Home / Berita / Expo LIPI 2014, Dari Angkot Listrik Hingga Alat Pencegah Longsor

Expo LIPI 2014, Dari Angkot Listrik Hingga Alat Pencegah Longsor

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggelar pameran hasil-hasil karya penelitian dan pengembangan. Mulai dari hasil penelitian mikroba hingga alat-alat pengembangan teknologi dipamerkan dalam Expo ini.

Expo LIPI 2014 digelar di gedung InaCC, Cibinong Science Center, Bogor, Jabar. Pameran berlangsung mulai tanggal 11-13 September 2014. Beragam hasil penelitian mikroba ditampilkan dalam pameran yang sempat didatangi oleh Wapres Boediono ini. Seperti mikroba yang dapat dijadikan obat antibiotik, suplemen, dan bahan sumber energi.

Selain itu, para pengembang LIPI juga menghasilkan sejumlah alat yang berguna bagi kehidupan bermasyarakat. Seperti angkutan umum listrik yang diberi nama e-Angling (electronic angkutan lingkungan) yang menggunakan sistem konversi listrik.

192241_longsorelzaluardalam“Ini konversi dari BBM ke listrik. Pakai baterai lithium. Daya tahan baterai 100-120 km per sekali charge. Ngecharge paling cepat 4 jam karena kapasitasnya 4.000 watt. Baterainya ada di bawah kursi penumpang,” ujar salah satu peneliti e-Angling dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Bandung, Sunarto di lokasi Expo, Kamis (11/9/2014).

Keunggulan pada teknologi ini disebut Sunarto karena tidak ada gas buang pada angkot (zero emition). Selain itu ada apa biaya operasionalnya yang murah.

“Listrik lebih murah daripada BBM, untuk mobil konvensional dengan perhitungan konsumsi mesin itu 1 liter untuk 10 km, kalau menggunakan bensin bersubsidi artinya Rp 650/km. Kalau listrik 1 kwh bisa mencapai 4 km. Artinya kalau 1 kwh dengan harga listrik Rp 1.200/kwh maka biayanya Rp 300/km,” jelas Sunarto.

Alat lain yang berguna bagi kehidupan bermasyarakat pada Expo LIPI 2014 ini adalah penemuan Arifan Jaya dari Puslit Geoteknologi LIPI Bandung. Yakni The Greatest, alat pencegah longsor di daerah lereng atau perbukitan.

“Mengapa ini bagus, ketika ada lereng dan longsor atau gejalanya, orang masang cerucuk beton, banyak di tol-tol seperti itu. Konstruksinya kan mahal, padahal itu kan karena air naik ke permukaan tanah,” ungkap Arif di lokasi yang sama.

Komponen utama alat ini disebut Arif adalah filter yang dihubungkan dengan selang dan lalu disalurkan pada alat bernama flushing. Bahan untuk filter itu sendiri bisa hanya dengan menggunakan peralon.

“Alatnya hanya menggunakan tenaga gravitasi dan kohesi air itu sendiri. Air yang naik itu nanti bisa dialirkan ke drainase dan bisa digunakan untuk masyarakat, seperti air sumur aja. Alat ini tidak perlu pakai tenaga listrik, tapi memang butuh perawatan berkala. Ini sederhana, saya yakin semua orang bisa buat,” kata Arif.

The Greatest sendiri sudah diuji coba dengan dipasang di sejumlah daerah. Salah satu uji cobanya dilakukan bekerja sama dengan PT KAI.

“Sudah diuji coba di stasiun Bumi Waluya Garut dan Karang Sambung Jateng. Sampai saat ini masih dalam proses pengembangan,” tukas Arif.

Beberapa teknologi, alat dan bahan-bahan lainnya juga dipamerkan dalam Expo LIPI 2014 ini. Seperti radar portable untuk kapal, teknologi sonar yang dapat menghasilkan listrik, dan sejumlah pengembangan bahan alam dan buatan seperti pupuk, tanaman, biogas, dan makanan.

Elza Astari Retaduari – detikNews

Sumber: Detik.com, 11 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: