Dua Abad Tambora Momentum Perbaikan

- Editor

Selasa, 14 April 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peringatan dua abad letusan Gunung Tambora mengingatkan kondisi bentang alam Indonesia yang labil dan bisa memicu bencana global. Ini perlu dijadikan momentum meningkatkan kemampuan mitigasi bencana sehingga jumlah korban bisa dikurangi.
“Pelajaran terbesar dari letusan Tambora bahwa gunung api bisa berdampak global. Jadi, bukan hanya masyarakat sekitar yang terdampak gunung api, melainkan juga masyarakat di belahan dunia lain,” kata Kepala Badan Geologi Surono, dalam lokakarya peringatan 200 tahun letusan Tambora di Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (13/4).

Surono mengatakan, letusan Tambora tahun 1815 merupakan yang terbesar dalam sejarah modern dengan jumlah korban di Indonesia sekitar 91.000 jiwa. Letusan Krakatau pada 1883 menelan korban 36.000 jiwa. “Dari letusan Tambora dan Krakatau, jumlah korbannya sudah lebih dari separuh total letusan gunung api di dunia,” katanya.

Acara yang diadakan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi itu mengundang peneliti gunung api dari Indonesia, Jepang, dan Australia bertema “Pelajaran dari Letusan Tambora 1815 dan Pengembangan Kapasitas Institusi dan Masyarakat”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akira Takada dari Geological Survey of Japan (GSJ-AIST) Jepang menyebutkan, letusan-letusan besar yang membentuk kaldera di Indonesia terjadi dalam kurun relatif muda. Jepang juga punya letusan kaldera, yang termuda sekitar 10.000 tahun lalu. Di Indonesia, letusan kaldera termuda adalah Gunung Krakatau pada 1883, lalu Tambora pada 1815, dan Samalas di kompleks Rinjani pada abad ke-13.

Penelitian terbaru menunjukkan, letusan Samalas (1257) diduga lebih kuat daripada Tambora dan juga picu dampak global.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api PVMBG I Made Agung Nandaka mengatakan, hingga kini, gunung-gunung pembentuk kaldera di Indonesia itu masih aktif, termasuk Tambora. “Sesuai hukum alam, yang terjadi di masa lalu sangat mungkin terjadi lagi. Harus bersiap-siap,” ujarnya.

Adele Bear dari Geoscience Australia misalnya, mengungkap kelumpuhan global jika letusan Tambora berkekuatan seperti tahun 1815 terjadi lagi. Tiang letusan Tambora setinggi 43 kilometer dan abu letusannya menutupi sebagian besar atmosfer bisa menghentikan transportasi udara.

Surono mengatakan, setelah UU No 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana disahkan, paradigma mitigasi bencana dan pengurangan risiko bencana seharusnya prioritas. “Jika dulu reaktif, sekarang harus lebih fokus untuk mitigasi,” katanya.

Menurut ahli gunung api dari Kyoto University, Masato Iguchi, pemantauan dan ketersediaan alat hanya satu bagian dari mitigasi bencana gunung api. Kesiapan manusia juga vital. (AIK)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 14 April 2015, di halaman 14 dengan judul “Dua Abad Tambora Momentum Perbaikan”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB