Peneliti Temukan Tumbuhan Endemik Papua di Area Kerja Freeport

- Editor

Senin, 8 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PT Freeport Indonesia mengumumkan penemuan satu spesies tumbuhan baru yang ditemukan di areal kerjanya di Mimika, Papua. Tumbuhan ini dinamai Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun.

PT FREEPORT INDONESIA—General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PT Freeport Indonesia, Pratita Puradyatmika menunjukkan temuan tumbuhan endemik yang dinamai Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

PT Freeport Indonesia mengumumkan penemuan satu spesies tumbuhan baru di Kabupaten Mimika, Papua bertepatan dengan peringatan hari Lingkungan Hidup yang diperingati Jumat kemarin. Tumbuhan ini dinamakan Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun sp. nov.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan siaran pers yang diterima Kompas, Sabtu (6/6/2020), Diplycosia puradyatmikai merupakan sebuah tanaman yang tumbuh dalam rumpun semak setinggi kurang lebih 1,5 meter dengan ranting kuat berwarna coklat. Tangkai daunnya berwarna kemerahan, daunnya berwarna hijau, berbentuk bulat, dan dipenuhi bulu halus. Spesies ini dapat tumbuh di habitat berketinggian 2.700–2.800 meter di atas permukaan laut.

Wakil Presiden PT Freeport Indonesia (PTFI) Bidang Komunikasi, Riza Pratama mengatakan, penemuan spesies baru di area kerja Freeport ini telah dipublikasikan secara resmi dalam jurnal internasional Phytotaxa pada tanggal 11 Mei 2020. Freeport bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor, Universitas Papua, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat, serta Royal Botanic Gardens Kew dari Inggris dalam proses eksplorasi dan publikasi tumbuhan tersebut.

Diketahui Diplycosia puradyatmikai adalah penemuan tanaman ke-29 PTFI dalam 23 tahun terakhir. Temuan itu menambah khazanah keanekaragaman hayati Indonesia yang dikenal sebagai negara megadiversitas.

PT FREEPORT INDONESIA—Peneliti menemukan tumbuhan endemik yang dinamai Diplycosia puradyatmikai Mustaqim, Utteridge and Heatubun di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PTFI, Pratita Puradyatmika, yang nama belakangnya digunakan sebagai nama jenis baru tumbuhan ini, menyatakan penelitian dan penetapan Diplycosia puradyatmikai sebagai spesies baru memakan waktu 35 tahun sejak spesimen pertama dikoleksi pada tahun 1985. Prosesnya berlangsung lama karena kompleksnya area eksplorasi ekosistem alpin dan sulitnya menemukan kondisi fisik yang lengkap dari spesies tumbuhan tersebut.

Proses eksplorasi dapat dilakukan dengan lebih maksimal apabila melibatkan sejumlah pihak, mulai dari institusi pendidikan, penelitian dan pengembangan hingga lembaga konservasi keanekaragaman hayati. Pratita menambahkan, kegiatan eksplorasi sangat penting untuk meneliti keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna sebagai salah satu upaya pelestarian di seluruh area kerja PTFI.

Ahli botani dari Universitas Papua yang terlibat dalam penemuan dan publikasi spesies ini, Charlie Heatubun mengatakan, pendataan spesies secara menyeluruh dan mendalam yang dilakukan di wilayah kerja PTFI sangat penting untuk menjamin kegiatan operasional perusahaan berdampak seminimum mungkin terhadap setiap spesies dan lingkungan setempat.

Charles yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Papua Barat ini menilai pendataan spesies baru juga dapat dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat umum, saat ini, maupun di masa yang akan datang, terutama dalam menyikapi dampak perubahan iklim, pemanasan global, dan kepunahan spesies di muka bumi.

Kontribusi Papua
Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Cenderawasih Jayapura, Daawia Suhartawan saat dihubungi mengatakan, penemuan Diplycosia puradyatmikai membuktikan Papua merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya.

DOKUMENTASI PRIBADI DAAWIA SUHARTAWAN—Dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Cenderawasih Jayapura, Daawia Suhartawan saat menemukan anggrek Bulbophyllum irianae di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.

Daawia memberikan contoh, terdapat sekitar 3.000 jenis anggrek di Papua. 90 persen dari 3.000 jenis itu dikategorikan endemik atau hanya berada di tanah Papua saja. Kontribusi keanekaragaman hayati Papua yang sangat kaya itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari 17 negara megadiversitas di dunia.

“Papua memiliki keanekaragaman hayati yang kaya karena berada di daerah tropis, wilayah yang sangat luas dan memiliki ekosistem yg paling lengkap, dari ekosistem laut, mangrove, pesisir hingga puncak pegunungam tinggi yang bersalju abadi. Setiap tipe ekosistem memiliki keanekaragaman spesies yang kaya dan unik,” tutur Daawia.

Oleh FABIO COSTA

Sumber: Kompas, 6 Juni 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB