21 Koridor Laut Dapat Dijadikan Prioritas Konservasi

- Editor

Rabu, 26 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Morotai, Ekowisata Selam Bersama Hiu
Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai). Menurut rencana, perairan ini serta beberapa area lain di Morotai akan menjadi kawasan konservasi perairan (KKP) untuk memperkuat/memperluas KKP Pulau Rao yang telah dibentuk sejak 2012. KKP Pulau Rao seluas 330 hektar akan diperluas menjadi 58.011 ha yang terdiri ekosistem terumbu karang, mangrove, dan tempat bersarang penyu. 
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)
13 SEPTEMBER 2018

Morotai, Ekowisata Selam Bersama Hiu Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai). Menurut rencana, perairan ini serta beberapa area lain di Morotai akan menjadi kawasan konservasi perairan (KKP) untuk memperkuat/memperluas KKP Pulau Rao yang telah dibentuk sejak 2012. KKP Pulau Rao seluas 330 hektar akan diperluas menjadi 58.011 ha yang terdiri ekosistem terumbu karang, mangrove, dan tempat bersarang penyu. KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH) 13 SEPTEMBER 2018

Sebanyak 21 koridor laut di kawasan Wallacea, di sekitar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara dapat dijadikan sebagai prioritas konservasi karena menjadi habitat dan jalur migrasi hewan laut yang penting.

Sebanyak 21 koridor laut di kawasan Wallacea yang meliputi wilayah di sekitar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara dapat dijadikan sebagai prioritas konservasi. Hal ini karena koridor laut tersebut menjadi habitat dan jalur migrasi spesies hewan laut dilindungi dan terancam punah.

Yudi Herdiana dari Dana Kemitraan Ekosistem Kritis (Critical Ecosystem Partnership Fund/CEPF) Wallacea dalam webinar, Selasa (25/8/2020), menyampaikan, timnya telah melakukan kajian pembaruan profil ekosistem Wallacea untuk menentukan koridor laut prioritas sebagai upaya konservasi keanekaragaman hayati dan perikanan berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Pada 2014 kami sudah mengidentifikasi 16 marine corridors. Kemudian pada identifikasi yang baru ini kami tetap melakukan tiga tahapan kajian. Pertama fokus pada spesies terancam punah, kemudian key biodiversity area-nya, setelah itu baru teridentifikasi marine corridors yang perlu menjadi perhatian,” ujarnya.

Dalam mengidentifikasi koridor laut prioritas konservasi ini, tim CEPF juga melakukan konsultasi dengan para ahli dari akademisi, perwakilan organisasi masyarakat sipil, serta pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan. Konsultasi tersebut menghasilkan 21 koridor laut prioritas yang di antaranya terdapat koridor laut baru dan perluasan koridor laut lama.

Sejumlah koridor laut yang diusulkan oleh para ahli ialah selat Makassar-Bali karena menjadi daerah penting migrasi hiu lanjaman (silky shark) dan kepala martil. Selain itu, ditetapkan juga koridor laut di wilayah Pangkajane Kepulauan karena sebagai prioritas pemerintah dalam Rencana Tata Ruang Laut Nasional (RTRLN) dan jalur migrasi hiu paus.

Koridor laut baru lainnya ialah di wilayah Kepulauan Sula, Manglo, Limfatola, Taliabu, Pulau Obi, dan Halmahera Utara. Sejumlah wilayah tersebut ditetapkan sebagai koridor laut prioritas konservasi karena menjadi habitat spesies hewan laut dilindungi dan terancam punah, seperti penyu hijau dan penyu sisik.

”Dukungan politis juga menjadi pertimbangan penting bagi kami karena ke depan kami ingin hal ini dapat dilanjutkan, khususnya oleh pemerintah daerah. Karena sifat pendekatan CEPF fokus kepada masyarakat lokal sehingga kapasitas CSO di daerah juga turut menjadi pertimbangan,” katanya.

Kepala tim pembaruan profil ekosistem Wallacea, Pete Wood, menjelaskan, sejak didirikan pada 2000, CEPF fokus untuk melestarikan keanekaragaman hayati dengan cara pemberdayaan organisasi masyarakat sipil melalui hibah dan pengembangan kapasitas. Sumber dana CEPF berasal dari Pemerintah Perancis, Uni Eropa, Global Environment Facility (GEF), Pemerintah Jepang, Bank Dunia, dan Conservation International.

CEPF sebelumnya juga telah menjalankan program kemitraan untuk melestarikan keanekaragaman hayati di wilayah Wallacea pada periode 2014-2019. Tema prioritas aksi yang ditetapkan saat itu ialah konservasi jenis terancam punah, penguatan perlindungan daerah penting, dan pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan oleh komunitas di daerah penting bagi keanekaragaman hayati.

Keberhasilan pada periode pertama membuat pogram CEPF di Wallacea kemudian diperpanjang selama empat tahun, khusus untuk pesisir dan laut. Saat ini, wilayah dan tema prioritas sedang ditentukan melalui revisi profil ekosistem.

Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah Edward Yusuf mengatakan, melalui dukungan dana hibah dari CEPF, pihaknya dapat menetapkan empat Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil (KKP3K) selama 2014-2019, yakni Doboto, Teluk Tomini, Banggai, dan Morowali.

Target implementasi sarana pendukung, perlindungan, dan pemanfaatan empat KKP3K ini, antara lain, dengan membangun kantor pengelola. Selain itu, wilayah rehabilitasi ekosistem terumbu karang dan mangrove juga ditargetkan akan diperluas pada 2021.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 26 Agustus 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 19 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru