Home / Berita / Suar Pengatur Hujan

Suar Pengatur Hujan

Modifikasi cuaca untuk mengatur hujan biasanya dilakukan dengan menabur garam dapur di awan yang berpotensi hujan. Kini, suar atau flare pun digunakan. Hasilnya pun jauh lebih efektif dibanding garam dapur.

KOMPAS/BPPT–Pesawat milik TNI AU siap digunakan untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk mereduksi curah hujan di kawasan Jabodetabek di Pangkalan Udara Militer Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (5/1/2020). Operasi TMC sempat tertunda karena kendala cuaca pada pagi hari ini.

Hujan lebat masih akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia hingga Maret 2020. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pun sudah mengingatkan untuk tetap mewaspadai potensi banjir, khususnya di Sumatera bagian selatan, Jawa, sebagian Sulawesi dan Papua.

Jakarta dan sekitarnya pun masih berpeluang menghadapi banjir. Karena itu, modifikasi cuaca untuk mencegah banjir di Jabodetabek masih akan terus dilakukan guna memindahkan lokasi turunnya hujan, mengurangi intensitas atau curah hujan, hingga memperpanjang waktu turunnya hujan.

Seiring selesainya perbaikan pesawat Piper Cheyenne milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kini modifikasi cuaca juga dilakukan menggunakan suar atau flare, tidak hanya menggunakan garam dapur atau natrium klorida (NaCl) seperti yang dilakukan selama ini.

Penggunaan suar dalam modifikasi cuaca sebenarnya bukan hal baru di Indonesia, walau memang relatif terbatas. “Flare masih sepenuhnya diimpor, sedangkan garam dapur murni produksi lokal,” kata Kepala Bidang Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Balai Besar TMC BPPT Budi Harsoyo di Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Selain asal material, suar masih dikategorikan sebagai bahan peledak. Karena itu penggunaan maupun transportasinya pun memerlukan perizinan ekstra dan kehati-hatian lebih.

Pada tahun 2010-an, suar digunakan untuk menurunkan hujan di wilayah pertambangan nikel Soroako, Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh perusahaan asal Amerika Serikat. Sementara beberapa tahun terakhir, suar digunakan untuk menurunkan hujan guna mengatasi kebakaran hutan dan lahan di Sumatera.

Untuk pencegahan banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, penggunaan suar relatif baru, sejak Rabu (26/2/2020) atau setelah banjir di sejumlah wilayah di Jakarta dan Bekasi awal pekan lalu. Terlebih, suar ini juga digunakan bukan hanya untuk mempercepat turunnya hujan, tapi juga mencegah hujan dengan merusak awan yang berpeluang jadi hujan.

KOMPAS/AGUS SUSANTO–Foto udara ruas jalan tol Jakarta-Cikampek Km 9 arah Jakarta terendam banjir, Selasa (25/2/2020) pukul 09.45 WIB di Kota Bekasi, Jawa Barat. Petugas kepolisian mengatur laju lalu lintas di jalan tol untuk menghindari kendaraan mogok akibat terendam banjir. Banjir menggenangi sebagian Jabodetabek setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur sejak Selasa (25/2/2020) dinihari. KOMPAS/AGUS SUSANTO25-2-2020

Mengganggu awan
Budi menjelaskan, suar yang digunakan untuk modifikasi cuaca dan biasanya dipasang di bagian belakang sayap pesawat Piper Cheyenne memiliki dua jenis, yaitu suar higroskopik dan suar perak iodida (AgI).

Suar higroskopik juga berisi garam, namun dari jenis kalsium klorida (CaCl2). Sejumlah bahan kimia lain juga ditambahkan dalam suar yang memiliki panjang 30,5 cm dan diameter 6,35 cm tersebut.

Suar ini dibakar di bawah lapisan awan, umumnya awan kumulus yang bergulung-gulung mirip bunga kol, pada ketinggian 3.000-4.000 kaki atau 900- 1.200 meter dari tanah. Begitu suar ditembakkan, material suar akan naik dan masuk ke awan. Partikel suar itu akan bekerja mirip garam dapur, yaitu menambah inti kondensasi di awan hingga hujan lebih cepat turun dibanding kondisi normal.

Untuk mencegah banjir Jakarta, awan hujan tersebut akan dijatuhkan sebelum memasuki Jakarta. “Efektivitas membakar suar lebih tinggi dibanding menabur garam dapur, membakar 1-2 suar sama hasilnya seperti menabur 1 ton garam,” kata Budi.

Pencegahan banjir juga bisa dilakukan dengan membuat inti kondensasi di awan berlebih (overseed) dengan membakar suar sebanyak-banyaknya. Berlebihnya inti kondensasi membuat pertumbuhan awan terhambat dan hujan tidak terjadi karena inti kondensasi saling berebut uap air.

Namun, lanjut Budi, metode ini juga berisiko gagal. Jika itu terjadi, maka proses terjadinya awan hujan akan melambat dan hujan pun bisa turun makin deras.

Untuk meminimalkan risiko itu, awan yang disasar adalah awan yang bergerak ke luar Jakarta. Dengan demikian, kalaupun gagal, maka hujan turun di luar wilayah Jabodetabek yang potensi banjirnya lebih rendah.

Selain suar higroskopik, jenis suar yang digunakan adalah suar perak iodida. Sesuai namanya, suar ini tidak berisi garam tapi senyawa perak iodida. Suar jenis ini, sebelumnya tidak pernah digunakan di Indonesia, tapi di negara lintang tinggi untuk memecah hujan es batu menjadi salju atau butiran air.

Memperlama durasi hujan
Di Indonesia, lanjut Budi, karena potensi hujan es batu rendah, suar ini digunakan untuk membuyarkan awan hingga tidak terjadi hujan. Selain itu, suar ini juga digunakan untuk memperlama durasi hujan hingga memberi kesempatan air hujan mengalir ke sungai atau laut agar tidak menimbulkan genangan dan banjir.

Jika suar higroskopik menyasar awan kumulus, maka suar perak iodida digunakan untuk awan kumulonimbus, yaitu awan kumulus yang sangat besar dan menjulang tinggi. Ketinggian awan ini bisa mencapai lebih dari 20.000 kaki atau 6.000 meter dan suhunya bisa mencapai minus enam derajat celsius. Awan ini berpeluang menghasilkan hujan sangat lebat dan lama.

“Flare perak iodida ini dibakar pada awan-awan target yang sudah terlanjur tumbuh di atas wilayah Jakarta,” katanya. Selama ini, modifikasi cuaca hanya bisa dilakukan saat hari terang demi alasan keselamatan. Dengan suar ini, awan hujan yang tumbuh di pagi hari diharapkan bisa cepat ditangani hingga tak menimbulkan banjir.

Kepala Bidang Pelayanan Teknologi BBTMC BPPT Sutrisno menambahkan, sejak digunakan Rabu (26/2/2020) hingga Minggu (1/3/2020) sudah digunakan 34 suar higroskopik dan 8 suar perak iodida.

Meski kini ada suar, modifikasi cuaca dengan garam dapur tetap dilanjutkan. Sejak 3 Januari 2020 hingga Minggu kemarin, total garam dapur yang disemai mencapai 228 ton yang ditabur menggunakan pesawat CN 295 dan Cassa 212-200 milik TNI Angkatan Udara.

Kepala BBTMC Tri Handoko Seto mengatakan penggunaan suar untuk modifikasi cuaca yang ditembakkan menggunakan pesawat Piper Cheyenne itu diharapkan akan membuat operasi modifikasi cuaca menjadi lebih efektif. Meski tetap tidak bisa digunakan untuk mengatasi awan yang tumbuh di malam hari, tambahan armada itu akan membuat modifikasi cuaca lebih efektif.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 2 Maret 2020

Share
%d blogger menyukai ini: