Seorang profesor diduga melakukan penjiplakan terhadap karya orang lain. Peristiwa ini mencuat setelah The Jakarta Post menurunkan editorial yang berisi peringatan dan penyesalan atas kasus ini (4/2/10). Bila meneliti lebih jauh dua tulisan yang dipersoalkan dapat diketahui bahwa modusnya adalah mengganti nama penulis asli dengan namanya untuk dipublikasikan.
Read the full story »
Hakikat suatu ekosistem adalah keberagaman yang menciptakan keanekaragaman hayati dalam suatu keseimbangan. Itu telah terbukti sejak lama. Dan, kini sebuah penelitian ilmiah lebih jauh lagi, menetapkan indeks nilai penting tumbuhan dalam suatu ekosistem yang sangat berguna untuk menjaga kelestariannya.
Soejono, seorang periset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (25/2) lalu, menunjukkan hasil riset dari 11 ekosistem sumber air dataran rendah. Lokasinya tak jauh dari Kebun Raya Purwodadi, di ketinggian tidak lebih dari 300 meter di …
Menyusul pembuatan peranti lunak anti-penjiplakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, merancang aturan mencegah penjiplakan dan kecurangan pada pembuatan karya ilmiah. Peraturan tentang kecurangan dan penjiplakan ini dinilai penting karena selama ini belum ada acuan jelas untuk menangani tindakan yang melanggar kode etik itu.
Banjir dan Longsor Bisa Diprediksi
Bencana banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di wilayah Jawa Barat baru-baru ini sebenarnya dapat diprediksi melalui riset ekologi sehingga mitigasi jangka pendek, menengah, dan panjang dapat dilakukan. Akan tetapi, kegiatan riset ekologi diakui masih minim.
Tentang plagiarisme, kiranya tidak berguna lagi aneka kutukan. Yang lebih penting adalah apa kelanjutan sesudah tragedi plagiarisme.
Bandung, Jakarta, Aceh, Malang, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Bogor, Semarang, dan Medan, apakah mereka emblem kota-kota intelektual? Dengan menjamurnya pabrikan skripsi, tesis, disertasi, juga paper di kota-kota itu dan lainnya yang belum disebut, mendung kelabu menyelimuti dunia intelektualitas kita. Masih adakah kota intelektual di tanah kita? Sebuah pertanyaan hati nurani.
Pada puncak era Perang Dingin tahun 1980-an, istilah armageddon sering muncul. Ringkas kata, di luar kaitannya dengan sejarah agama-agama, ini adalah pertempuran habis-habisan dengan menggunakan senjata nuklir milik AS dan Uni Soviet yang jumlahnya saat itu sangat banyak. Dengan hulu ledak sekitar 50.000, dayanya sudah berlebih untuk overkill, menghancurkan dunia berulang kali.
Perguruan tinggi cenderung menutupi kasus-kasus penjiplakan yang dilakukan mahasiswa ataupun dosen. Akibatnya, penelusuran ataupun pembuktian dugaan kasus penjiplakan sulit dilakukan.
Berdasarkan penelusuran pada indikasi penjiplakan yang telah diketahui pihak luar kampus, pada proses klarifikasi perguruan tinggi terkesan menutupi. Dalih yang digunakan, antara lain, adalah salah cetak oleh pihak penerbit karya ilmiah, ketidaktahuan dosen bersangkutan terhadap batasan kutipan yang diperbolehkan, atau kutipan diizinkan oleh pembuat karya ilmiah asli.
Pernyataan Mendiknas Muhammad Nuh, yang akan memperketat proses memperoleh gelar akademik seperti doktor dan guru besar, harus mendapat perhatian insan akademis. Hal itu ditempuh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) sebagai tindak lanjut mencuatnya kasus plagiat karya ilmiah yang merebak di beberapa perguruan tinggi untuk meraih gelar tersebut (JP, 20/02/).
Pakar tomografi Warsito Purwo Taruno memaksa para ilmuwan kelas dunia membicarakan teknologi terdepan itu di sebuah ruko di Tangerang.
PERTENGAHAN 2008, dua orang Jepang datang ke ruko kecil berlantai dua di kawasan Modern Land, Tangerang, Jawa Barat. Mereka, profesor dari Riken-semacam LIPI, Jepang, dan perwakilan dari Mizuho Bank, Jepang, yang berpusat di Tokyo.
Zahra, mahasiswi berparas lembut, mencemberuti Kamus Inggris-Indonesia susunan John M Echols dan Hassan Shadily. Pasalnya, kamus itu tak memasang lema swidden, istilah yang dia temukan saat membaca sebuah teks geo-antropologi. Sebuah kamus memang tak mungkin memuat semua kata yang beredar dalam masyarakat. Kamus Echols-Shadily, menurut pengantarnya, ”…mencakup sebagian besar kata dan ungkapan Inggris yang paling umum dipakai di Amerika”. Artinya, masih ada kata dan ungkapan Inggris lain yang ditepis karena tak biasa digunakan di negeri itu.