Ekspedisi Lengguru 2014 Temukan 1.400 Spesimen

- Editor

Sabtu, 29 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LIPI Berharap Tak Dirugikan
Ekspedisi Lengguru 2014 yang mengenali keanekaragaman hayati karst dan laut di Kabupaten Kaimana, Papua Barat, menemukan 1.400 spesimen, termasuk 50 kandidat spesies dan genus baru. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berharap tak ada pencurian hayati.

Ekspedisi Lengguru 2014 berlangsung 17 Oktober-20 November 2014 melibatkan LIPI, Akademi Perikanan Sorong, dan lembaga riset asal Perancis, Institut de Recherche pour le Développement (IRD). Ekspedisi yang melibatkan 74 peneliti tersebut didasarkan pada Protokol Nagoya yang diratifikasi Indonesia tahun lalu.

”Analisis barcoding molecular akan dilakukan LIPI bersama IRD melalui penyediaan peralatan pendukung di laboratorium di Pusat Biologi LIPI Cibinong. Namun, beberapa analisis yang tak dilakukan di Indonesia akan dilakukan di luar negeri melalui perizinan mengenai pengiriman material dalam bentuk ekstraksi DNA atau spesimen,” kata Laurent Pouyaud, Koordinator Ekspedisi Lengguru 2014 dari IRD, Jumat (28/11), di Jakarta. Konferensi pers itu juga dihadiri Gono Semiadi, koordinator dari LIPI, dan sejumlah anggota tim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rosichon Ubaidillah, Kepala Museum Zoologicum Bogoriense yang mewakili Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, mengatakan, Protokol Nagoya yang diratifikasi menjadi UU No 11/2013 wajib diikuti dan menjadi landasan dalam setiap kerja sama penelitian. ”Kekhawatiran seperti itu (terkait pemindahan materi penelitian ke luar negeri) tetap jadi perhatian LIPI sebagai otorita ilmiah Indonesia,” katanya.

Pada 2012, kerja sama serupa antara LIPI dan pihak University of California, Davis, Amerika Serikat, berakhir buruk. Ekspedisi di Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara, itu menghasilkan 335 ekstrak mikroba dan 228 ekstrak tumbuhan.

Namun, kerja sama bertahap itu berakhir lebih cepat dari rencana (2014). Pihak AS mencederai kesepakatan, di antaranya publikasi sepihak peneliti University of California, Davis, 2012, tentang spesies lebah raksasa (Megalara garuda) yang ditemukan di Mekongga, yang tidak menyebutkan nama Rosichon sebagai mitra penemu.

Kini, sejumlah ekstrak potensial berada di AS tanpa kelanjutan kerja sama (Kompas, 10/4).

Protokol Nagoya 2010 yang mulai berlaku penuh 12 Oktober 2014 mengatur pembagian manfaat yang adil terkait pemanfaatan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional. Pemberlakuan perjanjian internasional itu diharapkan memberikan keuntungan bagi Indonesia yang selama ini menjadi ladang pencurian sumber daya genetik (biopiracy). Berdasarkan situs Konferensi Keanekaragaman Hayati (CBD), Perancis menandatangani Protokol Nagoya, 20 September 2011.
Hasil temuan
Ekspedisi Lengguru 2014 menjadi kelanjutan penelitian tahun 2010. Saat itu, tim menemukan empat spesies baru ikan pelangi dan ikan mata buta.

Gono Semiadi mengatakan, ekspedisi mengumpulkan 1.400 spesimen, termasuk 50 kandidat spesies baru, di antaranya dua kandidat genus baru dari keluarga jangkrik. Memastikan spesies dan genus baru butuh waktu 6 bulan hingga 1 tahun.

Dari sisi botani, ditemukan jenis jambu-jambuan, anggrek, dan tanaman hias lain. Dari 600 nomor spesimen, 400 koleksi di antaranya jenis anggrek yang dibawa ke Kebun Raya Wamena dan Kebun Raya Bogor untuk dikembangbiakkan. Anggrek di Kaimana ditemukan pada ketinggian 0-1.400 meter di atas permukaan laut di puncak bukit.

Tim laut menjumpai kondisi terumbu karang di pinggir pulau utama relatif rusak dibandingkan dengan pinggir pulau kecil. Dari sisi kelimpahan jenis spesies penghuni ekosistem terumbu karang, perairan setempat tergolong unik, cenderung berbeda dengan perairan lain di Indonesia.

Ekspedisi multidisiplin itu memadukan pendekatan molekuler, morfologi, ekologi, dan paleontologi. Itu bisa membuka tabir proses pembentukan karst Papua Barat yang unik dan mengungkap endemisitas serta sumber keanekaragaman hayati.

”Justifikasi sementara, keunikan perairan Kaimana karena berbentuk teluk dengan daratan karst unik dan terdapat aliran sungai. Faktor-faktor ini yang mungkin menyebabkan perairan di sana spesifik,” kata Ucu Arbi, peneliti tim laut. (ICH)

Sumber: Kompas, 29 November 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Biometrik dan AI, Tubuh dalam Cengkeraman Algoritma
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:32 WIB

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB

Berita

Galodo dan Ingatan Air

Senin, 29 Des 2025 - 19:32 WIB

Artikel

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Senin, 29 Des 2025 - 19:06 WIB

Artikel

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Des 2025 - 11:41 WIB

Artikel

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Jumat, 26 Des 2025 - 11:38 WIB