Home / Berita / arkeologi-antropologi / Zona Wallacea, Awal Manusia Beradaptasi dengan Laut

Zona Wallacea, Awal Manusia Beradaptasi dengan Laut

Arkeolog menemukan jejak penghunian 42.000 tahun lalu di Pulau Timor dan Alor. Ini bukti tertua jalur migrasi purba dari Zona Wallacea selatan ke Australia.

KOMPAS/RENY SRI AYU–Ekspedisi Padewakang yang menyusuri jejak pelayaran pelaut Makassar ke Australia, resmi dimulai, Minggu (8/12/2019). Berangkat dari Pantai Losari, Makassar, kapal layar segi empat ini akan lalui rute Selayar,-Karompa-Larantuka-Alor-Wetar,-Babar-Saumlaki-Darwin-Elcho Island-Yirkala-Bawaka dengan rencana perjalanan selama sebulan.

Ditemukan bukti penghunian manusia modern di pesisir Pulau Alor dan Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, sejak 42.000 tahun lalu. Temuan arkeologis ini juga memberi petunjuk adaptasi manusia paling awal terhadap lingkungan pesisir di Zona Wallacea, yang menunjukkan peran penting kawasan ini dalam membentuk tradisi maritim.

Kajian ini dipublikasikan oleh Patrick Roberts, arkeolog dari Max Planck Institute for the Science of Human History, Jerman dan tim di jurnal Nature Communication pada 29 April 2020. Turut dalam publikasi ini, arkeolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Mahirta.

“Publikasi ini merupakan bagian dari riset kolaboratif untuk mengetahui penghunian masa prasejarah di Zona Wallacea, yang telah diketahui sebagai rute migrasi manusia modern (Homo sapiens) ke Australia,” kata Mahirta, yang dihubungi, Senin (4/5).

Menurut Mahirta, rute migrasi manusia modern dari Afrika menuju Australia diketahui melalui dua rute, yaitu jalur utara melalui Kalimantan, Sulawesi lalu hingga ke Papua. Jejak perjalanan di rute ini diketahui dari dari tengkorak manusia di Goa Niah, Serawak dan lukisan goa di Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan yang berusia sekitar 45.000 – 50.000 tahun lalu.

Sedangkan rute selatan diperkirakan melalui Jawa, Bali hingga NTT sebelum ke Australia. “Belum bisa dipastikan, apakah mereka saat itu menyeberang ke Australia melalui Pulau Timor atau Pulau Rote. Untuk jejak di jalur selatan Wallacea, temuan ini merupakan yang tertua,” kata dia.

Sebelum 10.000 tahun lalu, Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan masih menjadi bagian dari daratan Asia, yang dikenal sebagai Paparan Sunda, sedangkan Papua dan Australia menjadi satu daratan atau Paparan Sahul. Namun, Kepulauan Wallacea merupakan kepulauan terisolasi yang tidak pernah menyatu dengan daratan besar di sekitarnya, dan dibutuhkan penyeberangan laut untuk mencapainya.

Dalam sejumlah kajian sebelumnya disebutkan, Zona Wallacea ini terdiri dari pulau-pulau yang miskin hutan dan kekurangan protein dan karbohidrat terestrial. Namun, pulau-pulau ini ternyata menjadi hunian beberapa bukti paling awal manusia modern, bahkan juga ditemukan kehidupan manusia purba. Misalnya temuan fosil manusia kerdil Homo floresiensis yang telah menghuni Pulau Flores sejak 1 juta tahun lalu.

Kehidupan Maritim
Dalam kajian terbaru ini, Patrick dan tim meneliti fosil anggota spesies Homo sapiens yang paling awal diketahui di Wallacea melalui analisis isotopik enamel gigi fosil manusia dari dua pulau, yaitu Pulau Timor dan Alor.

—Lokasi situs arkeologis yang diteliti, yaitu Asitau Kuru, Lene Hara, Matja Kuru 1 and 2 (Timor), Makpan, and Tron Bon Lei (Alor). Sumber: Nature Communications, 2020

Berdasarkan informasi stratigrafi dan kronologis yang terinci untuk enam lokasi yang diteliti, para peneliti membagi data manusia dan fauna menjadi fase penghunian pulau yang lebih luas untuk Timor dan Alor. Disimpulkan bahwa, manusia paling awal yang tiba di dua pulau ini berspesialisasi dalam penggunaan sumber daya pesisir dan laut.

Baru sekitar 20.000 tahun yang lalu, terjadi diversifikasi dalam sumber pangan manusia di kawasan ini. Pada periode itu, ketergantungan terhadap sumber daya pesisir masih ditunjukkan oleh satu individu di Pulau Timor, namun sebagian besar individu mulai mengonsumsi bahan pangan dari lingkungan di pedalaman pulau, termasuk habitat hutan tropis. Kontribusi sumber daya tanaman dan hewan darat terhadap diet manusia di pulau-pulau tropis semakin dominan ketika populasi tersebut menjadi lebih mapan.

Kesimpulan ini menguatkan kajian sebelumnya oleh arkeolog Sue O’Connor dan tim yang diterbitkan di jurnal Nature pada 2011, yang menemukan Homo sapiens telah mampu melakukan perjalanan laut jarak jauh dari Kepulauan Wallacea ke Australia sejak sekiar 50.000 tahun lalu. Dalam kajian itu, O’Connor menunjukkan sisa-sisa beragam spesies ikan pelagis seperti tuna dan alat pancing untuk laut dalam, berumur sekitar 42.000 tahun lalu di situs hunian Jerimalai di Timor Timur. Alat penangkapan ikan pelagis ini merupakan yang tertua di dunia.

Temuan ini menunjukkan, Kepulauan Wallacea memiliki peran penting bagi Homo sapiens untuk mengembangkan teknologi dan kemampuan paling awal terhadap kehidupan maritim. Menangkap ikan pelagis membutuhkan perencanaan tingkat tinggi dan teknologi maritim yang kompleks.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 5 Mei 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: