Home / Featured / Purbohadiwidjoyo Geologiwan

Purbohadiwidjoyo Geologiwan

Ia geologiwan. Juga perintis penulisan istilah klorida, kromit, dan sebagainya.

Geologi, apa itu? Orang sering berpikir, geologi itu suatu cabang ilmu yang mempelajari batu! Tak ada yang menarik, kata banyak orang; ilmu tentang benda mati. Lalu, mereka pun bilang, kalau jadi geologiwan, apa yang bisa disumbangkan untuk pembangunan negeri ini? Apa yang, bisa disumbangkan untuk kepentingan masyarakat umum? Dan, hehehe, mau kerja apa?

“Ya, geologi memang merupakan salah satu cabang ilmu yang kurang populer kalau dibandingkan dengan kedokteran atau teknik, misalnya,” ujar Purbo Hadiwidjoyo. “Karena itu, masyarakat umum kurang mengetahui seluk beluk geologi itu. Jarang jadi topik pembicaraan umum, dan kurang peminatnya. Dari sekian ratus ribu tamatan SMTA yang hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, kalau mau dihitung, tak lebih dari hanya lima persen yang mau memilih masuk fakultas geologi.” Dari sini bisa dilihat, betapa tidak menariknya geologi itu di mata masyarakat umum.

Tapi, bagi Purbo, geologi itu sangat menarik. “Orang bilang geologi itu ilmu batu, ilmu tanah, ilmu benda mati—itu benar,” kata Purbo. “Tapi, siapa bilang batu itu tidak menarik? Orang awam barangkali hanya tahu bahwa batu itu mati. Tapi bagi geologiwan, batu itu menarik, berliku-liku, itu tidak sesederhana seperti yang dilihat, tapi teramat mengasyikkan untuk diteliti.” Apa yang mau diteliti dari batu yang mati itu? tanya anda. “Batu itu punya sifat, punya struktur yang berbeda antara satu dan yang lainnya. Itulah yang akan diungkapkan seorang geologiwan.”

Lalu, anda mungkin mencecar, kalau hanya itu kerja seorang geologiwan, apa manfaat kerja dan tenaganya? “Kalau kita ingin membangun, kita harus tahu keadaan lokasi pembangunan itu: lingkungannya, situasi alamnya, termasuk struktur bebatuan dan tanahnya. Konyol kalau membangun tanpa data itu,” ungkap Purbo. “Untuk meneliti kandungan air di bawah tanah di suatu lokasi, misalnya, untuk meneliti kandungan minyak di suatu kawasan demi kepentingan Pertamina, meneliti kandungan bahan-bahan tambang di dalam usaha pertambangan, semua itu hanya mampu dilakukan oleh seorang geologiwan.” Itulah, paling tidak, manfaatnya.

Purbo Hadiwidjoyo, nama itu tentu tidak terlampau asing bagi anda, apalagi bila anda setia mengikuti tulisan artikel di koran-koran ibukota dan media massa lainnya. Purbo memang sering menulis segala hal yang berhu-bungan dengan keahliannya di bidang geologi. Banyak tulisannya yang menghubungkan geologi dan masalah lingkungan hidup.

Purbo tampaknya mampu menyelaraskan keahliannya di bidang geologi dan rasa ketertarikannya pada bidang bahasa dan tulis-menulis. Bahkan, siapa nyana, bahwa perpaduan antara dua dunia—geologi dan bahasa—di dalam diri Purbo ini telah melahirkan belasan buku serta ratusan artikel yang bisa dinikmati khalayak umum. Dan, selain itu, telah lahir dari penanya sebuah karya mulia dalam bidang geologi dan bahasa Indonesia: Kamus Istilah Geologi, Indonesia-Inggris, Inggris-Indonesia.

Untuk melahirkan “buku Suci” geologi itu; ceritanya teramat panjang. Rasa tertariknya untuk mengutak-atik bahasa, khususnya yang menyangkut peristilahan bidang geologi, sudah mulai tumbuh sejak ia masih kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta, jurusan kimia. “Waktu itu, salah seorang pengajar saya adalah Herman Johannes yang sangat getol membina peristilahan Indonesia. Kebetulan juga saya menjadi pembantunya selama berbulan-bulan di Laboratorium Persenjataan – Markas Besar Tentara. Dari Pak Johannes inilah saya mulai berkenalan dengan peristilahan Indonesia dalam bidang fisika dan piroteknik,” kenang Purbo.

Dari Sekolah Tinggi Teknik Bandung, di Yogyakarta, jurusan Teknik Kimia, pada bulan Nopember tahun 1946, Purbo kemudian diterima menjadi mahasiswa di SPGT, Sekolah Pertambangan dan Geologi Tinggi, yang dikelola oleh Kementrian Perindustrian di Magelang. Ketika itulah Purbo dan para mahasiswa lainnya diperkenalkan dan diakrabkan dengan peristilahan geologi. “Bapak Sunu Sumosusatro, Wakil Kepala Jawatan Tambang dan Geologi waktu itu, yang juga menjadi salah seorang pengajar kami, sangat tekun mengarahkan kami untuk bergaul dengan peristilahan geologi dalam bahasa Indonesia. Juga Arie Frederik Lasut, salah seorang pengajar kami lainnya— seorang Barat yang mempunyai citarasa bahasa Indonesia secara mendalam. Ia selalu mendesak dengan pertanyaan, apa istilah Indonesia untuk suatu kata atau istilah Belanda, yang kebetulan dijumpai di dalam pelajaran,” kenang Purbo.

Dengan suasana dalam lingkungan kecil “masyarakat Geologi” yang demikian, juga mungkin terdorong oleh rasa patriotisme serta nasionalisme, sekumpulan istilah geologi dalam bahasa Indonesia pun tercipta, dengan cara: memanfaatkan bahasa Indonesia yang umum; memakai bahasa Indonesia yang kurang lazim; memungut dari bahasa daerah yang lazim maupun tak lazim; atau juga “mengindonesiakan” bahasa asing baik Inggris atau lainnya. Dalam suasana demikian pula lahirlah sebuah cita-cita besar dari Purbo yang kecil: menyusun sebuah kamus istilah geologi.

Cita-cita itu, tentu, bukan mudah untuk dicapai. Tapi, seperti kata pepatah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan, apalagi kalau kemauan itu diramu dengan tekad dan kerja keras. Purbo mulai serius menekuni peristilahan geologi itu. Ia telah memulai suatu babak baru di dalam dunia geologi: menekuni diri di dalam usaha pembinaan istilah geologi, didorong oleh rasa nasionalisme, untuk mengganti semua istilah yang berbau Belanda ke dalam bahasa nasional kita.

Jalan menuju terciptanya cita-cita itu pun mulai terbuka. Pada tahun 1950, tepatnya tanggal 13 Mei, didirikanlah sebuah Balai Bahasa sebagai bagian dari Jawatan Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Pengajaran—sekarang Depdikbud. Badan itu meianjutkan usaha Komisi Istilah yang terbentuk sejak tahun 1942.

Seabrek jabatan pernah disandangnya. Bermacam karya kahir dari tangannya. Aneka gagasan menurnpah dari kepalanya. Dari masaIah geologi sampai istilah bahasa Indonesia.

“Ketika itu Sub Seksi Kimia dan Farmasi Bandung membutuhkan seseorang untuk menangani peristilahan kristalografi dan mineralogi. Saya dipercayakan untuk mengemban tugas itu,” tutur Purbo. “Kepercayaan ini tak saya sia-siakan, karena bagi saya, tugas menangani istilah kristalografi dan mineralogi itu merupakan suatu kesem-patan emas untuk menyalurkan pengetahuan dan minat saya terhadap masalah peristilahan.”

Ketika mulai menekuni istilah di Sub Seksi Kimia dan Farmasi Bandung ini, -Purbo menemui beberapa istilah yang mengganjal. Ini menyangkut ejaan ch—seperti dalam kata chlorida, chromit dan lain-lainnya—yang terasa tidak mengindonesia. Ia bertanya-tanya, mengapa ejaan ch di dalam kata-kata semacam itu tidak diganti menjadi k saja? “gagasan saya ini ternyata mendapat tanggapan yang positif, antara lain dari Herman Brusser, seorang kimiawan. Tetapi lebih banyak lagi yang menentang gagasan itu. Alhamdulilah, akhirnya, usul itu diterima juga, meski untuk itu butuh waktu tak kurang dari dua dasawarsa. Tahun 1972, ketika kita mengganti ejaan menjadi ejaan yang disempurnakan, secara resmi usul saya ini dipakai,” kata Purbo sedikit bangga.

Mulai tahun 1960, Jawatan Geologi mulai menerbitkan laporan hasil pekerjaan jawatan, termasuk makalah berbagai bidang serta peta. Ini merupakan sarana yang baik untuk memasyarakatkan istilah geologi, karena di dalam penerbitan-penerbitan itu, sejauh dimungkinkan, dipergunakan istilah geologi dalam bahasa Indonesia. Dan, akhimya, untuk lebih merriantapkan pemakaian istilah asli Indonesia di dalam bidang geologi ini, pada tahun 1965, “kumpulan istilah yang saya hirnpun selama lebih dari 20 tahun itu diterbitkan menjadi buku. Penerbitan kumpulan istilah saya itu dimungkinkan berkat adanya bantuan keuangan dari Departemen Urusan Research Nasional,” katanya.

Dalam masalah ini, menurut Purbo, geologiwan memegang peranan besar khusus berkisar soal identifikasi berbagai pokok permasalahan. Maka, bila anda suatu waktu membaca, atau menulis, istilah klorida, atau kromit, atau lainnya, semoga anda tak lupa pada dia yang si pemakaian istilah-istilah itu.

Manusta, Geologi, dan Alam
Sebagai seorang geologiwan, juga sebagai warga Indonesia, Purbo melihat bahwa menjelang tahun 2000, Indonesia akan menghadapi masalah yang cukup rumit, menyangkut jumlah manusia serta lahan tem-pat tinggalnya. Di satu pihak, Pulau Jawa akan kelebihan penduduk—rata-rata 1000 orang perkilometer persegi di tahun 2000—sedang di lain pihakflaerah lain justru jarang penduduk, tapi justru sebagian besar kekayaan alamnya belum terkembangkan. Karena itu, selain program Keluarga Berencana, penduduk yang berlebihan di Pulau Jawa diusahakan dipindahkan ke luar Jawa dengan transmigrasi, membuka wilayah baru yang belum terjarnah.

Paling tidak, dalam membuka wilayah baru, diperlukan keahlian seorang geologiwan untuk membaca proses alam. Pada dasamya, proses alam bisa berlangsung lambat, seperti proses pelapukan. Tapi proses alam itu pun bisa berlangsung cepat dan dahsyat, seperti misalnya gempa bumi, letusan gunung api, atau banjir dan longsor serta lainnya. Proses alam yang cepat itu bisa mendatangkan apa yang disebut dengan bencana alam, bila terjadinya di wilayah pemukiman manusia. Proses alam, tak bisa dibendung, atau katakanlah, belum mampu dibendung tangan marlusia. Namun bukan berarti tak bisa menghindarinya. Proses alam yang mendatangkan bencana alam bisa dihindari bila ada perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang bisa dibuat bila tersedia data identifikasi yang lengkap. Dalam hal inilah peranan seorang geologiwan teramat vital. “Peranan geologiwan tidak hanya untuk mengidentifikasi proses alam yang mungkin terjadi di suatu lokasi, tetapi juga mengidentifikasi sumberdaya yang terkandung di bawah lokasi tersebut,” kata Purbo Hadiwidjoyo.

Sepintas, Purbo Hadiwidjoyo,
“Saya ini orang biasa, tak punya kelebihan apa-apa. Saya bukan doktor, saya bukan profesor,” ujar Purbo, merendah, sambil tertawa renyah. Purbo memang tampaknya suka tertawa, mungkin karena itu ia tampak awet muda, segar, dan bahkan pipinya yang tua , itu pun ranum tampaknya. “Saya bukan apa-apa, saya hanya ahli geologi, geologiwan.”

Selebihnya, “saya tak rnau merkonjoikan diri, karena sebenarnya masih banyak orang yang lebih hebat darI saya. Karena itu saya tak mau bercerita banyak tentang diri saya, nanti yang baik-baik saja yang akan saya ceritakan. Lebih baik, dan Iebih obyektif, kalau menanyakan tentang diri saya pada orang lain, yang kenal dengan saya, ya, teman-teman geologiwan, misalnya.” Purbo, Mulyono Mahrubi Purbo Hadiwidjojo, lahir tahun 1923, 64 usianya sekarang. Desa kelahirannya adalah Salam, Magelang, Jawa Tengah. Di Magelang inilah ia melewati sebagian besar masa kanak-kanak ,’ dan remajanya.

Tahun 1938, ketika usianya menginjak 15 tahun, ia lulus HIS, sekolah dasar zaman kolonial. Lalu melanjutkan pendidikannya ke MULO, SMP-nya Belanda, khusus buat anak pegawai sehingga disebut MULO Governmen. HIS dan MULO, ditempuhnya di Magelang, tetapi tahun 1941 setamat MULO dan harus melanjutkan ke AMS, ia hijrah ke Yogyakarta. “AMS itu juga milik Belanda, setingkat SMA sekarang. Tapi waktu Jepang masuk, namanya diubah. “Saya tamat dari sekolah Jepang itu, entah apa namanya, maaf, lupa-lupa ingat.”

Setamat SMA di saat menjelang kemerdekaan itu, Purbo masuk Sekolah Tinggi Teknik Bandung di Yogyakarta—sekarang jadi FT UGM. Terus, bulan November 1946, diterima di SPGT Magelang. “Sekolahnya sore, paginya bantu di Laboratorium Persenjataan Markas Besar Tentara, boss saya Johannes,” tuturnya. Lalu, entah bagaimana ceritanya, Purbo meraih gelar insinyur teknik geologi tahun 1959.

Setelah itu ia pun menyumbangkan tenaga dan pikirannya di bidang keahliannya, geologi itu: jadi dosen, jadi lektor, jadi penulis, jadi editor, jadi penasihat, jadi konsultan. Pokoknya seabrek jabatan pernah disandangnya bermacam karya lahir dari tangannya, aneka gagasan seperti tertumpah dari kepalanya. Dan kini, “saya lebih senang independen, membantu di beberapa lembaga, menjadi editor dan penulis, serta penasihat untuk lembaga lainnya.” Begitulah. ? ig. bethan

Sumber: Majalah AKU TAHU Agustus-September s1987

Share
%d blogger menyukai ini: