Deteksi Kanker Minim

- Editor

Senin, 9 Februari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelibatan Puskesmas Diharapkan Mencakup 3 Juta Orang
Baru 10 persen dari 9.671 puskesmas yang mampu menerapkan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara. Deteksi dini vital ada pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dengan porsi tugas promosi dan pencegahan, termasuk mencegah ongkos kesehatan membengkak.


Kementerian Kesehatan menargetkan semua puskesmas mampu melayani deteksi dini kanker leher rahim dan payudara tahun 2019. ”Kami terus tingkatkan. Caranya, TOT (pelatihan bagi pelatih) untuk kabupaten/kota,” kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Mohamad Subuh, Sabtu (7/2), di sela-sela seminar awam ”Kanker… Bukan di Luar Kemampuan Kita” di Jakarta.

Kemenkes akan fokus pada TOT agar setiap kabupaten/kota punya pelatih dulu. Lalu, pelatih didorong melatih tenaga kesehatan puskesmas dalam satu kabupaten/kota. Kemenkes menggunakan sebagian dari Rp 86 miliar dana dekonsentrasi (dana yang dialokasikan kementerian, tetapi untuk melaksanakan urusan daerah) tahun ini untuk pembiayaan TOT.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut data Kemenkes (2014), pelatihan deteksi dini kanker leher rahim dan payudara terlaksana di 34 provinsi, tetapi baru menjangkau 229 dari 500 kabupaten/kota. Yang mendapat pelatihan adalah 998 puskesmas dari total 9.671 puskesmas.

Metode inspeksi
Mendeteksi dini kanker leher rahim ada metode inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) dan pap smear. Namun, IVA diutamakan karena lebih sederhana, murah, dan tak perlu peralatan khusus. Pada deteksi kanker payudara, tenaga kesehatan puskesmas dilatih pemeriksaan klinis payudara, termasuk agar mengedukasi warga memeriksa payudara sendiri (sadari).

Hingga tahun lalu, pelatihan deteksi dini metode IVA dan pemeriksaan klinis payudara menjangkau 430 orang untuk jadi pelatih dan 2.202 dokter ataupun bidan untuk jadi pelaksana.

Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Ekowati Rahajeng menambahkan, lewat peningkatan kapasitas deteksi dini, Kemenkes menargetkan 10 persen atau sekitar 3 juta dari 36 juta wanita berusia 30-50 tahun (rentan terserang kanker leher rahim dan payudara) sudah diperiksa tahun ini. Sekarang, jumlah wanita 30-50 tahun yang sudah menjalani deteksi dini hanya 700.000 orang.

Ketua Komite Penanggulangan Kanker Nasional Kemenkes Soehartati Gondhowiardjo merekomendasikan agar kemampuan deteksi dini puskesmas juga untuk kanker kulit dan kanker usus. (JOG)

Sumber: Kompas, 9 Februari 2015

Posted from WordPress for Android

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB