Home / Profil Ilmuwan / Akhmad Sabarudin, Jejak Maut pada Gen

Akhmad Sabarudin, Jejak Maut pada Gen

Dia mengembangkan teknik deteksi dini kanker lewat analisis DNA.

Akhmad Sabarudin, 45 tahun, adalah ahli kimia yang tengah mencari cara untuk “mengalahkan” kanker dan penyakit berbahaya lainnya. Saat ini ia meneliti metode deteksi cikalbakal kanker. “Deteksi dini sangat penting sebagai upaya awal penanganan penyakit,” kata dosen Universitas Brawijaya, Malang, itu kepada Tempo ketika ditemui di kantornya, dua pekan lalu.

Tapi jangan salah sangka. Yang dimaksudkan oleh Sabarudin bukanlah diagnosis biasa yang menggunakan uji darah, foto x-ray, atau pemindai magnetik/ MRI, melainkan dengan menelusuri kejanggalan pada rantai deoxyribonucleic acid (DNA). “Deteksi DNA Termetilasi dan Single Nucleotide Polymorphism (SNP) Berbasis Polimer Organik Monolith untuk Deteksi Dini Kanker Secara Cepat dan Akurat”, demikian topik penelitian yang ia lakukan bersama tiga peneliti lain.

SNP secara natural terdapat dalam rantai DNA manusia dan telah lama dipakai para ilmuwan sebagai penanda biologis. Materi genetik ini diyakini bisa menunjukkan letak gen yang terkait dengan penyakit tertentu. Demikian pula keberadaan DNA termetilasi, menurut Sabarudin, biasanya berkaitan erat dengan penyakit genetik, seperti tumor ataupun berbagai jenis kanker.

Karena itu, doktor lulusan Okayama University, Jepang, ini optimistis deteksi terhadap pola SNP dan metilasi DNA akan membantu menguak cikal-bakal kanker dan penyakit berbahaya lain, seperti lepra, hepatitis, autoimun, neuropsikiatri, sickle-cell anemia, dan fibrosis kistik.

Sabarudin menceritakan, dalam penelitian ini mereka mengembangkan teknik pemisahan serta deteksi DNA termetilasi dan SNP yang cepat, akurat, dan dengan efisiensi tinggi. Menurut dia, teknik pemisahan serta deteksi cepat penting untuk menghindarkan dampak negatif terhadap pasien yang timbul di kemudian hari.

Sabarudin telah memulai penelitian deteksi DNA termetilasi sejak 2010, ketika menempuh pendidikan pasca-doktoral di Universitas Nagoya, Jepang, dengan beasiswa dari Japan Society for the Promotion of Science. Belakangan, riset tersebut ia lanjutkan dengan bantuan tiga peneliti lain, di antaranya berasal dari Tokyo University of Pharmacy and Life Sciences.

Pengembangan teknologi diagnostik untuk keperluan kesehatan, menurut Sabarudin, sangat penting bagi Indonesia. “Sebaran penduduk yang luas harus diikutidenganpengembangan teknologi diagnostik untuk mencukupi kebutuhan yang terus meningkat,” katanya.

Sebetulnya Sabarudin ditawari meneruskan risetnya di Jepang, dengan gaji sekitar Rp 40 juta per bulan sebagai peneliti. Tapi dia memilih pulang ke Indonesia dan mengembangkan penelitiannya di sini. “Karena saya tidak bisa sendirian menelitinya, saya melibatkan tiga orang dan saya jadi kepala timnya,” kata dia.

Meski telah kembali bekerja di Tanah Air, jaringan penelitian Sabarudin dengan ahli lain di luar masih terjaga baik. Saat ini, sambil meneliti deteksi DNA termetilasi, Sabarudin terlibat penelitian lain bekerja sama dengan Universitas Gifu dan Tokyo University of Pharmacy and Life Sciences—keduanya di Jepang.

Sumber: Koran Tempo, KAMIS, 16 AGUSTUS 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mengenang Sediono MP Tjondronegoro dan Reforma Agraria

Sebagai intelektual Tjondronegoro istimewa karena mampu menjelaskan sebab-sebab struktural dan politik agraria dari kemiskinan agraria ...

%d blogger menyukai ini: