Peta Jalan Anak Brilian Disiapkan

- Editor

Jumat, 11 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengelolaan terhadap anak-anak muda berbakat yang terintegrasi dari hulu ke hilir segera disiapkan. Tahap awal, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyiapkan rancangan untuk memetakan langkah-langkah dalam mengelola potensi pelajar berprestasi di berbagai ajang kompetisi internasional.

Pada acara pelepasan 18 pelajar SMA yang mewakili Indonesia di ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2018 atau ajang kompetisi ilmiah internasional, di Jakarta, Rabu (9/5/2018), Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan pemerintah sedang menyiapkan rancangan (grand design) mengenai pembinaan siswa berprestasi di tingkat internasional. Kelak kelanjutan pendidikan mereka di perguruan tinggi terjamin, baik di dalam maupun luar negeri.

Juga akan dibahas penyaluran anak muda berbakat yang sudah selesai dari perguruan tinggi agar bisa berkarya di dalam negeri, baik sebagai tenaga profesional yang akan bekerja di perusahaan-perusahaan maupun sebagai akademisi dan peneliti.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hamid mengklaim, Kemdikbud sudah menghasilkan banyak talenta muda yang berbakat, jenjang SD-SMA/SMK. Adapun kelanjutan di perguruan tinggi seharusnya bisa diteruskan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Lalu, untuk membuat talenta muda ini bisa berbakti bagi negeri, perlu dibicarakan dengan beberapa kementerian/lembaga lain.

Hamid mengakui, kelanjutan siswa peraih medali di ajang kompetisi internasional saat ini belum terjamin sepenuhnya. Pada tahun lalu, Kemristek dan Dikti menyampaikan, beasiswa kuliah S-1 bagi siswa yang menorehkan prestasi internasional tidak bisa lagi diberikan karena alasan pemotongan dana.

”Namun, kami dari Kemdikbud tetap bertanggung jawab. Kami ada beasiswa unggulan yang bisa dimanfaatkan bagi mereka yang mau ke S-1. Kalau untuk lanjut ke S-2 dan S-3 bisa dari beasiswa LPDP,” katanya.
Diberdayakan
Pelaksana Tugas Sekretaris Utama LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, penjaringan talenta muda yang berminat di bidang sains, teknologi, teknik/engineering, dan matematika (STEM) sudah banyak muncul, dari jenjang SD-SMA/SMK. Potensi anak muda yang nanti akan mendalami riset sebagai karier akan diberdayakan oleh LIPI.

Tri menyebutkan, sekarang saja banyak diaspora yang sudah diajak bergabung menjadi peneliti di LIPI. Dalam tiga tahun terakhir ini ada puluhan yang bergabung. ”LIPI sudah mengusulkan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi agar ada perekrutan CPNS khusus untuk diaspora yang mau jadi peneliti, yang caranya tidak jalur umum, yang tidak birokratis,” tuturnya.

Keberangkatan 18 pelajar SMA Indonesia ke ajang Intel ISEF di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat, 13-18 Mei, juga didukung Intel Indonesia. Tim Indonesia diseleksi dari pemenang di Lomba Karya Ilmiah Remaja yang digelar LIPI dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia yang digelar Kemdibud.
Pelajar Indonesia akan berkompetisi bersama sekitar 1.800 pelajar dari 80 negara. Mereka akan memaparkan proyek riset sains di hadapan juri.

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Tim Indonesia ke ajang kompetisi ilmiah internasional Intel ISEF 2018 yang terdiri dari18 pelajar SMA berfoto bersama usai acara pelepasn di kantor Kemendikbud, Jakarta, pada Rabu (9/5/2018).

Salah satu peserta dari SMA Internasional Budi Mulia Dua Yogyakarta, Amelinda Mayaparamastri, menyiapkan riset untuk membuat alat tes yang mudah dalam mendeteksi penyakit demam berdarah. Alat tes berupa strip kertas yang mengandung ekstrak serat sutra ini memungkinkan tes awal dapat dilakukan oleh pasien sendiri, saat merasakan gejala demam.

“Penyakit DBD ini awalnya sering salah didiagnosa, seperti penyakit tipus. Nanti dengan strip kertas, seperti test pack kehamilan, dalam hitungan ekitar dua menit, pasien akan tau dia terinfeksi DBD atau tidak. Selama ini kan tes harus dilakukan di laboratorim dan hasilnya cukup lama,” kata Amelinda yang diseleksi dari pememang Lomba Karya Ilmiah Remaja dari LIPI.

Sementara itu, Siswa Kelas XI SMA Negeri 8 Yogyakarta Ignatius Hapsara yang terjaring dari olimpeiade Penelitian Siswa Indonesia oleh Kemendikbud, , membuat riset yang menghasilkan teknologi rem untuk sepeda motor. “Angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara motor di Indonesia ini termasuk kedua tertinggi di dunia. Saya memang suka bidang teknologi, dan untuk bisa menghasilkan teknologi yang canggih perlu riset,” kata Ignatius.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 11 Mei 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru