Pelestarian Alam Harus Sekaligus Menyejahterakan

- Editor

Minggu, 9 April 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemanfaatan hak guna hutan kemasyarakatan dan hutan negara untuk menyejahterakan warga penting dilakukan. Itu bertujuan agar pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana memberi pemberdayaan keuangan.

“Jika tak ada manfaat finansial, warga menganggap menjaga hutan sebagai beban. Jadi muncul risiko pencurian kayu,” kata Manajer Program Jaclev Panji Anom di Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (8/8).

Jaclev adalah lembaga swadaya masyarakat penerima dana hibah dari Dana Perwalian Perubahan Iklim Indonesia di bawah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Organisasi nonpemerintah itu membina 20 desa di Gunung Kidul. Warga ditingkatkan kapasitasnya dalam menjaga hutan negara dan hutan kemasyarakatan seluas 700 hektar. Penguatan kapasitas itu berupa pelatihan pembinaan tata kelola hutan, prosedur tebang pilih, penanaman tanaman tumpang sari, dan pemanfaatan desa wisata.

Targetnya ialah meningkatkan simpanan karbon dalam pohon di hutan kemasyarakatan jadi minimal 35 ton per tahun. Kini areal hutan kemasyarakatan di 20 desa itu hanya menyimpan 31,04 ton karbon per tahun, idealnya 35-100 ton per tahun.

Di Desa Girisuko, misalnya, selain pohon-pohon jati tua yang ditanam sejak 1965, warga menanam jati baru, sengon, dan pule. Jati tua belum bisa dipanen karena penebangannya harus lewat pengajuan proposal ke dinas perhutanan setempat berisi jumlah, volume pohon, dan pola peremajaan.

Sistem pencatatan
“Kami mulai menghitung volume pohon yang bisa dipanen. Nantinya, kami akan mulai menanam bibit pengganti,” ucap Ketua Kelompok Tani dan Hutan Kemasyarakatan Ngudimakmur Darmiyanto. Tanpa ada sistem pencatatan, warga berisiko asal tebang dan lupa melakukan pembibitan serta reboisasi demi peremajaan berkala. Disiplin mencatat jadi hal baru bagi mereka.

Pola serupa diterapkan di Desa Putat, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul. Perbedaannya ialah desa ini jadi desa wisata dengan hutan jati, sengon, gmelina, dan pule sebagai obyek wisata. Selain itu, warga turun-temurun berprofesi sebagai perajin kriya kayu.

“Kami mengurus izin hutan wisata seluas 120 hektar. Itu akan jadi pemasukan warga,” kata Kepala Seksi Kesejahteraan Desa Putat Drajat Eko Saputro. Warga memetakan potensi wisata, pertanian, hutan, dan fasilitas publik di area itu. Mereka dibekali pelatihan cara memakai pemancar sinyal posisi geografis. (DNE)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Agustus 2017, di halaman 16 dengan judul “Pelestarian Alam Harus Sekaligus Menyejahterakan”.

Informasi terkait

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB