Home / Berita / Peneliti Temukan Tumbuhan Endemik Papua di Area Kerja Freeport

Peneliti Temukan Tumbuhan Endemik Papua di Area Kerja Freeport

PT Freeport Indonesia mengumumkan penemuan satu spesies tumbuhan baru yang ditemukan di areal kerjanya di Mimika, Papua. Tumbuhan ini dinamai Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun.

PT FREEPORT INDONESIA—General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PT Freeport Indonesia, Pratita Puradyatmika menunjukkan temuan tumbuhan endemik yang dinamai Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

PT Freeport Indonesia mengumumkan penemuan satu spesies tumbuhan baru di Kabupaten Mimika, Papua bertepatan dengan peringatan hari Lingkungan Hidup yang diperingati Jumat kemarin. Tumbuhan ini dinamakan Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun sp. nov.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Kompas, Sabtu (6/6/2020), Diplycosia puradyatmikai merupakan sebuah tanaman yang tumbuh dalam rumpun semak setinggi kurang lebih 1,5 meter dengan ranting kuat berwarna coklat. Tangkai daunnya berwarna kemerahan, daunnya berwarna hijau, berbentuk bulat, dan dipenuhi bulu halus. Spesies ini dapat tumbuh di habitat berketinggian 2.700–2.800 meter di atas permukaan laut.

Wakil Presiden PT Freeport Indonesia (PTFI) Bidang Komunikasi, Riza Pratama mengatakan, penemuan spesies baru di area kerja Freeport ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal internasional Phytotaxa pada tanggal 11 Mei 2020. Freeport bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor, Universitas Papua, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, serta Royal Botanic Gardens Kew dari Inggris dalam proses eksplorasi dan publikasi tumbuhan tersebut.

Diketahui Diplycosia puradyatmikai adalah penemuan tanaman ke-29 PTFI dalam 23 tahun terakhir. Temuan itu menambah khazanah keanekaragaman hayati Indonesia yang dikenal sebagai negara megadiversitas.

PT FREEPORT INDONESIA—Peneliti menemukan tumbuhan endemik yang dinamai Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PTFI, Pratita Puradyatmika, yang nama belakangnya digunakan sebagai nama jenis baru tumbuhan ini, menyatakan penelitian dan penetapan Diplycosia puradyatmikai sebagai spesies baru memakan waktu 35 tahun sejak spesimen pertama dikoleksi pada tahun 1985. Prosesnya berlangsung lama karena kompleksnya area eksplorasi ekosistem alpin dan sulitnya menemukan kondisi fisik yang lengkap dari spesies tumbuhan tersebut.

Proses eksplorasi dapat dilakukan dengan lebih maksimal apabila melibatkan sejumlah pihak, mulai dari institusi pendidikan, penelitian dan pengembangan hingga lembaga konservasi keanekaragaman hayati. Pratita menambahkan, kegiatan eksplorasi sangat penting untuk meneliti keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna sebagai salah satu upaya pelestarian di seluruh area kerja PTFI.

Ahli botani dari Universitas Papua yang terlibat dalam penemuan dan publikasi spesies ini, Charlie Heatubun mengatakan, pendataan spesies secara menyeluruh dan mendalam yang dilakukan di wilayah kerja PTFI sangat penting untuk menjamin kegiatan operasional perusahaan berdampak seminimum mungkin terhadap setiap spesies dan lingkungan setempat.

Charles yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat ini menilai pendataan spesies baru juga dapat dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat umum, saat ini, maupun di masa yang akan datang, terutama dalam menyikapi dampak perubahan iklim, pemanasan global, dan kepunahan spesies di muka bumi.

Kontribusi Papua
Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Cenderawasih Jayapura, Daawia Suhartawan saat dihubungi mengatakan, penemuan Diplycosia puradyatmikai membuktikan Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya.

DOKUMENTASI PRIBADI DAAWIA SUHARTAWAN—Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Cenderawasih Jayapura, Daawia Suhartawan saat menemukan anggrek Bulbophyllum irianae di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.

Daawia memberikan contoh, terdapat sekitar 3.000 jenis anggrek di Papua. 90 persen dari 3.000 jenis itu dikategorikan endemik atau hanya berada di tanah Papua saja. Kontribusi keanekaragaman hayati Papua yang sangat kaya itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari 17 negara megadiversitas di dunia.

“Papua memiliki keanekaragaman hayati yang kaya karena berada di daerah tropis, wilayah yang sangat luas dan memiliki ekosistem yg paling lengkap, dari ekosistem laut, mangrove, pesisir hingga puncak pegunungam tinggi yang bersalju abadi. Setiap tipe ekosistem memiliki keanekaragaman spesies yang kaya dan unik,” tutur Daawia.

Oleh FABIO COSTA

Sumber: Kompas, 6 Juni 2020

Share
x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: