Spesies Baru: ”Areca Jokowi” Si Pinang Langsing dari Papua

- Editor

Jumat, 23 Desember 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukan tanpa alasan Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Papua Charlie D Heatubun menamai temuan baru jenis pinang dengan nama Presiden, Jokowi. Temuan dari Ekspedisi Yamor dan Ekspedisi NKRI itu menambah deretan tiga jenis pinang di Papua yang diidentiiikasi sebelumnya.

Temuan baru Heatubun itu muncul dalam jurnal daring Phytptaxa Volume 288 No 2 pada 14 Desember 2016 dengan judul ”Areca jokowi: A New Species of Betel Nut Palm (Arecaceae) from Western New Guinea”. “Kami beri nama pinang jokowi sebagai penghargaan terhadap Jokowi yang sebagai pribadi menunjukkan keteladanan dalam kepemimpinan dan kesederhanaan,”kata Heatubun yang dihubungi pada Kamis (15/12) di Manokwari, Papua Barat.

Sebelumnya, Heatubun menamai pinang A mandacanii (2008) dan A unipa (2013). Temuan baru beruntun setelah lebih dari 300 tahun, yakni A catechu Linneaus tahun 1753.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Joko Widodo sebagai Presiden dalam dua tahun terakhir lima kali mengunjung ujung timur Indonesia. Selain menggerakkan infrastruktur jalan trans-Papua dan perbatasan Papua Niugini, seruan Jokowi untuk menyatukan harga bahan bakar minyak seakan mengerti perasaan orang Papua yang membisu meski harga bensin bisa mencapai puluhan ribu rupiah per liter.

Wujud terima kasih disematan dalam temuan ilmiahnya. ”Sebagai Presiden pilihan rakyat dan gemimpin negara, beliau sangat menaruh perhatian besar pada kemajuan dan kesejahteraan tanah Papua,” katanya.

Pinang jokowi dinilai unik dan secara morfologis berbeda dengan ketiga spesies sebelumnya. Ciri paling menonjol adalah perbungaannya yang termasuk kecil tetapi padat serta bunga betinanya punya calyx putih kontras.

Pinang itu berperawakan palem tunggal, berbatang langsing, 7-8 sentimeter, dengan tinggi 15 meter. Janis A catechu berdiameter batang 10-15 sentimeter.

Temuan pinang jokowi berawal dari penelitian lapangan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Papua di Danau Yamor tahun 2015 yang dipimpin Heatubun. Selanjutnya, “kecurigaan” akan jenis pinang baru itu ditindaklanjuti Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016.

Bagian penting
Tanaman pinang itu ditemukan di lahan-lahan masyarakat di Desa Gariau (Urubika) yang masuk wilayah administratif Kabupaten Kaimana di Papua Barat. Pinang yang dalam bahasa lokal (dialek Yamor suku Ka moro) bernama siaku’ itu umumnya sebagai bagian penting kebiasaan menyirih orang Papua yang dikunyah bersama sirih dan bubuk kapur.

Dalam jurnal disebutkan biji pinang jokowi berasal dari hutan perbukitan di Kepala Air Kali Imadi Gunung Daweri, dekat Desa Kewo yang berbatasan dengan Kabupaten Nabire di Papua. Warga Desa urubika mengambil biji pinang jokowi di atas perbukitan setinggi 300 meter itu, lalu ditanam di kebun warga hingga kini.

Terkait kandisi dan kerentanan spesies itu dari kepunahan, jurnal itu merekomendasikan, agar dilakukan kajian lebih lanjut. Namun yang jelas –masih disebutkan dalam jurnal– pinang jokowi itu tersebar terbatas dan berada di areal konsesi izin logging (perkayuan).

Kerentanan tersebut seakan ironi dengan kekayaan hayati Papua, baik di belantara maupun bawah lautnya yang tak henti memunculkan jenis-jenis baru. Papua Barat yang dua buIan Iagi akan menggelar pemilihan gubernur telah dicanangkan sebagai Provinsi Konservasi sejak 19 Oktober 2015.

Dalam konferensi pers di Jakarta terkait Provinsi Konservasi itu, 22 November 2016, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Nataniel Mandacan menjanjikan ”Apa pun yang dilakukan tetap dengan menjaga kepentingan masa depan. Jangan sampai mengejar ekonomi, lalu korbankan segalanya.” (ICHWAN SUSANTO)

Sumber: Kompas, 23 Desember 2016

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Berita ini 59 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Jumat, 20 Februari 2026 - 17:12 WIB

Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Berita Terbaru

Artikel

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Senin, 9 Mar 2026 - 09:50 WIB