Home / Berita / Sanana, Sula, dan Tanjung Dehegila Konservasi Perairan Baru

Sanana, Sula, dan Tanjung Dehegila Konservasi Perairan Baru

Indonesia menambah deretan kawasan konservasi perairan baru. Kawasan tersebut adalah perairan Sanana, Sula, dan Tanjung Dehegila seluas 226.000 hektar di Maluku Utara.

Penetapan kawasan konservasi perairan (KKP) ini diharapkan dapat bermanfaat untuk melindungi keanekaragaman hayati laut, meningkatkan pengelolaan perikanan berkelanjutan, dan mempromosikan wisata bahari di Maluku Utara. Jika digabungkan, cakupan area KKP tersebut hampir setara dengan luas seluruh Pulau Morotai, pulau bersejarah dalam Perang Dunia Kedua.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya. Seperti Kamis (13/9/2018) sekelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita, sekitar 40 menit dari Daruba (Ibukota Kabupaten Morotai).

“Dibukanya tiga Kawasan Konservasi Perairan baru di Maluku Utara ini tentu akan semakin membantu kita untuk mencapai tujuan perikanan yang berkelanjutan dan ketahanan pangan. Kami berharap, kedua negara akan terus berkolaborasi untuk mencapai tujuan itu di masa mendatang,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Selasa (2/4/2019), di Jakarta.

Dalam siaran pers USAID Program SEA, Selasa, di Morotai, dalam rangka memperingati 70 tahun hubungan diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia dideklarasikan ketiga kawasan konservasi perairan (KKP) tersebut. Dalam deklarasi itu, pemerintah AS diwakili oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Joseph R Donovan Jr dan pemerintah Indonesia diwakili oleh Wakil Gubernur Maluku Utara Muhammad Natsir Thoib dan Bupati Morotai Beny Laos.

Selama ini, pemerintah AS melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) bekerja sama dengan Indonesia, baik pihak swasta maupun pemerintah, untuk melindungi keanekaragaman hayati laut dan mempromosikan perikanan berkelanjutan beserta pengelolaannya. Salah satu kerja sama tersebut melalui proyek USAID Sustained Ecosystems Advanced (SEA), di mana USAID mendukung upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan produksi ikan dan ketahanan pangan di Provinsi Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat.

“Sumber daya laut Indonesia adalah yang paling langka di dunia. Saat kami merayakan peringatan 70 tahun hubungan dengan Indonesia, kami merefleksikan keberhasilan kemitraan selama beberapa dekade, termasuk dengan pemerintah Indonesia, untuk melindungi keanekaragaman hayati dan meningkatkan pengelolaan sumber daya laut Indonesia yang berharga. Upaya bersama ini sangat penting untuk mata pencaharian berkelanjutan dan untuk kesejahteraan generasi sekarang dan masa depan,” kata Duta Besar Donovan.

USAID SEA–Dubes AS Joseph R Donovan Jr dan rombongan, Selasa (2/4/2019), berfoto bersama masyarakat di Morotai, Maluku Utara.

AS dukung Indonesia
Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti Poerwadi, mengatakan bahwa USAID telah sepakat untuk mendukung Indonesia mencapai 20 juta hektar KKP per tahun 2020.

“Dukungan itu antara lain dibuktikan dengan pembentukan 1 juta hektar KKP di Maluku Utara, Maluku, dan Papua Barat. Pembentukan KKP ini akan melindungi habitat dan spesies utama laut yang secara langsung akan meningkatkan produktivitas perikanan dan menjamin keamanan pangan bagi masyarakat lokal,” tambahnya.

Direktur Misi USAID Indonesia, Erin E McKee, menjelaskan, dukungan dari pemerintah AS tersebut secara teknis disalurkan melalui USAID SEA yang mendukung pemerintah daerah untuk meningkatkan pengelolaan laut di hampir 8 juta ha wilayah perairan Provinsi Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.

“Dengan dukungan teknis Pemerintah AS melalui USAID SEA, kami bermitra dengan pemerintah provinsi untuk meningkatkan pengelolaan di hampir 8 juta hektar wilayah perairan provinsi. Melalui semua kerja sama kita di sektor kelautan, USAID mendukung visi pemerintah Indonesia untuk mandiri dalam pelestarian ekosistem laut seperti melindungi terumbu karang yang vital melalui rencana tata ruang laut terkini yang membekali para mitra dengan instrumen penting untuk melaksanakan tata kelola sumber daya alam yang lebih baik,” kata Erin E McKee.

Sementara itu, pemerintah daerah sangat menyambut baik upaya yang dilakukan USAID di Maluku Utara karena dapat berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. “Perikanan Maluku Utara menyediakan mata pencaharian bagi lebih dari 34.000 rumah tangga. Hasil perikanan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, pasar domestik dan perdagangan internasional. Bersama USAID, kami berupaya untuk menyeimbangkan pemanfaatan sumber daya perikanan dengan perlindungan keanekaragaman hayati,” ujar Natsir Thoib.

Hal serupa juga diutarakan oleh Benny Laos. Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih karena Pulau Morotai telah dipilih sebagai lokasi peringatan 70 tahun hubungan bilateral dan kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 3 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: