Data Kelautan untuk Bangun Tol Laut Minim

- Editor

Selasa, 4 November 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintahan Joko Widodo berencana membangun jalur tol laut dari kawasan barat hingga timur Indonesia. Namun, data kelautan yang ada amat minim. Data real time kelautan sulit diperoleh dan perizinannya lama.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo saat berkunjung ke Cilacap, Sabtu (1/11), bersama Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio.

Kepala Badan Informasi Geospasial yang baru Priyadi Kardono, Senin, saat dihubungi di Jakarta, menyatakan, data terkait, yaitu peta lingkungan pantai Indonesia dan peta lingkungan laut nasional, terbatas skala dan jumlahnya. ”Daerah yang terpetakan sekitar 50 persen, skala terbesar 1:50.000,” ujarnya. Pihaknya terkendala dana dalam melakukan survei lanjutan karena biaya survei kelautan dengan memakai kapal Rp 80 juta per hari layar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk itu, Indroyono berharap dukungan Dinas Hidro Oseanografi TNI AL dalam menyediakan data itu. Tak semua data hasil survei kelautan oleh dinas itu harus dirahasiakan. Data nonmiliter diperlukan lembaga riset untuk survei lanjutan terkait program pembangunan tol laut atau poros maritim.

”Data kelautan untuk kepentingan publik ada di Dishidros TNI AL dan bisa disebarluaskan,” kata Marsetio. Hal itu terkait peran dinas itu sebagai bagian jejaring dinas hidrologi dan oseanologi dunia. Dinas yang ada di bawah komando TNI AL itu merupakan satu-satunya noktah di Indonesia dalam jejaring itu.

Indroyono berharap, sekitar 70 kapal milik TNI AL yang beroperasi di Indonesia membantu mengukur parameter kelautan, seperti temperatur, arah, kecepatan arus, dan ketinggian gelombang. Data itu diberikan dengan posisi lintang dan bujur.

Selama ini ada data kelautan dari lembaga terkait, seperti Pusat Penelitian Geologi Laut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Badan Informasi Geospasial. Namun, data itu skala kecil atau tak terperinci. Sementara data yang didapat kapal milik TNI AL lebih akurat, terutama koordinat.

Menurut Priyadi, kerja sama pemetaan kelautan dijalin dengan lembaga itu. Untuk lingkungan pantai Indonesia, peta skala besar 1:25.000 hanya bagi daerah pantai utara Jawa. Wilayah lain di Indonesia berskala 1:50.000. Untuk pembangunan tol laut, perlu peta minimal skala 1:10.000. (YUN/GRE)

Sumber: Kompas, 4 November 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Berita ini 13 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Kamis, 30 April 2026 - 08:17 WIB

Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia

Berita Terbaru