu dan Octafiani. Kedua remaja asal ”Kota Pahlawan” ini melihat manfaat besar dari ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus costaricencis) untuk sel surya. Setelah melalui liku-liku percobaan, didapatkan simpulan kulit buah naga merah bisa menangkap sinar matahari dan mengonversinya menjadi arus listrik. Ekstrak tersebut berpeluang menggantikan rutanium complex, zat yang selama ini dipakai pada perangkat sel surya.

”Kemampuan kulit buah naga merah mencapai 56 persen. Tinggal ditambah formula lain agar kadarnya maksimal. Buah naga di Indonesia melimpah untuk energi terbarukan,” ujar Ayu yang sudah diterima di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, melalui jalur undangan.

Sementara itu, bambu petung (Dendrocalamus asper) di lereng Gunung Merapi menginspirasi Azizah. Hasil penelitiannya membuktikan bambu dapat berfungsi sebagai pembendung alami banjir material letusan gunung api. Dengan akar serabut dan kondisi tumbuh berumpun, pepohonan bambu dapat melindungi permukiman atau lahan pertanian sekitarnya.

Bambu petung juga bisa menjadi bagian penting mitigasi bencana. Saat Gunung Merapi di ambang letusan, batang bambu mengeluarkan bunyi ”pletek-pletek”.Suara gemeretak itu berasal dari pecahnya batang bambu akibat meningkatnya suhu tanah.

Di mata anak-anak muda kreatif, inspirasi bisa muncul di mana saja. Hamparan pertambangan timah di Bangka Belitung mengantar Sofi dan Intan menyibak kegunaan pasir laut. Keduanya membuktikan pasir laut mampu menyerap logam berat dari limbah pertambangan timah.

Di bidang sosial, Latifah tertarik dengan persepsi dan perilaku masyarakat terhadap anak dengan HIV-AIDS di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia menemukan solusi atas keterkucilan para pengidap HIV-AIDS. Interaksi langsung terhadap anak-anak binaan Yayasan Lentera merekomendasikan pelurusan persepsi seputar HIV-AIDS. Untuk meluruskan persepsi dan perlakuan masyarakat terhadap pengidap HIV-AIDS, perlu pendekatan partisipatoris.

”HIV-AIDS tidak menular sembarang; hanya lewat cairan. Misalnya transfusi darah,” ujarnya.

Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI Nur Tri Aries mengatakan, pihaknya menargetkan, dalam forum di Amerika Serikat nanti, minimal salah satu proyek meraih juara III atau IV.

Intinya, menumbuhkan kecintaan pada sains di kalangan kawula muda. (VIDELIS JEMALI)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Mei 2017, di halaman 1 dengan judul “Srikandi Muda Merintis Jalan Jadi Ilmuwan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Kenormalan Baru Jangan Jadi Abnormal Lagi

Pelonggaran pembatasan sosial berskala besar demi aktivitas ekonomi harus dilakukan secara hati-hati dengan kajian epidemiologis. ...

%d blogger menyukai ini: