Ilmuwan Muda Indonesia Raih “Grand Awards”

- Editor

Selasa, 19 Mei 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilmuwan muda Indonesia meraih dua grand awards dan satu special awards di ajang Intel Internasional Science and Engineering Fair (Intel ISEF) yang digelar di Pittsburgh, Amerika Serikat. Mereka disambut oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (18/5).
Kompetisi sains tersebut diselenggarakan oleh Intel Internasional dan dilaksanakan setiap tahun. Tahun ini, Indonesia mengirimkan 12 peserta untuk berbagai bidang sains.

Loca Cada Lora (18) dan Galih Ramadhan (18), siswa SMA Negeri 1 Surakarta, membuat karya ilmiah berjudul An Inorganic Nature of Heavy Metal Absorbent. “Kami menggunakan abu vulkanik untuk menyaring logam pada limbah,” kata Galih.

Awalnya mereka melihat saluran pembuangan yang airnya terlihat bersih dan banyak terdapat sisa abu vulkanik. “Kami penasaran dan mencari tahu fungsi dan kegunaan abu vulkanik,” kata Galih.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penerima grand awards lainnya, I Dewa Gede Ary Palguna (18) dan I Kadek Sudiarsana, SMA Negeri Bali Mandara Singaraja, Bali, dengan karya ilmiah The Motifs Development of Gringsing Sarong bidang matematika.

17Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan bersama 12 siswa SMA peserta Intel International Science and Engineering Fair 2015 di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (18/5). Para ilmuwan muda Indonesia ini mendapatkan dua grand awards dan satu special awards dalam kompetisi sains yang diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.—Dionisius R Triwibowo

“Saya mencoba membuat pola kain Gringsing dengan fungsi matematika agar dapat mengembangkan pola kain menjadi lebih banyak,” kata Ary.

Mereka mencoba menggabungkan fungsi matematika dengan unsur kebudayaan, khususnya pada pola gambar kain Gringsing. Harapannya, agar kain Gringsing bisa lebih dikenal dan mendapatkan perhatian lebih untuk dikembangkan.

Raihan keempat remaja dengan dua karya ilmiah tersebut mendapatkan hadiah 1.000 dollar AS untuk setiap karya ilmiah dan medali bagi setiap peserta.

Peraih special awards bidang material science adalah Hansen Hartono (17) dan Shinta Dewi (18), siswa SMA Katolik Gembala Baik, Pontianak, Kalimantan Barat. Keduanya mengembangkan penelitian penggunaan ampas tebu untuk menyerap logam besi dan merkuri.

Hansen dan Shinta memulai penelitian di Sungai Mandor, Pontianak, yang mengandung kadar merkuri tinggi. Padahal, air sungai tersebut dikonsumsi oleh masyarakat sekitar.

“Kami mencari cara paling efektif dan murah untuk menyaring logam besi dan merkuri di sungai yang tercemar,” kata Hansen.

Anak muda Indonesia cerdas
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang mendampingi siswa-siswi peserta kompetisi turut memantau perkembangan mereka. “Kami yakin anak-anak Indonesia bisa bersaing dengan negara maju sekalipun. Anak-anak itu semua cerdas,” kata Nur Tri Aries S, Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI yang turut dalam delegasi Indonesia.

Raihan grand awards di bidang sains dan matematika membuktikan bahwa siswa-siswi Indonesia mampu berkompetensi di dunia Internasional. “Apa yang mereka raih membuktikan bahwa ilmu pengetahuan itu penting dan Indonesia memiliki anak muda yang luar biasa,” kata Nur.

Pada pertemuan dengan para siswa itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan memberikan apresiasi terhadap prestasi yang mereka raih. “Tugas kalian adalah menuliskan semua pengalaman yang kalian dapat untuk dibagikan kepada semua orang, terutama teman-teman di sekolah, agar mereka terinspirasi,” katanya.

Apresiasi juga diberikan untuk Intel dan LIPI yang mendukung hingga prestasi ini bisa diraih ilmuwan muda Indonesia.

Anies mengimbau agar anak-anak tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi tetap terus bermimpi untuk masa depan yang lebih baik. “Semoga tahun depan peserta yang ikut bisa lebih banyak lagi,” ujarnya.(B09)

Sumber: Kompas Siang | 18 Mei 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB