Jane Goodall, Ilmuwan Terkemuka Inggris Tanpa Gelar Sarjana

- Editor

Minggu, 11 September 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat Jane Goodall pertama kali tiba di Gombe Stream Game Reserve, Tanzania pada 1960, masih sedikit pengetahuan tentang simpanse. Goodall yang saat itu berusia 26 tahun pun melakukan pengamatan yang mendalam dan tidak ortodoks.

Ilmuwan lain kerap mengejek penemuannya lantaran Goodall minim melakukan pendekatan akademis formal. Kunci metodenya ialah merekam ciri-ciri kepribadian simpanse dan memberi nama pada subjek-subjeknya.

Flint adalah bayi pertama yang lahir di Gombe setelah Jane datang. Bersamanya dia memiliki kesempatan besar untuk mempelajari perkembangan simpanse — dan untuk melakukan kontak fisik, yang tidak lagi dianggap sesuai dengan simpanse di alam

Goodall lahir di London dan terpesona dengan kehidupan Afrika serta alam liarnya, menurut Anita Silvey, penulis Untamed: The Wild Life of Jane Goodall.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ketika saya berusia 10 tahun, saya bermimpi pergi ke Afrika, hidup dengan hewan dan menulis buku tentang mereka,” Goodall mengatakan kepada CNN pada 2017.
“Semua orang menertawakan karena saya hanya seorang gadis. Kami tidak punya uang dan Perang Dunia Kedua sedang berlangsung,” imbuhnya.

Goodall tidak mampu kuliah dan didorong oleh ibunya untuk belajar mengetik dan pembukuan. Ia pun mencari pekerjaan tetap dengan menghadiri sekolah sekretaris.

“Dia perlu menghidupi dirinya sendiri. Goodall dan keluarganya merasa bahwa dengan pelatihan kesekretariatan, dia selalu bisa mendapatkan pekerjaan,” kata Silvey di laman Biography.

Namun, Goodall akhirnya bosan dengan kerja kantoran. Pada usia 23, ia ditawari pekerjaan oleh seorang ahli paleoantropologi terkenal, Louis Leakey, di sebuah museum sejarah alam.

Leakey, menurut National Geographic, percaya kurangnya pelatihan ilmiah formal Goodall. Namun hasratnya terhadap binatang akan menjadikannya pilihan yang tepat untuk mempelajari kehidupan sosial simpanse di Gombe dan Jane terpesona oleh gagasan itu.

“Dia menginginkan seseorang yang taat dan tidak dibutakan oleh teori ilmiah,” kata Shivey. ”

Pada tahun 1960, Goodall memulai pengamatannya, memberi nama simpanse, seperti Goblin, Freud dan Frodo.

Ia mengambil pendekatan yang tidak ortodoks dan mulai memahami simpanse tidak hanya sebagai spesies, melainkan individu dengan kepribadian, pikiran yang kompleks, emosi, dan ikatan jangka panjang.

Menurut Jane Goodall Institute, penemuannya tentang praktik pembuatan alat simpanse tetap menjadi salah satu yang paling penting di dunia primatologi.

Fikri Muhammad

Sumber: Natonal Geographic, Jumat, 24 Juli 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif
Berita ini 37 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB