Home / Berita / Indonesia Kekurangan Ahli Kebencanaan

Indonesia Kekurangan Ahli Kebencanaan

Mitigasi bencana Indonesia masih kekurangan banyak sumber daya manusia kompeten. Padahal, Indonesia salah satu negara dengan ancaman bencana tinggi.

”Sumber daya manusia untuk mitigasi bencana jauh dari ideal, baik kuantitas maupun kualitas. Berkiprah di bidang kebencanaan sering jadi pilihan terakhir,” kata Kepala Badan Geologi Surono, di Bandung, Senin (28/4).

Surono mencontohkan, 127 gunung api aktif menjadi rumah bagi 4 juta penduduk Indonesia. Meski punya jumlah gunung dan potensi bencana terbesar di dunia, mayoritas gunung api dikelola pejabat eselon III dan tak dipantau ahli lulusan strata tiga.

Kondisi itu jauh berbeda dengan pemantauan di negara maju. Minimal 5 gunung api aktif dipantau 1 doktor, 5 master, 5-10 sarjana, dan 20 teknisi. Kondisi itu, kata Surono, bisa menjamin perlindungan masyarakat terhadap ancaman erupsi dan kemudahan penelitian. Mereka juga bisa membantu masyarakat memanfaatkan potensi gunung api, baik pertanian, wisata, maupun sumber energi.

Tidak hanya pemantauan gunung api, untuk potensi mitigasi kebencanaan lainnya pun belum didukung SDM ideal. Potensi gerakan tanah hingga gempa bumi belum dikelola tenaga yang benar-benar kompeten.

”Ini harus mendapat perhatian serius karena potensi bencana di Indonesia sangat tinggi. Gempa bumi, misalnya. Dari 12 gempa merusak tahun 2000-2011, empat di antaranya di Indonesia,” kata Surono.

Kondisi itu, kata dia, butuh perhatian mahasiswa hingga perguruan tinggi untuk terjun mempromosikan bidang mitigasi bencana. Gaji minim hingga risiko pekerjaan yang sangat besar sering kali menjadi kendala.

”Perlu peranan semua pihak. Tidak sekadar didukung ahli geologi, mitigasi bencana butuh ahli geofisika, kimia, fisika, hingga geodesi,” katanya.
Sepi peminat

Ketua Program Studi Teknik Geologi ITB Budi Bramantyo mengatakan, minat mahasiswa geologi ke bidang kebencanaan, seperti gunung api atau gempa, sangat kurang. ”Dari sekitar 80 mahasiswa geologi tiap angkatan, belum tentu ada yang buat skripsi tentang gunung api atau gempa bumi,” kata dia di sela workshop yang diadakan Badan Geologi.

Menurut Budi, kebencanaan sudah diajarkan sebagai mata kuliah kebencanaan. ”Peminatnya sejak gempa dan tsunami 2004 semakin lumayan, tetapi yang lalu memilih skripsi tentang itu masih sangat jarang,” kata dia.

Sebagian besar mahasiswa geologi, kata Budi, masih berorientasi bekerja di pertambangan seusai kuliah. ”Pekerjaan di bidang kebencanaan belum menjanjikan secara materi sehingga peminatnya sepi,” ujar dia.

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia, T Bachtiar, mengakui, menyiapkan tenaga ahli mitigasi bencana belum jadi perhatian utama. Ia mencontohkan mata pelajaran geografi SMA di mana mitigasi bencana belum jadi kompetensi dasar yang harus dikuasai. Hal serupa terjadi di perguruan tinggi jurusan geografi. Mitigasi bencana sering belum terintegrasi dalam mata kuliah tertentu.

”Tidak jarang, konsep mitigasi bencana belum dipahami dengan baik. Padahal, mitigasi bencana bisa menjadi investasi yang baik. Selain bisa menyelamatkan manusia, mitigasi bisa mengurangi kerugian material saat bencana datang,” kata dia. (CHE/AIK)

Sumber: Kompas, 28 April 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: