Ditemukan Calon Spesies Baru

- Editor

Jumat, 12 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yamor Beralih Fungsi sebagai Jembatan Alam
Tim peneliti yang tergabung dalam Ekspedisi Yamor menemukan setidaknya lima kandidat spesies baru seusai empat hari menjelajahi Bentang Alam Yamor di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Temuan itu kian melengkapi data keanekaragaman hayati dari Papua.

“Bentang Alam Yamor ini berada di perbatasan Kaimana dan Nabire (Provinsi Papua) yang sulit diakses, minim data keanekaragaman hayati, dan kurang dikenal peneliti,” kata Charlie D Heatubun, Guru Besar Botani dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Negeri Papua, Kamis (11/6), di Nabire.

Ia memimpin 15 orang dari Unipa, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kaimana, melakukan kajian cepat, 1-10 Juni 2015. Mereka masuk pedalaman Yamor lewat jalur laut dari Nabire.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Empat hari di Bentang Alam Yamor, tim ekspedisi multitaksa itu mengarakterisasi keanekaragaman hayati Danau Yamor Atas (Kampung Urubika) dan Danau Yamor Bawah (Kampung Etahima) di Kabupaten Kaimana.

Menurut Heatubun, beberapa literatur meyakini Yamor terbentuk sejak lima juta tahun silam pasca bersatunya Kepala Burung Papua (Vogelkop/Bird’s Head of Papua) dengan daratan besar New Guinea (Papua Indonesia dan Papua Niugini). Dua juta tahun kemudian, Yamor beralih fungsi sebagai jembatan alam bagi taksa migratorial dari Vogelkop ke daratan besar Niugini, dan sebaliknya.

Sebagai bukti ilmiah, peneliti mendapati sumber air asin di satu dari dua pulau di tengah Danau Yamor dengan kedalaman maksimal 20 meter. Sumber air asin itu berkadar salinitas 20 bagian per seribu (ppt) dan jadi sumber garam alami warga.

Kadarusman, taksonom molekuler dari Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, mengatakan, sedikitnya tiga spesies baru ikan dan lobster air tawar serta satu catatan reptil air tawar diperoleh dari ekspedisi ini. Tim membawa sekurangnya 400 spesimen ikan, reptil, amfibi, burung, dan tumbuhan. Spesimen ini akan dianalisis lebih detail di laboratorium.

Temuan fenomenal
Heatubun, yang memiliki kepakaran khusus di pinang-pinangan/palem, mengidentifikasi satu spesies baru dari marga Areca yang dikenal sebagai pinang (betel nuts). Keliopas Krey, pakar fauna melata dari Unipa, mencatat temuan sejenis ular akuatik (famili Acrochordidae). Temuan itu fenomenal, karena selama ini fauna itu hanya terdapat di Australia dan Taman Nasional Lorentz, bagian selatan Papua.

23_bigDari kelompok burung, tim mengidentifikasi 29 jenis dan menemukan burung pelikan yang dikenal sebagai burung migran dari Australia ke Danau Yamor. Ornitolog Unipa, Hermanus Warmetan, juga mendapati burung camar laut berburu mangsa di Danau Yamor serta dua jenis burung beo asli Papua.

Selain temuan positif itu, tim mendapati perkembangan tumbuhan eceng gondok pada sistem drainase koridor Yamor. Itu menimbulkan masalah bagi jalur transportasi masyarakat. Bernadeta Sadsoeitoeboen, pakar lingkungan akuatik Unipa, berharap masalah itu diselesaikan secara mekanik, bukan dengan kimia yang mengancam kelangsungan hidup ekosistem setempat.

Ekspedisi lain di Kaimana, diantaranya Ekspedisi Lengguru 2010 dan 2014. Para peneliti gabungan LIPI dan asing menemukan 50 kandidat spesies dan genus baru, (Kompas, 29 November 2014). (ICH)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Ditemukan Calon Spesies Baru”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 29 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru